alexametrics
23.3 C
Malang
Monday, 15 August 2022

Pemkab Wacanakan Merger SD Minim Murid

KABUPATEN – Pemkab Malang mendapati banyak Sekolah Dasar Negeri (SDN) dengan siswa yang sangat sedikit. Agar efisien, Bupati Malang H M. Sanusi mewacanakan merger. SDN yang minim murid bakal digabung. Tata cara merger sedang digodok. Dia memerintahkan Dinas Pendidikan untuk menyusun format tersebut. 

”Satu guru idealnya mengajar 28 sampai 30 siswa,” ujar Sanusi kepada Jawa Pos Radar Malang di SDN 1 Jambesari, Poncokusumo, Jumat sore (5/8) 

Dia juga mengingatkan bahwa keputusan merger harus diperhitungkan dengan matang. Tujuannya agar tidak menimbulkan masalah baru. Utamanya jarak rumah siswa dengan sekolah baru hasil merger. Namun jika merger benar benar menimbulkan masalah jarak yang terlalu jauh, Pemkab Malang juga menyiapkan bantuan mobil untuk alat transportasi. Mobil itu bisa digunakan antar jemput siswa yang rumahnya terlalu jauh dari sekolah. 

Salah satu SDN yang kekurangan murid adalah SDN 1 Jambesari yang dikunjungi Sanusi kemarin. Salah satu gedungnya dalam kondisi rawan ambruk. Sebagian atapnya rontok. Gentingnya juga banyak yang merosot. Pemkab pun berencana memberikan bantuan dana untuk perbaikan pada 2023. 

Kepala SDN 1 Jambesari Ribut Setyowati mengaku bersyukur disambangi Bupati. Menurutnya, itu merupakan kali pertama Bupati Malang menginjakkan kaki di SD tersebut. Dia juga memegang janji Bupati yang akan memberikan bantuan dana renovasi sekolah tahun depan. Terkait rencana merger, dia berharap bisa menjadi solusi terbaik meski memang ada kendala. 

Ribut mencontohkan ada satu pedukuhan terpencil di Poncokusumo, yaitu Pajaran. Di kawasan itu ada SDN 3 Pajaran, ada pula madrasah ibtidaiyah (MI) dan SD Islam. Jika SDN 3 Pajaran dimerger ke SDN 1 Jambesari, kemungkinan besar siswanya akan memilih pindah ke MI atau SD Islam yang jaraknya dekat dengan rumah mereka. Sebab lokasi pedukuhan itu ke SDN 1 Jambesari lumayan jauh. Kalau tidak dimerger, SDN 1 Jambesari juga kekurangan siswa. Misalnya, jumlah pendaftar pada tahun ajaran baru lalu hanya 15 siswa. Jika ditotal, dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya ada 124 siswa. Rata-rata satu kelas berisi 20 siswa. Ribut mengaku tak berpangku tangan. Dia terus melakukan pendekatan ke pihak desa dan elemen masyarakat. Harapannya, siswa SDN 1 Jambesari bisa bertambah terus. 

Kondisi serupa juga dialami SDN Randugading 3 di Kecamatan Tajinan. Tahun ini, jumlah murid baru atau siswa kelas 1 SD hanya enam anak. 

”Di sini memang bukan kampung padat,” kata Kepala SDN Randugading 3 Munaib SPd 

Dia menyebut kawasan Randugading memang kecil. Jumlah warganya juga terbatas. Siswa di sekolahnya pun bukan hanya anak-anak setempat. Ada juga siswa yang berasal dari Desa Sumbersuko juga. Munaib mengatakan bahwa warga Desa Randugading sebenarnya sudah sangat sadar pentingnya sekolah. Hanya karena lingkungannya sepi saja, sehingga jumlah muridnya sedikit. Namun untuk memastikan warga di sana tetap sadar pendidikan, Munaib mengaku harus mendekati para tokoh masyarakat dan perangkat desa. 

