alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Di Wagir,Toleransi Terlihat Saat Umat Hindu Menegur jika Ada Muslim Tak Tarawih

LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H

MALANG-Bangunan pura berukuran lumayan besar berdiri kokoh di Dukuh Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Tak jauh dari lokasi itu, juga di dukuh yang sama, juga berdiri masjid. Di tengah-tengah kedua tempat ibadah itu, berdiri sekolah Kristen.

Begitulah gambaran keberagaman di dukuh yang mayoritas umat Hindu tersebut. Namun, selama bertahun-tahun, nyaris tidak ada polemik atas nama agama. Semua saling menghargai. Sehingga kehidupan di sana begitu rukun. ”Itu sudah berlaku puluhan tahun,” ungkap Pemangku Pura Dharma Yasa, Suji Putro, ditemui kemarin. Saat bulan suci Ramadan seperti ini misalnya, menurut pria berusia 48 tahun itu, umat Hindu juga ikut menyemarakkan. Caranya dengan ikut berbuka bersama. Umat Hindu juga mempersilahkan warga muslim shalat tarawih dan membaca Al-quran dengan pengeras suara hingga lewat pukul 22.00. ”Walaupun tidak setiap hari, di Desa Sukodadi ini mengadakan buka bersama. Tapi di sini, kita saling menghormati,” imbuh dia.

Terkadang, umat Hindu juga ikut menegur warga muslim jika saat malam ada yang tidak shalat tarawih. Alasannya, sesama umat beragama juga memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan. Dia menjelaskan, walaupun cara sembahyangnya berbeda, tetapi bukanlah menjadi penghalang untuk saling mengingatkan supaya tetap patuh dan tunduk terhadap perintah Tuhan. Maka tidak ada yang salah jika mereka saling tegur menegur antarumat. “Kita sama-sama memiliki Tuhan, cuman caranya yang berbeda,” ungkapnya.

Tidak hanya di situ, ketika Hari Raya Idul Fitri, seluruh umat Hindu yang berada di Jamuran juga ikut membantu perayaan tersebut. Mereka ikut berbondong-bondong ke masjid dan berjaga setiap sudut jalan agar proses ibadah umat muslim berjalan lancar. ”Setelah itu, umat Hindu berjajar di pinggir jalan, lalu seluruh umat muslim di Masjid Sabilillah Sunan Bonang berjalan dan bersalaman,” kata dia.

SYIAR ISLAM: Ustad Mansur Arif mengajar anak-anak mengaji di Musala AtTaubah, Dukuh Jamuran, Desa Sukodadi,
Wagir.

Kenapa kerukunan itu bisa bertahan lama? Sebab, mereka mengedepankan nilai-nilai Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Sampai kapan pun mereka akan tetap menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan walaupun saat ini banyak isu yang mengarah kepada perpecahan. “Kami akan jaga itu. Desa ini berbeda dengan desa-desa yang lain,” katanya.

Salah satu pemuka agama Islam, Ustadz Mansur Arif menerangkan, selama ini, pihaknya menyebut belum pernah terjadi perselisihan apapun tentang perbedaan sudut pandang. Malahan di sana saling menjaga keamanan dan perdamaian setiap momentum hari besar. Salah satu contoh Hari Raya Nyepi. Mansur mengatakan, pada malam hari itu, justru umat Islam yang berkeliling mematikan lampulampu jalan. “Ya begitu, setiap hari raya Nyepi, kami yang muslim memakai pakaian adat bersalaman juga. Ikut tidak keluar rumah. Dan membantu memadamkan listrik,” ungkap ustadz sekaligus ketua Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR).

Mansur Arif menjelaskan, selain dirinya menyebarkan syiar keislaman di masjid, dia juga merangkul umat beragama itu masuk ke kelompoknya dengan mendirikan usaha bersama berupa puluhan sapi dan kambing. Usaha itu diberi nama Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). “Dulu di sini hutan, lalu saya modifikasi menjadi usaha bersama,” katanya. Dari situ, muslim bertambah hingga sampai sekarang. “Sampai sekarang saya membantu 130 orang bersyahadat. Mereka meminta ingin masuk Islam, saya rangkul dan membimbing dia,” ungkapnya.

Mansur memulai dakwah sosial keagamaan itu sejak 2009. Hatinya terpanggil melihat minimnya orang beragama Islam di Jamuran tersebut. “Sebagai muslim saya terpanggil, akhirnya saya memulai sedikit demi sekit,” ucapnya. Akhirnya, 2014 Mansur menjadi Ketua Ranting NU Sukodadi sampai sekarang dan mendirikan KTHR di 2014. “Saya kawal usaha ini, dan saya dijadikan ketua. Bismillah saya terima dan saya pilih sekretaris saya beragama Hindu. Kenapa? agar usaha ini beragam. Karena ini merupakan usaha rakyat. Dari situ juga banyak yang tertarik masuk Islam.

”Saat berkumpul, saya lakukan cara saya, diskusi dan mengobrol. Saya undang salah satu Gus Saiful Rizal dari Bululawang berkeliling di desa ini mengisi kajian keagamaan. Saya dakwahnya bagian sosial saja” lanjut dia. Di akhir wawancara, dia mengatakan, pihaknya tidak pernah mengajak dan memaksakan mereka memeluk agama Islam. Dia juga menghimbau untuk tetap menjaga kerukunan dan persatuan walaupun pihaknya memiliki perbedaan dalam pola ketuhanan. “Artinya nilai ini tetap akan kita kawal dan dijaga bersama-sama,” tutupnya. (abm)

Pewarta: Hanifuddin Muda

Fotografer : Darmono

LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H

MALANG-Bangunan pura berukuran lumayan besar berdiri kokoh di Dukuh Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Tak jauh dari lokasi itu, juga di dukuh yang sama, juga berdiri masjid. Di tengah-tengah kedua tempat ibadah itu, berdiri sekolah Kristen.

