alexametrics
22 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Ajari Kades dan Perangkat Desa Kabupaten Malang Kenali Cukai Palsu

RADAR MALANG – Sejatinya, pemalsuan pita cukai rokok sangat sulit dilakukan. Karena desainnya dibuat sangat detail dengan ciri-ciri rumit. Namun tetap saja, peredaran rokok ilegal sulit dibendung. Dan inilah yang terus diperangi oleh Pemkab Malang melalui jargon Gempur Rokok Ilegal.

Salah satu upaya mencegah pemalsuan pita cukai rokok adalah dengan membuat desain yang berbeda setiap tahunnya. Tahun ini, desain pita cukai mengangkat tentang biota laut sebagai manisfestasi Indonesia sebagai negara maritim. “Ada 11 unsur dalam pita cukai. Jika kurang dari itu, maka bisa dipastikan palsu,” ungkap Avanadtya Wahyu Agung, pelaksana pemeriksa Kantor Bea Cukai Madya Malang saat memberikan materi tentang identifikasi pita cukai rokok di Ascent Hotel Premier, kemarin (3/11).

Paparan tersebut disampaikan kepada 100 peserta Sosialisasi Ketentuan di Bidang Cukai oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Malang. Sosialisasi dalam rangka memerangi peredaran rokok ilegal itu digelar selama dua hari, 2-3 November. Dari 11 unsur dalam pita cukai tersebut, lanjut Avanadya, di antaranya terdapat lambang negara RI, lambang bea dan cukai, tarif cukai, angka tahun anggaran, harga jual eceran, teks Indonesia, teks hasil cukai tembakau, hingga isi kemasan.

Ada tiga cara untuk mengidentifikasi keaslian pita cukai rokok tersebut. Yakni dilihat dengan kasat mata, menggunakan kaca pembesar, serta dengan sinar UV (ultraviolet). Dari kasat mata, kertas yang digunakan berbeda dengan kertas pada umumnya. Begitu pula dengan warna dasar dengan serat-serat kecil berwarna biru. Terdapat pula hologram dengan warna dasar hijau coklat dan ada speckel pattern berbentuk huruf Z.

“Banyak yang mencetak sendiri, tapi sangat berbeda dan susah ditempel. Akhirnya, para pelaku rokok illegal memilih mengedarkan rokok putihan,” ujarnya panjang lebar. Selain Avanadya, tim Kantor Bea Cukai Malang yang memberikan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dan pengawasan rokok adalah Tri Murni Handayani, Syaiful Anan, serta Ardi Ashari.

Sementara itu, Wakil Bupati Malang Drs H Didik Gatot Subroto SH MH yang membuka sosialisasi pada Selasa (2/11) sore menjelaskan, ada beberapa alasan yang membuat pemerintah terus beru paya menggempur peredaran rokok ilegal. Di samping merugikan negara, kualitas rokok ilegal juga tidak terjamin. Sehingga berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Untuk itu, dia meminta kepada seluruh warga, khususnya peserta sosialisasi, agar turut andil dalam upaya menumpas beredarnya barang kena cukai ini. Caranya, dengan tidak membeli dan mengedarkan rokok ilegal. ”Jika mengetahui praktik rokok illegal, masyarakat bisa melaporkan kepada perangkat atau kepala desa, kemudian akan diteruskan kepada kepolisian dan kantor Bea Cukai Malang,” ucap dia.

Saat ini di Malang Raya, menurut Didik, ada sekitar 112 pabrik rokok legal dengan 90 persen di antaranya berada di Kabupaten Malang. Jika yang ilegal terus dibiarkan, dia khawatir produsen rokok legal akan melakukan protes terhadap pemerintah.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Bea Cukai Type Madya Malang Gunawan Tri Wibowo menerangkan, selain mengedukasi warga terkait bahaya rokok ilegal, bersama Pemkab Malang pihaknya terus menggodok pembentukan kawasan industri hasil tembakau di Kabupaten Malang. Sehingga para produsen rokok ilegal nantinya bisa men dapatkan ruang agar produksi rokok mereka menjadi legal. ”Ini masih berproses. Dengan kawasan industri tersebut harapannya nanti yang ilegal itu naik kelas menjadi legal,” kata Gunawan. (fik/nen/rmc)

RADAR MALANG – Sejatinya, pemalsuan pita cukai rokok sangat sulit dilakukan. Karena desainnya dibuat sangat detail dengan ciri-ciri rumit. Namun tetap saja, peredaran rokok ilegal sulit dibendung. Dan inilah yang terus diperangi oleh Pemkab Malang melalui jargon Gempur Rokok Ilegal.