”Kami juga mulai mengasuh anak-anak usia dini di sekitar sekolah. Nanti begitu usia mencukupi untuk SD, langsung masuk sini,” tutup imbuhnya.(fin/fat)

KABUPATEN – Pemkab Malang mendapati banyak Sekolah Dasar Negeri (SDN) dengan siswa yang sangat sedikit. Agar efisien, Bupati Malang H M. Sanusi mewacanakan merger. SDN yang minim murid bakal digabung. Tata cara merger sedang digodok. Dia memerintahkan Dinas Pendidikan untuk menyusun format tersebut. 

”Satu guru idealnya mengajar 28 sampai 30 siswa,” ujar Sanusi kepada Jawa Pos Radar Malang di SDN 1 Jambesari, Poncokusumo, Jumat sore (5/8) 

Dia juga mengingatkan bahwa keputusan merger harus diperhitungkan dengan matang. Tujuannya agar tidak menimbulkan masalah baru. Utamanya jarak rumah siswa dengan sekolah baru hasil merger. Namun jika merger benar benar menimbulkan masalah jarak yang terlalu jauh, Pemkab Malang juga menyiapkan bantuan mobil untuk alat transportasi. Mobil itu bisa digunakan antar jemput siswa yang rumahnya terlalu jauh dari sekolah. 

Salah satu SDN yang kekurangan murid adalah SDN 1 Jambesari yang dikunjungi Sanusi kemarin. Salah satu gedungnya dalam kondisi rawan ambruk. Sebagian atapnya rontok. Gentingnya juga banyak yang merosot. Pemkab pun berencana memberikan bantuan dana untuk perbaikan pada 2023. 

Kepala SDN 1 Jambesari Ribut Setyowati mengaku bersyukur disambangi Bupati. Menurutnya, itu merupakan kali pertama Bupati Malang menginjakkan kaki di SD tersebut. Dia juga memegang janji Bupati yang akan memberikan bantuan dana renovasi sekolah tahun depan. Terkait rencana merger, dia berharap bisa menjadi solusi terbaik meski memang ada kendala. 

Ribut mencontohkan ada satu pedukuhan terpencil di Poncokusumo, yaitu Pajaran. Di kawasan itu ada SDN 3 Pajaran, ada pula madrasah ibtidaiyah (MI) dan SD Islam. Jika SDN 3 Pajaran dimerger ke SDN 1 Jambesari, kemungkinan besar siswanya akan memilih pindah ke MI atau SD Islam yang jaraknya dekat dengan rumah mereka. Sebab lokasi pedukuhan itu ke SDN 1 Jambesari lumayan jauh. Kalau tidak dimerger, SDN 1 Jambesari juga kekurangan siswa. Misalnya, jumlah pendaftar pada tahun ajaran baru lalu hanya 15 siswa. Jika ditotal, dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya ada 124 siswa. Rata-rata satu kelas berisi 20 siswa. Ribut mengaku tak berpangku tangan. Dia terus melakukan pendekatan ke pihak desa dan elemen masyarakat. Harapannya, siswa SDN 1 Jambesari bisa bertambah terus. 

Kondisi serupa juga dialami SDN Randugading 3 di Kecamatan Tajinan. Tahun ini, jumlah murid baru atau siswa kelas 1 SD hanya enam anak. 

”Di sini memang bukan kampung padat,” kata Kepala SDN Randugading 3 Munaib SPd 

Dia menyebut kawasan Randugading memang kecil. Jumlah warganya juga terbatas. Siswa di sekolahnya pun bukan hanya anak-anak setempat. Ada juga siswa yang berasal dari Desa Sumbersuko juga. Munaib mengatakan bahwa warga Desa Randugading sebenarnya sudah sangat sadar pentingnya sekolah. Hanya karena lingkungannya sepi saja, sehingga jumlah muridnya sedikit. Namun untuk memastikan warga di sana tetap sadar pendidikan, Munaib mengaku harus mendekati para tokoh masyarakat dan perangkat desa. 

”Kami juga mulai mengasuh anak-anak usia dini di sekitar sekolah. Nanti begitu usia mencukupi untuk SD, langsung masuk sini,” tutup imbuhnya.(fin/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/