alexametrics
22.1 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Kembalikan Marwah Desa Taji Sebagai Wisata Kopi Terbaik

Nama Desa Taji, Kecamatan Jabung, satu tahun  ini mendadak viral. Ini salah satunya berkat tangan kreatif M. Syukron Mahmud yang berhasil mendirikan Kedai Kopi Taji. Lokasinya di Lereng Gunung Bromo. Selain menjual panorama perbukitan nan indah, cita rasa kopi di sana juga khas dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.

ACHMAD FIKYANSYAH

Jika bukan penikmat kopi sejati atau penghobi adventure, barangkali enggan datang ke Kedai Kopi Taji. Sebab menuju ke sana, butuh “perjuangan”. Lokasinya berada di salah satu desa paling tinggi di Kabupaten Malang. Butuh waktu setidaknya satu jam perjalanan dari Kota Malang ke arah Jabung. Jalan yang dilalui relatif beraspal mulus. Hanya banyak tanjakan dengan kanan-kiri jurang yang cukup dalam. Pengedara harus ekstra hati-hati. Namun begitu sampai di Kedai Kopi Taji barangkali pengunjung akan lega. Karena akan disambut view yang indah. Udaranya sejuk. Apalagi suguhan aroma kopi hasil panen petani desa tersebut. Pengunjung juga bisa memetik kopi langsung dari ladang.

Di sekitar kedai, terhampar kebun kopi. Salah satunya kebun milik keluarg Syukron Mahmud. Untuk ke lokasi ladang tersebut harus melalui jalan setapak. Medannya menurun terjal. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman. Berjarak sekitar 1 kilometer. Jalan tersebut juga hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Lahan tersebut sudah 15 tahun ditanami kopi. Syukron dan keluarganya bisa dibilang pionir petani kopi. Sebab saat mulai menanam, potensi kopi di sana sudah hampir punah. Padahal, di era 1970-an, Desa Taji terkenal dengan sentra kopi.

Syukron awalnya hanya sekadar membantu pekerjaan ayahnya, Kambang, merawat pohon kopi. Mulai memotong ranting, membersihkan rumput liar, memetik biji kopi pada saat panen, dan menggotong hasil kebunnya ke pengepul untuk dijual. Saat itu dia juga menanam sendiri 10 pohon kopi.

Berawal dari situlah, timbul keinginan dari Syukron secara pribadi untuk mengembalikan marwah tanah kelahirannya sebagai penghasil kopi. Hal ini juga didukung keinginan orang tuanya yang menginginkan agar putranya lebih serius mengelola perkebunan kopi. Ayahnya memutuskan untuk memasrahkan lahan sekitar 1 hektar untuk dia kelola dan ditanami kopi. Dari situlah, dia mulai serius untuk mengembangkan lahan kopi miliknya.

Dari situ pula, dia berkomitmen untuk bisa mengenalkan nama desanya dengan potensi kopi Taji yang mereka punya. Beberapa orang orang mulai dia ajak kembali berbisnis kopi. Dengan menanam kopi di lahan yang mereka punya. Namun kebanyakan masyarakat sudah terlena dengan tanaman sayur. Mulai kentang, kubis, dan wortel.  Kala itu warga menganggap sayuran lebih menguntungkan ketimbang kopi. Namun dia tak patah semangat di situ.

Kopi hitam hasil produksi asli dari Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini sudah menjadi magnet kopimania di Malang Raya. (Darmono/Radar Malang)

Seiring berjalannya waktu, Syukron mulai belajar beberapa hal baru yang kaitannya dengan pengolahan kopi. Dari biji kopi yang hasil panen sendiri, dia mencoba membuat sebuah racikan yang wujudnya jadi segelas kopi hitam. Beberapa orang pun terlibat dalam prosesnya. Seperti komunitas kopi yang dia ikuti. Pria kelahiran 3 April 1996 itu juga mulai aktif mengikuti beberapa ajang  pameran kopi. Hingga dia berhasil menyabet juara 3 cita rasa kopi se-Jawa Timur tahun 2018.

Berbekal pengalaman tersebut, tahun 2019 dia mulai membuka usaha Kedai Kopi Taji. Perlahan eksistensi Kopi Taji juga mulai melambung kembali. Masyarakat sekitar juga mulai melirik apa yang dihasilkan oleh Syukron. Dan akhirnya banyak warga mau berkecimpung lagi di bisnis perkebunan kopi. “Sudah ada 50 orang lebih yang berhasil saya ajak menanam kopi,” ucapnya.

