alexametrics
23.5 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Pasca Jadi Tempat Pembunuhan, Rumah Kosong Gondanglegi Makin Angker

KABUPATEN – Ali Muddin, 38, warga Desa Karangsuko, Kecamatan Gondanglegi ini tega membunuh mantan istrinya, Wiwik Lestari, 30, warga Dusun Dieng, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, dengan cara sadis. Dicekik hingga nyawa mantan istrinya itu melayang di sebuah rumah kosong.

Padahal, Ali Muddin dan Wiwik baru saja bercerai pada 18 Mei 2021 lalu. Pembunuhan itu terjadi di sebuah rumah kosong Dusun Krajan, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kamis petang (3/6).

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar menjelaskan, sesaat usai membunuh, pelaku langsung menyerahkan diri ke pihak kepolisian. Kemarin (4/6) yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan intensif di Unit II Tipiter Satreskrim Polres Malang.

Secara detail, Hendri Umar membeberkan bahwa awal mula kasus tersebut terjadi ketika mereka pergi keluar berdua. Alasannya, Ali Muddin ingin membelikan kue anak yang saat ini diasuh oleh Wiwik.

”Pelaku menjemput korban di rumah orang tuanya. Setelah itu, mereka pergi berdua dan akhirnya berhenti di rumah kosong itu sekitar pukul 17.00. Ternyata, rumah itu adalah milik kerabat pelaku. Makanya dia bisa masuk ke rumah tersebut,” ujarnya.

Sebelum kejadian itu, keduanya sempat cekcok. Pemicunya, pelaku mencurigai korban sedang punya hubungan dengan pria lain. Ali Muddin mencoba mendesak korban untuk mengakui jika ada hubungan khusus dengan pria lain. Namun, Wiwik bersikukuh membantah dan tidak mengaku. Inilah yang membuat Ali Muddin kalap.

Dia emosi. Tak kuat menahan amarah, pelaku pun akhirnya mencekik leher korban sekitar pukul 17.21. ”Mereka bertengkar. Dari adu mulut sampai baku pukul. Lalu, pelaku mencekik korban. Dari situlah korban duduk tak berdaya. Korban akhirnya tewas,” lanjut Hendri.

Dari keterangan pihak kepolisian, Ali dan Wiwik mempunyai dua orang anak yang masih kecil. Hal itulah yang menjadi alasan keduanya masih sering pergi berdua meski sudah bercerai.

”Jadi mereka berdua ini alasan hendak membelikan kue anaknya. Makanya masih sering jalan berdua,” tutur mantan Kasubag Bungkol Spripim (Staf Pribadi Pimpinan) Polri itu.

Korban diketahui meninggal dengan bekas luka cekikan. Selain itu, dari hasil identifikasi Tim Inafis Satreskrim Polres Malang, korban mengalami luka lebam bekas pukulan tangan di bagian tubuhnya. Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Di sisi lain, Ketua RT 30/RW 2 Desa Gondanglegi Kulon Mujiono menjelaskan, rumah kosong yang menjadi TKP pembunuhan tersebut memang baru selesai dibangun dan memang belum pernah ada seseorang atau keluarga yang tinggal di sana.

”Pemiliknya bukan orang sini. Itu selesai dibangun sekitar tiga bulan. Sesekali saja pemiliknya datang, mungkin untuk menengok,” ucapnya.

Terkait sosok Ali Muddin, Mujiono mengaku tak mengenali. Dari laporan yang diterimanya, memang ada warga yang kerap tahu pelaku mendatangi rumah yang dibangun pamannya itu. Namun, hanya sebentar-sebentar saja.

”Mungkin hanya untuk mengecek progres pembangunannya saja,” kata dia. Saat ini pihak kepolisian masih memasang garis polisi di sekitaran TKP.

Salah seorang warga yang rumahnya dekat lokasi pembunuhan mengatakan, rumah yang menjadi TKP dikenal sebagai lokasi yang angker. ”Kadang ada suara-suara aneh. Entah itu suara barang jatuh atau suara yang lain,” jelasnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, dia mengaku kondisi di kampungnya menjadi heboh. Warga pun juga menjadi takut untuk mendekati bangunan yang ada di tanah kavling tersebut. ”Ya orang jadi menjauh. Takut kalau mau dekat ke sana,” tutupnya. (fik/c1/abm/rmc)

KABUPATEN – Ali Muddin, 38, warga Desa Karangsuko, Kecamatan Gondanglegi ini tega membunuh mantan istrinya, Wiwik Lestari, 30, warga Dusun Dieng, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondanglegi, dengan cara sadis. Dicekik hingga nyawa mantan istrinya itu melayang di sebuah rumah kosong.

