alexametrics
27.2 C
Malang
Saturday, 13 August 2022

Jaksa Upayakan Stop Kasus Remaja Pemakai Sabu

KEPANJEN – Kejaksaan Negeri Kabupaten (Kejari) kembali bersiap melakukan restorative justice atau penghentian penuntutan. Namun kali ini perkaranya adalah penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu. Tersangkanya remaja masih berusia 16 tahun, dan dia terbukti hanya benar-benar pemakai saja. 

Kemarin, remaja berinisial H asal Desa Gading, Kecamatan Bululawang, itu diserahkan oleh penyidik Polsek Bululawang ke Kejaksaan Negeri Kepanjen. Sejak ditangkap polisi pada 5 Februari lalu, remaja yang bekerja sebagai kuli bangunan itu memang ditahan di Polsek Bululawang. 

Berdasar berkas pemeriksaan, H ditangkap di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, sekitar pukul 21.30. Ketika itu dia berniat mengisap sabu-sabu. H lantas menghubungi seseorang bernama Eko yang kini dalam pencarian polisi. Satu poket kecil sabu-sabu seharga Rp 650 ribu pun diperolehnya. 

”Tapi dia mendapatkan sabu-sabu itu di Gonndanglegi. Karena Eko menjual sabu-sabu itu dengan metode ranjau. Yakni meletakkannya di pinggir jalan,” terang Kasi Intel Kejari Kabupaten Malang Suwaskito Wibowo kemarin (5/8). 

H tidak langsung pulang setelah mendapatkan sabu-sabu. Dia malah pergi ke rumah temannya yang berinisial F (buron) di daerah Krebet. Tiba di rumah rekannya, H ditangkap polisi. Satu poket sabu-sabu yang belum digunakan itu pun menjadi barang bukti yang menyeretnya ke ranah hukum. Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa H sudah pernah mengisap sabu-sabu sebanyak dua kali. 

Kasubsi Prapenuntutan Kejari Kabupaten Malang Anjar Rudi Admoko menyebutkan, H merupakan rantai terakhir dari peredaran narkoba. Atau hanya sebagai pemakai saja. ”Hanya untuk dipakai sendiri. Alasannya karena ingin kuat bekerja saja,” ungkap dia. 

Fakta itulah yang menjadi pertimbangan bagi jaksa untuk menerapkan restorative justice. Syarat yang sudah terpenuhi adalah H baru pertama kali melakukan tindak pidana. Dalam arti tidak pernah dihukum sebelumnya. Namun karena merupakan kasus narkotika, maka pembebasan yang dilakukan berbeda. Yakni dengan rehabilitasi medis. 

Bila penghentian penuntutan perkara itu berhasil, maka H akan dikirim ke RSJ Menur Surabaya. Dia harus menjalani rehabilitasi medis untuk menyembuhkannya dari ketergantungan narkotika. “Ini masih diusulkan ke Kejati Jatim. Selanjutnya masih harus expose ke Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung. Jika disetujui, baru bisa dilaksanakan,” tutup Anjar. (biy/fat)

KEPANJEN – Kejaksaan Negeri Kabupaten (Kejari) kembali bersiap melakukan restorative justice atau penghentian penuntutan. Namun kali ini perkaranya adalah penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu. Tersangkanya remaja masih berusia 16 tahun, dan dia terbukti hanya benar-benar pemakai saja. 

Kemarin, remaja berinisial H asal Desa Gading, Kecamatan Bululawang, itu diserahkan oleh penyidik Polsek Bululawang ke Kejaksaan Negeri Kepanjen. Sejak ditangkap polisi pada 5 Februari lalu, remaja yang bekerja sebagai kuli bangunan itu memang ditahan di Polsek Bululawang. 

Berdasar berkas pemeriksaan, H ditangkap di Desa Krebet, Kecamatan Bululawang, sekitar pukul 21.30. Ketika itu dia berniat mengisap sabu-sabu. H lantas menghubungi seseorang bernama Eko yang kini dalam pencarian polisi. Satu poket kecil sabu-sabu seharga Rp 650 ribu pun diperolehnya. 

”Tapi dia mendapatkan sabu-sabu itu di Gonndanglegi. Karena Eko menjual sabu-sabu itu dengan metode ranjau. Yakni meletakkannya di pinggir jalan,” terang Kasi Intel Kejari Kabupaten Malang Suwaskito Wibowo kemarin (5/8). 

H tidak langsung pulang setelah mendapatkan sabu-sabu. Dia malah pergi ke rumah temannya yang berinisial F (buron) di daerah Krebet. Tiba di rumah rekannya, H ditangkap polisi. Satu poket sabu-sabu yang belum digunakan itu pun menjadi barang bukti yang menyeretnya ke ranah hukum. Hasil penyelidikan menyebutkan bahwa H sudah pernah mengisap sabu-sabu sebanyak dua kali. 

Kasubsi Prapenuntutan Kejari Kabupaten Malang Anjar Rudi Admoko menyebutkan, H merupakan rantai terakhir dari peredaran narkoba. Atau hanya sebagai pemakai saja. ”Hanya untuk dipakai sendiri. Alasannya karena ingin kuat bekerja saja,” ungkap dia. 

Fakta itulah yang menjadi pertimbangan bagi jaksa untuk menerapkan restorative justice. Syarat yang sudah terpenuhi adalah H baru pertama kali melakukan tindak pidana. Dalam arti tidak pernah dihukum sebelumnya. Namun karena merupakan kasus narkotika, maka pembebasan yang dilakukan berbeda. Yakni dengan rehabilitasi medis. 

Bila penghentian penuntutan perkara itu berhasil, maka H akan dikirim ke RSJ Menur Surabaya. Dia harus menjalani rehabilitasi medis untuk menyembuhkannya dari ketergantungan narkotika. “Ini masih diusulkan ke Kejati Jatim. Selanjutnya masih harus expose ke Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum Kejaksaan Agung. Jika disetujui, baru bisa dilaksanakan,” tutup Anjar. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/