Begitulah gambaran keberagaman di dukuh yang mayoritas umat Hindu tersebut. Namun, selama bertahun-tahun, nyaris tidak ada polemik atas nama agama. Semua saling menghargai. Sehingga kehidupan di sana begitu rukun. ”Itu sudah berlaku puluhan tahun,” ungkap Pemangku Pura Dharma Yasa, Suji Putro, ditemui kemarin. Saat bulan suci Ramadan seperti ini misalnya, menurut pria berusia 48 tahun itu, umat Hindu juga ikut menyemarakkan. Caranya dengan ikut berbuka bersama. Umat Hindu juga mempersilahkan warga muslim shalat tarawih dan membaca Al-quran dengan pengeras suara hingga lewat pukul 22.00. ”Walaupun tidak setiap hari, di Desa Sukodadi ini mengadakan buka bersama. Tapi di sini, kita saling menghormati,” imbuh dia.

Terkadang, umat Hindu juga ikut menegur warga muslim jika saat malam ada yang tidak shalat tarawih. Alasannya, sesama umat beragama juga memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan. Dia menjelaskan, walaupun cara sembahyangnya berbeda, tetapi bukanlah menjadi penghalang untuk saling mengingatkan supaya tetap patuh dan tunduk terhadap perintah Tuhan. Maka tidak ada yang salah jika mereka saling tegur menegur antarumat. “Kita sama-sama memiliki Tuhan, cuman caranya yang berbeda,” ungkapnya.

Tidak hanya di situ, ketika Hari Raya Idul Fitri, seluruh umat Hindu yang berada di Jamuran juga ikut membantu perayaan tersebut. Mereka ikut berbondong-bondong ke masjid dan berjaga setiap sudut jalan agar proses ibadah umat muslim berjalan lancar. ”Setelah itu, umat Hindu berjajar di pinggir jalan, lalu seluruh umat muslim di Masjid Sabilillah Sunan Bonang berjalan dan bersalaman,” kata dia.

SYIAR ISLAM: Ustad Mansur Arif mengajar anak-anak mengaji di Musala AtTaubah, Dukuh Jamuran, Desa Sukodadi,
Wagir.

Kenapa kerukunan itu bisa bertahan lama? Sebab, mereka mengedepankan nilai-nilai Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Sampai kapan pun mereka akan tetap menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan walaupun saat ini banyak isu yang mengarah kepada perpecahan. “Kami akan jaga itu. Desa ini berbeda dengan desa-desa yang lain,” katanya.

Salah satu pemuka agama Islam, Ustadz Mansur Arif menerangkan, selama ini, pihaknya menyebut belum pernah terjadi perselisihan apapun tentang perbedaan sudut pandang. Malahan di sana saling menjaga keamanan dan perdamaian setiap momentum hari besar. Salah satu contoh Hari Raya Nyepi. Mansur mengatakan, pada malam hari itu, justru umat Islam yang berkeliling mematikan lampulampu jalan. “Ya begitu, setiap hari raya Nyepi, kami yang muslim memakai pakaian adat bersalaman juga. Ikut tidak keluar rumah. Dan membantu memadamkan listrik,” ungkap ustadz sekaligus ketua Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR).

Mansur Arif menjelaskan, selain dirinya menyebarkan syiar keislaman di masjid, dia juga merangkul umat beragama itu masuk ke kelompoknya dengan mendirikan usaha bersama berupa puluhan sapi dan kambing. Usaha itu diberi nama Kelompok Tani Hutan Rakyat (KTHR). “Dulu di sini hutan, lalu saya modifikasi menjadi usaha bersama,” katanya. Dari situ, muslim bertambah hingga sampai sekarang. “Sampai sekarang saya membantu 130 orang bersyahadat. Mereka meminta ingin masuk Islam, saya rangkul dan membimbing dia,” ungkapnya.

Mansur memulai dakwah sosial keagamaan itu sejak 2009. Hatinya terpanggil melihat minimnya orang beragama Islam di Jamuran tersebut. “Sebagai muslim saya terpanggil, akhirnya saya memulai sedikit demi sekit,” ucapnya. Akhirnya, 2014 Mansur menjadi Ketua Ranting NU Sukodadi sampai sekarang dan mendirikan KTHR di 2014. “Saya kawal usaha ini, dan saya dijadikan ketua. Bismillah saya terima dan saya pilih sekretaris saya beragama Hindu. Kenapa? agar usaha ini beragam. Karena ini merupakan usaha rakyat. Dari situ juga banyak yang tertarik masuk Islam.

”Saat berkumpul, saya lakukan cara saya, diskusi dan mengobrol. Saya undang salah satu Gus Saiful Rizal dari Bululawang berkeliling di desa ini mengisi kajian keagamaan. Saya dakwahnya bagian sosial saja” lanjut dia. Di akhir wawancara, dia mengatakan, pihaknya tidak pernah mengajak dan memaksakan mereka memeluk agama Islam. Dia juga menghimbau untuk tetap menjaga kerukunan dan persatuan walaupun pihaknya memiliki perbedaan dalam pola ketuhanan. “Artinya nilai ini tetap akan kita kawal dan dijaga bersama-sama,” tutupnya. (abm)

Pewarta: Hanifuddin Muda

Fotografer : Darmono

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/