Padahal, Ali Muddin dan Wiwik baru saja bercerai pada 18 Mei 2021 lalu. Pembunuhan itu terjadi di sebuah rumah kosong Dusun Krajan, Desa Gondanglegi Kulon, Kecamatan Gondanglegi, Kamis petang (3/6).

Kapolres Malang AKBP Hendri Umar menjelaskan, sesaat usai membunuh, pelaku langsung menyerahkan diri ke pihak kepolisian. Kemarin (4/6) yang bersangkutan masih menjalani pemeriksaan intensif di Unit II Tipiter Satreskrim Polres Malang.

Secara detail, Hendri Umar membeberkan bahwa awal mula kasus tersebut terjadi ketika mereka pergi keluar berdua. Alasannya, Ali Muddin ingin membelikan kue anak yang saat ini diasuh oleh Wiwik.

”Pelaku menjemput korban di rumah orang tuanya. Setelah itu, mereka pergi berdua dan akhirnya berhenti di rumah kosong itu sekitar pukul 17.00. Ternyata, rumah itu adalah milik kerabat pelaku. Makanya dia bisa masuk ke rumah tersebut,” ujarnya.

Sebelum kejadian itu, keduanya sempat cekcok. Pemicunya, pelaku mencurigai korban sedang punya hubungan dengan pria lain. Ali Muddin mencoba mendesak korban untuk mengakui jika ada hubungan khusus dengan pria lain. Namun, Wiwik bersikukuh membantah dan tidak mengaku. Inilah yang membuat Ali Muddin kalap.

Dia emosi. Tak kuat menahan amarah, pelaku pun akhirnya mencekik leher korban sekitar pukul 17.21. ”Mereka bertengkar. Dari adu mulut sampai baku pukul. Lalu, pelaku mencekik korban. Dari situlah korban duduk tak berdaya. Korban akhirnya tewas,” lanjut Hendri.

Dari keterangan pihak kepolisian, Ali dan Wiwik mempunyai dua orang anak yang masih kecil. Hal itulah yang menjadi alasan keduanya masih sering pergi berdua meski sudah bercerai.

”Jadi mereka berdua ini alasan hendak membelikan kue anaknya. Makanya masih sering jalan berdua,” tutur mantan Kasubag Bungkol Spripim (Staf Pribadi Pimpinan) Polri itu.

Korban diketahui meninggal dengan bekas luka cekikan. Selain itu, dari hasil identifikasi Tim Inafis Satreskrim Polres Malang, korban mengalami luka lebam bekas pukulan tangan di bagian tubuhnya. Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Di sisi lain, Ketua RT 30/RW 2 Desa Gondanglegi Kulon Mujiono menjelaskan, rumah kosong yang menjadi TKP pembunuhan tersebut memang baru selesai dibangun dan memang belum pernah ada seseorang atau keluarga yang tinggal di sana.

”Pemiliknya bukan orang sini. Itu selesai dibangun sekitar tiga bulan. Sesekali saja pemiliknya datang, mungkin untuk menengok,” ucapnya.

Terkait sosok Ali Muddin, Mujiono mengaku tak mengenali. Dari laporan yang diterimanya, memang ada warga yang kerap tahu pelaku mendatangi rumah yang dibangun pamannya itu. Namun, hanya sebentar-sebentar saja.

”Mungkin hanya untuk mengecek progres pembangunannya saja,” kata dia. Saat ini pihak kepolisian masih memasang garis polisi di sekitaran TKP.

Salah seorang warga yang rumahnya dekat lokasi pembunuhan mengatakan, rumah yang menjadi TKP dikenal sebagai lokasi yang angker. ”Kadang ada suara-suara aneh. Entah itu suara barang jatuh atau suara yang lain,” jelasnya.

Dengan adanya kejadian tersebut, dia mengaku kondisi di kampungnya menjadi heboh. Warga pun juga menjadi takut untuk mendekati bangunan yang ada di tanah kavling tersebut. ”Ya orang jadi menjauh. Takut kalau mau dekat ke sana,” tutupnya. (fik/c1/abm/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/