Salah satu upaya mencegah pemalsuan pita cukai rokok adalah dengan membuat desain yang berbeda setiap tahunnya. Tahun ini, desain pita cukai mengangkat tentang biota laut sebagai manisfestasi Indonesia sebagai negara maritim. “Ada 11 unsur dalam pita cukai. Jika kurang dari itu, maka bisa dipastikan palsu,” ungkap Avanadtya Wahyu Agung, pelaksana pemeriksa Kantor Bea Cukai Madya Malang saat memberikan materi tentang identifikasi pita cukai rokok di Ascent Hotel Premier, kemarin (3/11).

Paparan tersebut disampaikan kepada 100 peserta Sosialisasi Ketentuan di Bidang Cukai oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Malang. Sosialisasi dalam rangka memerangi peredaran rokok ilegal itu digelar selama dua hari, 2-3 November. Dari 11 unsur dalam pita cukai tersebut, lanjut Avanadya, di antaranya terdapat lambang negara RI, lambang bea dan cukai, tarif cukai, angka tahun anggaran, harga jual eceran, teks Indonesia, teks hasil cukai tembakau, hingga isi kemasan.

Ada tiga cara untuk mengidentifikasi keaslian pita cukai rokok tersebut. Yakni dilihat dengan kasat mata, menggunakan kaca pembesar, serta dengan sinar UV (ultraviolet). Dari kasat mata, kertas yang digunakan berbeda dengan kertas pada umumnya. Begitu pula dengan warna dasar dengan serat-serat kecil berwarna biru. Terdapat pula hologram dengan warna dasar hijau coklat dan ada speckel pattern berbentuk huruf Z.

“Banyak yang mencetak sendiri, tapi sangat berbeda dan susah ditempel. Akhirnya, para pelaku rokok illegal memilih mengedarkan rokok putihan,” ujarnya panjang lebar. Selain Avanadya, tim Kantor Bea Cukai Malang yang memberikan sosialisasi ketentuan di bidang cukai dan pengawasan rokok adalah Tri Murni Handayani, Syaiful Anan, serta Ardi Ashari.

Sementara itu, Wakil Bupati Malang Drs H Didik Gatot Subroto SH MH yang membuka sosialisasi pada Selasa (2/11) sore menjelaskan, ada beberapa alasan yang membuat pemerintah terus beru paya menggempur peredaran rokok ilegal. Di samping merugikan negara, kualitas rokok ilegal juga tidak terjamin. Sehingga berbahaya bagi kesehatan masyarakat.

Untuk itu, dia meminta kepada seluruh warga, khususnya peserta sosialisasi, agar turut andil dalam upaya menumpas beredarnya barang kena cukai ini. Caranya, dengan tidak membeli dan mengedarkan rokok ilegal. ”Jika mengetahui praktik rokok illegal, masyarakat bisa melaporkan kepada perangkat atau kepala desa, kemudian akan diteruskan kepada kepolisian dan kantor Bea Cukai Malang,” ucap dia.

Saat ini di Malang Raya, menurut Didik, ada sekitar 112 pabrik rokok legal dengan 90 persen di antaranya berada di Kabupaten Malang. Jika yang ilegal terus dibiarkan, dia khawatir produsen rokok legal akan melakukan protes terhadap pemerintah.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Bea Cukai Type Madya Malang Gunawan Tri Wibowo menerangkan, selain mengedukasi warga terkait bahaya rokok ilegal, bersama Pemkab Malang pihaknya terus menggodok pembentukan kawasan industri hasil tembakau di Kabupaten Malang. Sehingga para produsen rokok ilegal nantinya bisa men dapatkan ruang agar produksi rokok mereka menjadi legal. ”Ini masih berproses. Dengan kawasan industri tersebut harapannya nanti yang ilegal itu naik kelas menjadi legal,” kata Gunawan. (fik/nen/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/