alexametrics
22.9 C
Malang
Thursday, 7 July 2022

Mantan Montir Banting Setir Jadi Petani Ganja, Auto Diciduk Polisi

MALANG – Seorang montir harus rela mendekam di balik jeruji penjara karena terbukti menanam ganja dan memperjualbelikannya. Aksi TB, 30, berbisnis ganja pun kandas tatkala digerebek petugas kepolisian saat melakukan transaksi jual beli di Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Dari hasil penangkapan itu, polisi menyita 56 pohon ganja.

“Dia (TB) melakukan transaksi penjualan ganja di wilayah Pakis dan diketahui oleh rekan-rekan lapangan narkotika. Kemudian dilakukan penangkapan Rabu (1/9) pagi. Ditemukan dua paket ranting, daun, dan biji ganja dalam keadaan kering,” tutur Kapolres Malang AKBP R. Bagoes Wibisono kemarin (3/9).

Dari hasil interogasi polisi, TB mengaku menanam ganja di ladang miliknya, di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang. “Hasil interogasi, daun ganja ini didapatkan dari seseorang bernama JW pada saat TB kerja di Bali. Pelaku membeli daun, ranting, dan biji kemudian dicoba menanam dan berhasil,” tambahnya.

Dalam aksinya, TB sudah berkali-kali melakukan jual beli ganja dan meraup keuntungan Rp 2 juta. Harga per paketnya Rp 700 ribu. Hingga kini, Polres Malang melakukan pendalaman lebih lanjut mengenai pelaku lain dalam kasus ini.

“TB berencana mengedarkan ganja ini di wilayah Pakis, tapi langsung ketahuan oleh Satreskoba. Kasus ini baru pertama kalinya kita menemukan ganja bisa tumbuh subur di wilayah Jawa Timur,” katanya.

Sementara itu, tersangka TB mengaku menjadi petani ganja sejak Juni lalu akibat pandemi. “Saya menanam ganja di rumah sambil bertani sejak Juni lalu. Aslinya saya montir di Bali, karena sepi ya pulang ke Jawa,” kata TB.(cj9/dan/rmc)

MALANG – Seorang montir harus rela mendekam di balik jeruji penjara karena terbukti menanam ganja dan memperjualbelikannya. Aksi TB, 30, berbisnis ganja pun kandas tatkala digerebek petugas kepolisian saat melakukan transaksi jual beli di Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Dari hasil penangkapan itu, polisi menyita 56 pohon ganja.

“Dia (TB) melakukan transaksi penjualan ganja di wilayah Pakis dan diketahui oleh rekan-rekan lapangan narkotika. Kemudian dilakukan penangkapan Rabu (1/9) pagi. Ditemukan dua paket ranting, daun, dan biji ganja dalam keadaan kering,” tutur Kapolres Malang AKBP R. Bagoes Wibisono kemarin (3/9).

Dari hasil interogasi polisi, TB mengaku menanam ganja di ladang miliknya, di Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang. “Hasil interogasi, daun ganja ini didapatkan dari seseorang bernama JW pada saat TB kerja di Bali. Pelaku membeli daun, ranting, dan biji kemudian dicoba menanam dan berhasil,” tambahnya.

Dalam aksinya, TB sudah berkali-kali melakukan jual beli ganja dan meraup keuntungan Rp 2 juta. Harga per paketnya Rp 700 ribu. Hingga kini, Polres Malang melakukan pendalaman lebih lanjut mengenai pelaku lain dalam kasus ini.

“TB berencana mengedarkan ganja ini di wilayah Pakis, tapi langsung ketahuan oleh Satreskoba. Kasus ini baru pertama kalinya kita menemukan ganja bisa tumbuh subur di wilayah Jawa Timur,” katanya.

Sementara itu, tersangka TB mengaku menjadi petani ganja sejak Juni lalu akibat pandemi. “Saya menanam ganja di rumah sambil bertani sejak Juni lalu. Aslinya saya montir di Bali, karena sepi ya pulang ke Jawa,” kata TB.(cj9/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/