alexametrics
21 C
Malang
Wednesday, 10 August 2022

Pedagang Anggap Aplikasi Migor Bikin Tambah Ruwet

KABUPATEN – Rencana penggunaan aplikasi tak hanya untuk membeli BBM subsidi jenis Pertalite saja. Warga   yang ingin membeli minyak goreng curah wajib memiliki aplikasi PeduliLindungi. Sementara penjual migor curah juga wajib terdaftar dalam aplikasi Simirah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi menyatakan, ketentuan  tersebut sudah dijalankan. ” Sesuai edaran menteri perdagangan, beli migor curah harus dengan aplikasi PeduliLindungi. Kebijakan tersebut mulai berlaku 27 Juni,” ucapnya. Ia melanjutkan, sejak berlaku 27 Juni lalu, pihaknya menyosialisasikan kepada pembeli dan pedagang tentang mekanisme pembelian dan penjualan migor curah tersebut.

Menurut Dewi, para pengecer migor curah juga wajib mendaftar lewat aplikasi Simirah (sistem informasi minyak goreng curah) terlebih dahulu. Setelah terdaftar, pedagang baru bisa mendapatkan jatah  migor cvurah dari distributor setiap harinya.” Jika tidak mendaftar di aplikasi itu maka pengecer tidak mendapat pasokan minyak curah,” ujar dia.

Sosialisasi penjualan dan pembelian minyak curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi akan dilakukan hingga 10 Juli mendatang. Dengan cara ini, masyarakat bisa mendapatkan minyak goreng curah harga subsidi senilai Rp 14 ribu per liter atau Rp 15.500 per kilogram.  “Nanti pengecer yang telah terdaftar di aplikasi Simirah akan dapat QR code PeduliLindungi. Jadi kalau ada pembeli, nanti mereka scan itu Qr code di toko. Kalau warna merah, tidak boleh dikasih. Kalau warna hijau berarti bisa beli,” ungkapnya.

Namun bagi pembeli yang tidak memiliki smartphone atau aplikasi PeduliLindungi, mereka bisa menggunakan KTP fisik. Nantinya, pengecer yang akan mencatat data pembeli.

Menanggapi hal itu, salah satu penjual toko kelontong Pasar Pakisaji Kabupaten Malang Istirohani mengaku baru tahu informasi tersebut. Dia juga belum terdaftar di aplikasi Simirah. “Saya sudah tua, jika tidak terdaftar terus tidak dapat minyak, saya jualan apa? Jangan aneh-aneh lah Pemerintah,” ucapnya.

Sementara Sumarni, penjual di toko kelontong di pasar Pakisaji mengetahui akan aturan tersebut. Namun dia mengaku gaptek (gagap teknologi) jika harus menggunakan aplikasi agar bisa berjualan migor curah. “Ruwet dengan adanya aturan baru. Semoga tidak berlaku di Malang,” tutupnya. (nif/nay)

KABUPATEN – Rencana penggunaan aplikasi tak hanya untuk membeli BBM subsidi jenis Pertalite saja. Warga   yang ingin membeli minyak goreng curah wajib memiliki aplikasi PeduliLindungi. Sementara penjual migor curah juga wajib terdaftar dalam aplikasi Simirah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Mahila Surya Dewi menyatakan, ketentuan  tersebut sudah dijalankan. ” Sesuai edaran menteri perdagangan, beli migor curah harus dengan aplikasi PeduliLindungi. Kebijakan tersebut mulai berlaku 27 Juni,” ucapnya. Ia melanjutkan, sejak berlaku 27 Juni lalu, pihaknya menyosialisasikan kepada pembeli dan pedagang tentang mekanisme pembelian dan penjualan migor curah tersebut.

Menurut Dewi, para pengecer migor curah juga wajib mendaftar lewat aplikasi Simirah (sistem informasi minyak goreng curah) terlebih dahulu. Setelah terdaftar, pedagang baru bisa mendapatkan jatah  migor cvurah dari distributor setiap harinya.” Jika tidak mendaftar di aplikasi itu maka pengecer tidak mendapat pasokan minyak curah,” ujar dia.

Sosialisasi penjualan dan pembelian minyak curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi akan dilakukan hingga 10 Juli mendatang. Dengan cara ini, masyarakat bisa mendapatkan minyak goreng curah harga subsidi senilai Rp 14 ribu per liter atau Rp 15.500 per kilogram.  “Nanti pengecer yang telah terdaftar di aplikasi Simirah akan dapat QR code PeduliLindungi. Jadi kalau ada pembeli, nanti mereka scan itu Qr code di toko. Kalau warna merah, tidak boleh dikasih. Kalau warna hijau berarti bisa beli,” ungkapnya.

Namun bagi pembeli yang tidak memiliki smartphone atau aplikasi PeduliLindungi, mereka bisa menggunakan KTP fisik. Nantinya, pengecer yang akan mencatat data pembeli.

Menanggapi hal itu, salah satu penjual toko kelontong Pasar Pakisaji Kabupaten Malang Istirohani mengaku baru tahu informasi tersebut. Dia juga belum terdaftar di aplikasi Simirah. “Saya sudah tua, jika tidak terdaftar terus tidak dapat minyak, saya jualan apa? Jangan aneh-aneh lah Pemerintah,” ucapnya.

Sementara Sumarni, penjual di toko kelontong di pasar Pakisaji mengetahui akan aturan tersebut. Namun dia mengaku gaptek (gagap teknologi) jika harus menggunakan aplikasi agar bisa berjualan migor curah. “Ruwet dengan adanya aturan baru. Semoga tidak berlaku di Malang,” tutupnya. (nif/nay)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/