Keberhasilan mengembalikan kejayaan Kopi Taji ini juga tak lepas dari turut serta anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Taji Heri Purnomo. Keduanya punya visi sama: membawa potensi desa mereka go national dan go international. Hal itu kini telah terwujud. Kopi Taji yang awalnya hanya mampu memasok daerah lokal, kini distribusinya sudah mampu menembus pasar luar negeri. Tepatnya di negara Singapura. Beberapa daerah di Indonesia juga intens melakukan transaksi kopi Taji. “Terbanyak di Jakarta,” kata dia.

Kini dia bersama dengan beberapa tokoh lainnya, terus mengembangkan potensi kopi yang ada di desanya. Bahkan saat ini orang rela membayar Rp 75 ribu untuk mengikuti wisata edukasi kopi di sana. Penjualan hasil kopi juga dilakukan secara satu pintu. Dikoordinir dalam sebuah organisasi yang fokus untuk memasarkan produk desanya. Dia mengatakan, meski sudah banyak yang kembali berkebun kopi, namun masyarakat di sana juga masih tetap menekuni budidaya sayur. Namun saat ini penghasilan dari kopi lebih menjanjikan dari pada sayur. “Penghasilan per tahun mereka 3 kali lipat lebih besar dengan berbisnis kopi daripada sayuran,” ujarnya.

Dia berharap, kebangkitan kopi Taji bisa dan meningkatnya minat masyarakat untuk menanam kopi ini bisa terus bertahan. Menurutnya, kopi Taji memang punya cita rasa khas sendiri jika dibanding dengan kopi hasil daerah lain. Saat ini sudah ada sekitar 50 hektar lahan warga yang ditanami kopi. Di berharap, masyarakat bisa saling bahu-membahu mengembangkan potensi daerah yang akan menjadi satu jalan untuk mensejahterakan warga lokal.

Kesuksesan Syukron ini membuat dia pada Juni 2021 dinobatkan sebagai  Pemuda Pelopor oleh oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur.  Dari situ, dia akhirnya menjadi satu-satunya dari Jatim untuk maju dalam ajang Pemuda Pelopor tingkat nasional. Dan dan pada Oktober lalu dinyatakan sebagai juara satu Pemuda Pelopor Bidang Pangan Tingkat Nasional 2021. (abm/rmc)

Nama Desa Taji, Kecamatan Jabung, satu tahun  ini mendadak viral. Ini salah satunya berkat tangan kreatif M. Syukron Mahmud yang berhasil mendirikan Kedai Kopi Taji. Lokasinya di Lereng Gunung Bromo. Selain menjual panorama perbukitan nan indah, cita rasa kopi di sana juga khas dan tidak bisa ditemukan di tempat lain.

ACHMAD FIKYANSYAH

Jika bukan penikmat kopi sejati atau penghobi adventure, barangkali enggan datang ke Kedai Kopi Taji. Sebab menuju ke sana, butuh “perjuangan”. Lokasinya berada di salah satu desa paling tinggi di Kabupaten Malang. Butuh waktu setidaknya satu jam perjalanan dari Kota Malang ke arah Jabung. Jalan yang dilalui relatif beraspal mulus. Hanya banyak tanjakan dengan kanan-kiri jurang yang cukup dalam. Pengedara harus ekstra hati-hati. Namun begitu sampai di Kedai Kopi Taji barangkali pengunjung akan lega. Karena akan disambut view yang indah. Udaranya sejuk. Apalagi suguhan aroma kopi hasil panen petani desa tersebut. Pengunjung juga bisa memetik kopi langsung dari ladang.

Di sekitar kedai, terhampar kebun kopi. Salah satunya kebun milik keluarg Syukron Mahmud. Untuk ke lokasi ladang tersebut harus melalui jalan setapak. Medannya menurun terjal. Lokasinya cukup jauh dari pemukiman. Berjarak sekitar 1 kilometer. Jalan tersebut juga hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Lahan tersebut sudah 15 tahun ditanami kopi. Syukron dan keluarganya bisa dibilang pionir petani kopi. Sebab saat mulai menanam, potensi kopi di sana sudah hampir punah. Padahal, di era 1970-an, Desa Taji terkenal dengan sentra kopi.

Syukron awalnya hanya sekadar membantu pekerjaan ayahnya, Kambang, merawat pohon kopi. Mulai memotong ranting, membersihkan rumput liar, memetik biji kopi pada saat panen, dan menggotong hasil kebunnya ke pengepul untuk dijual. Saat itu dia juga menanam sendiri 10 pohon kopi.

