alexametrics
23.6 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Desa Ngadas Segera Miliki Dua Ikon Wisata Baru

KABUPATEN – Bukit Jemplang di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bakal memiliki fasilitas wisata baru. Di titik akhir Kabupaten Malang menuju Kaldera Tengger itu bakal dibangun jembatan gantung dan glamor camping (glamping).

”Benar, ada rencana itu dari salah satu investor,” terang Kepala Desa Ngadas Mujianto. Lokasi sarana wisata tersebut rencananya berada di blok Jemplang. Tepatnya di Dusun Jarak Ijo. Pembangunannya bakal memanfaatkan zona pemanfaatan ruang usaha sesuai zonasi dari taman nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS). Zona pemanfaatan itu bisa digunakan untuk keperluan secara terbatas. Misalnya untuk penelitian, pendidikan dan wisata terbatas.

Menurut Mujianto, investor sudah mulai mempersiapkan kawasan tersebut sebagai fasilitas pariwisata. Tetapi, pembangunannya belum terlihat secara lengkap. ”PT Winuta (Winuta Alam Indah) yang punya (proyeknya, red). Saat ini baru dipasang tiang pancang utama jembatan. Progresnya saya lihat mungkin baru 10 persen,” kata Mujianto. Sarana wisata yang hendak dibangun yaitu jembatan kaca gantung.

Dia juga menyebut bila pembangunan fasilitas jembatan gantung belum akan finish di tahun 2022 ini. ”Untuk glamping juga belum terbangun. Tetapi lokasinya masih di wilayah blok Jemplang juga,” tambahnya. Mujianto memastikan bila warga Desa Ngadas sepakat memberi restu pembangunan fasilitas pariwisata tersebut. Sebab, kawasan Bromo selama ini sudah dimanfaatkan pemerintah pusat untuk menggaet pundi-pundi pendapatan. ”Harapan kami bisa menambah daya tarik wisata. Saya harap juga bisa berdampak pada ekonomi masyarakat. Khusus untuk Desa Ngadas, saya ingin fasilitas wisata itu bisa menambah PAD (pendapatan asli desa),” imbuh Mujianto.

Berdasarkan data yang diakomodasi koran ini, TNBTS memungkinkan adanya zona pemanfaatan usaha secara terbatas di sana. Lahan seluas 50 ribu hektare di sana terbagi menjadi tujuh zona. Yakni inti, rimba, rehabilitasi, tradisional, khusus, religi dan pemanfaatan. Zona terakhir terdiri dari ruang publik dan ruang usaha. Total luas ruang usaha sekitar 127 hektare, atau 10, 64 persen dari seluruh luas zona pemanfaatan.

Untuk memanfaatkan ruang usaha tersebut, perlu ada izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Investor harus memiliki dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL). Mekanismenya, ruang usaha yang dimanfaatkan tidak boleh lebih dari 10 persen luas konsensi. Dari data yang ada, investor di Desa Ngadas mendapat luas konsesi 2 hektare dari KLHK. Dengan kata lain, sarana wisata di sana memiliki ukuran 2.000 meter persegi. (fin/by)

 

KABUPATEN – Bukit Jemplang di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, bakal memiliki fasilitas wisata baru. Di titik akhir Kabupaten Malang menuju Kaldera Tengger itu bakal dibangun jembatan gantung dan glamor camping (glamping).

”Benar, ada rencana itu dari salah satu investor,” terang Kepala Desa Ngadas Mujianto. Lokasi sarana wisata tersebut rencananya berada di blok Jemplang. Tepatnya di Dusun Jarak Ijo. Pembangunannya bakal memanfaatkan zona pemanfaatan ruang usaha sesuai zonasi dari taman nasional Bromo, Tengger, Semeru (TNBTS). Zona pemanfaatan itu bisa digunakan untuk keperluan secara terbatas. Misalnya untuk penelitian, pendidikan dan wisata terbatas.

Menurut Mujianto, investor sudah mulai mempersiapkan kawasan tersebut sebagai fasilitas pariwisata. Tetapi, pembangunannya belum terlihat secara lengkap. ”PT Winuta (Winuta Alam Indah) yang punya (proyeknya, red). Saat ini baru dipasang tiang pancang utama jembatan. Progresnya saya lihat mungkin baru 10 persen,” kata Mujianto. Sarana wisata yang hendak dibangun yaitu jembatan kaca gantung.

Dia juga menyebut bila pembangunan fasilitas jembatan gantung belum akan finish di tahun 2022 ini. ”Untuk glamping juga belum terbangun. Tetapi lokasinya masih di wilayah blok Jemplang juga,” tambahnya. Mujianto memastikan bila warga Desa Ngadas sepakat memberi restu pembangunan fasilitas pariwisata tersebut. Sebab, kawasan Bromo selama ini sudah dimanfaatkan pemerintah pusat untuk menggaet pundi-pundi pendapatan. ”Harapan kami bisa menambah daya tarik wisata. Saya harap juga bisa berdampak pada ekonomi masyarakat. Khusus untuk Desa Ngadas, saya ingin fasilitas wisata itu bisa menambah PAD (pendapatan asli desa),” imbuh Mujianto.

Berdasarkan data yang diakomodasi koran ini, TNBTS memungkinkan adanya zona pemanfaatan usaha secara terbatas di sana. Lahan seluas 50 ribu hektare di sana terbagi menjadi tujuh zona. Yakni inti, rimba, rehabilitasi, tradisional, khusus, religi dan pemanfaatan. Zona terakhir terdiri dari ruang publik dan ruang usaha. Total luas ruang usaha sekitar 127 hektare, atau 10, 64 persen dari seluruh luas zona pemanfaatan.

Untuk memanfaatkan ruang usaha tersebut, perlu ada izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Investor harus memiliki dokumen upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL-UPL). Mekanismenya, ruang usaha yang dimanfaatkan tidak boleh lebih dari 10 persen luas konsensi. Dari data yang ada, investor di Desa Ngadas mendapat luas konsesi 2 hektare dari KLHK. Dengan kata lain, sarana wisata di sana memiliki ukuran 2.000 meter persegi. (fin/by)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/