Berawal dari situlah, timbul keinginan dari Syukron secara pribadi untuk mengembalikan marwah tanah kelahirannya sebagai penghasil kopi. Hal ini juga didukung keinginan orang tuanya yang menginginkan agar putranya lebih serius mengelola perkebunan kopi. Ayahnya memutuskan untuk memasrahkan lahan sekitar 1 hektar untuk dia kelola dan ditanami kopi. Dari situlah, dia mulai serius untuk mengembangkan lahan kopi miliknya.

Dari situ pula, dia berkomitmen untuk bisa mengenalkan nama desanya dengan potensi kopi Taji yang mereka punya. Beberapa orang orang mulai dia ajak kembali berbisnis kopi. Dengan menanam kopi di lahan yang mereka punya. Namun kebanyakan masyarakat sudah terlena dengan tanaman sayur. Mulai kentang, kubis, dan wortel.  Kala itu warga menganggap sayuran lebih menguntungkan ketimbang kopi. Namun dia tak patah semangat di situ.

Kopi hitam hasil produksi asli dari Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ini sudah menjadi magnet kopimania di Malang Raya. (Darmono/Radar Malang)

Seiring berjalannya waktu, Syukron mulai belajar beberapa hal baru yang kaitannya dengan pengolahan kopi. Dari biji kopi yang hasil panen sendiri, dia mencoba membuat sebuah racikan yang wujudnya jadi segelas kopi hitam. Beberapa orang pun terlibat dalam prosesnya. Seperti komunitas kopi yang dia ikuti. Pria kelahiran 3 April 1996 itu juga mulai aktif mengikuti beberapa ajang  pameran kopi. Hingga dia berhasil menyabet juara 3 cita rasa kopi se-Jawa Timur tahun 2018.

Berbekal pengalaman tersebut, tahun 2019 dia mulai membuka usaha Kedai Kopi Taji. Perlahan eksistensi Kopi Taji juga mulai melambung kembali. Masyarakat sekitar juga mulai melirik apa yang dihasilkan oleh Syukron. Dan akhirnya banyak warga mau berkecimpung lagi di bisnis perkebunan kopi. “Sudah ada 50 orang lebih yang berhasil saya ajak menanam kopi,” ucapnya.

Keberhasilan mengembalikan kejayaan Kopi Taji ini juga tak lepas dari turut serta anggota Bintara Pembina Desa (Babinsa) Desa Taji Heri Purnomo. Keduanya punya visi sama: membawa potensi desa mereka go national dan go international. Hal itu kini telah terwujud. Kopi Taji yang awalnya hanya mampu memasok daerah lokal, kini distribusinya sudah mampu menembus pasar luar negeri. Tepatnya di negara Singapura. Beberapa daerah di Indonesia juga intens melakukan transaksi kopi Taji. “Terbanyak di Jakarta,” kata dia.

Kini dia bersama dengan beberapa tokoh lainnya, terus mengembangkan potensi kopi yang ada di desanya. Bahkan saat ini orang rela membayar Rp 75 ribu untuk mengikuti wisata edukasi kopi di sana. Penjualan hasil kopi juga dilakukan secara satu pintu. Dikoordinir dalam sebuah organisasi yang fokus untuk memasarkan produk desanya. Dia mengatakan, meski sudah banyak yang kembali berkebun kopi, namun masyarakat di sana juga masih tetap menekuni budidaya sayur. Namun saat ini penghasilan dari kopi lebih menjanjikan dari pada sayur. “Penghasilan per tahun mereka 3 kali lipat lebih besar dengan berbisnis kopi daripada sayuran,” ujarnya.

Dia berharap, kebangkitan kopi Taji bisa dan meningkatnya minat masyarakat untuk menanam kopi ini bisa terus bertahan. Menurutnya, kopi Taji memang punya cita rasa khas sendiri jika dibanding dengan kopi hasil daerah lain. Saat ini sudah ada sekitar 50 hektar lahan warga yang ditanami kopi. Di berharap, masyarakat bisa saling bahu-membahu mengembangkan potensi daerah yang akan menjadi satu jalan untuk mensejahterakan warga lokal.

Kesuksesan Syukron ini membuat dia pada Juni 2021 dinobatkan sebagai  Pemuda Pelopor oleh oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jawa Timur.  Dari situ, dia akhirnya menjadi satu-satunya dari Jatim untuk maju dalam ajang Pemuda Pelopor tingkat nasional. Dan dan pada Oktober lalu dinyatakan sebagai juara satu Pemuda Pelopor Bidang Pangan Tingkat Nasional 2021. (abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/