alexametrics
27.2 C
Malang
Saturday, 13 August 2022

Terdakwa 14 Kilogram Sabu-Sabu Ajukan Kasasi, Belum Puas Tak Dihukum Mati

KEPANJEN – Perjalanan perkara sabu-sabu 14,15 kilogram dengan terdakwa Puji Hari Santoso, Novia Anggara, dan Sugeng Nuryanto masih panjang. Kamis lalu(4/8), tiga orang itu mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Mereka belum puas meski Pengadilan Tinggi Surabaya telah mengubah putusan Pengadilan Negeri Kepanjen dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Puji dan kawankawannya divonis hukuman mati pada 13 Mei 2022. Ketua Majelis Hakim I Putu Gede Astawa menyatakan para terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 114 Ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Tanpa berpikir panjang, hari itu juga Puji dan dua kawannya menyatakan banding. 

Proses banding kasus itu tak membutuhkan waktu terlalu lama. Hanya sekitar dua bulan. Pada 21 Juli 2022, Pengadilan Tinggi Surabaya mengubah hukuman mati menjadi pidana penjara seumur hidup. Berkas putusan itu juga sudah sampai ke pihak terdakwa maupun kejaksaan. 

Kasubsi Prapenuntutan Seksi Pidana Umum Kejari Kabupaten Malang Anjar Rudi Admoko SH mengatakan bahwa salinan putusan mereka terima pada Rabu (3/8). Kejaksaan juga sudah menerima kepastian bahwa para terdakwa akan mengajukan kasasi. ”Kami sudah mengajukan kasasi ke MA pada Kamis, 4 Agustus 2022,” ujarnya . 

Sejatinya jaksa, tidak perlu mengajukan kasasi. Sebab putusan PT Surabaya dengan tuntutan yang mereka ajukan saat sidang di Pengadilan Negeri Kepanjen. Namun kasasi akhirnya dilakukan untuk mengikuti langkah hukum para terdakwa. 

Terkait alasan para terdakwa meminta Kasasi, Anjar mengingat kembali pembelaan mereka sebelum divonis pidana mati. ”Mereka mengatakan tidak bersalah. Merasa barang bukti narkoba merupakan titipan, bukan milik mereka,” ujar dia. 

Dalam berkas dakwaan disebutkan bahwa kasus narkotika jenis sabu-sabu dengan barang bukti besar itu terjadi pada Oktober 2021. Tiga terdakwa adalah warga asal Kecamatan Lawang, dan Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Barang bukti berupa 14,5 kg sabu-sabu dikirim dari Kota Medan menuju Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang lewat jalur ekspedisi. 

Ketiganya ditangkap petugas Bareskrim Mabes Polri dan sempat melalui serangkaian drama kabur dan tangkap kembali. Salah satu rekan mereka, Dian Iron, ditembak mati polisi karena melawan. Menyisakan tiga orang untuk dibawa ke meja hijau. Dalam sidang, Puji dan dua kawannya mengaku bahwa sabu-sabu itu milik orang bernama Adi yang kini berada di dalam lembaga pemasyarakatan. 

Hingga kemarin, ketua LBH Peradi Malang Raya Iwan Kuswardi SH mengaku belum menerima salinan putusan PT. “Kami selaku lembaga yang diberi kuasa dari para terdakwa belum menerima salinan,” terang dia melalui sambungan telepon. Iwan menduga pemberitahuan putusan banding tersebut langsung diberikan kepada terdakwa. 

Kuat dugaan ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh PN Kepanjen. “SOP nya putusan itu diberikan kepada yang diberikan kuasa oleh terdakwa, tidak bisa langsung,” ujarnya. 

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Malang, ternyata ada perubahan kuasa hukum saat banding tengah berlangsung. Para terdakwa meminta anggota DPC Peradi Malang Raya Didik Lestariyono untuk mendampingi mereka. ”Dua bulan lalu, saat proses berlangsung, perwakilan terdakwa datang ke kantor untuk minta bantuan hukum. Kemudian saya terima,” terang dia melalui sambungan telepon. 

Dia mengaku tidak mengetahui kalau dalam perkara tersebut sudah ada penunjukan kuasa hukum. Seharusnya, kalau sudah ada kuasa, pihaknya akan ditolak oleh Pengadilan Tinggi Surabaya. Didik menduga pendampingan dari LBH Peradi Malang Raya hanya pada tingkat pertama, atau ketika masih di PN Kepanjen. 

Terkait upaya kasasi, Didik mengatakan bahwa titik beratnya ada pada Sugeng Nuryanto. ”Karena Sugeng tidak tahu-menahu soal barang yang akan diambil. Dia hanya ikut karena diajak Novia Anggara,” ungkap dia. (biy/fat)

KEPANJEN – Perjalanan perkara sabu-sabu 14,15 kilogram dengan terdakwa Puji Hari Santoso, Novia Anggara, dan Sugeng Nuryanto masih panjang. Kamis lalu(4/8), tiga orang itu mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Mereka belum puas meski Pengadilan Tinggi Surabaya telah mengubah putusan Pengadilan Negeri Kepanjen dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. 

Seperti diberitakan sebelumnya, Puji dan kawankawannya divonis hukuman mati pada 13 Mei 2022. Ketua Majelis Hakim I Putu Gede Astawa menyatakan para terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 114 Ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Tanpa berpikir panjang, hari itu juga Puji dan dua kawannya menyatakan banding. 

Proses banding kasus itu tak membutuhkan waktu terlalu lama. Hanya sekitar dua bulan. Pada 21 Juli 2022, Pengadilan Tinggi Surabaya mengubah hukuman mati menjadi pidana penjara seumur hidup. Berkas putusan itu juga sudah sampai ke pihak terdakwa maupun kejaksaan. 

Kasubsi Prapenuntutan Seksi Pidana Umum Kejari Kabupaten Malang Anjar Rudi Admoko SH mengatakan bahwa salinan putusan mereka terima pada Rabu (3/8). Kejaksaan juga sudah menerima kepastian bahwa para terdakwa akan mengajukan kasasi. ”Kami sudah mengajukan kasasi ke MA pada Kamis, 4 Agustus 2022,” ujarnya . 

Sejatinya jaksa, tidak perlu mengajukan kasasi. Sebab putusan PT Surabaya dengan tuntutan yang mereka ajukan saat sidang di Pengadilan Negeri Kepanjen. Namun kasasi akhirnya dilakukan untuk mengikuti langkah hukum para terdakwa. 

Terkait alasan para terdakwa meminta Kasasi, Anjar mengingat kembali pembelaan mereka sebelum divonis pidana mati. ”Mereka mengatakan tidak bersalah. Merasa barang bukti narkoba merupakan titipan, bukan milik mereka,” ujar dia. 

Dalam berkas dakwaan disebutkan bahwa kasus narkotika jenis sabu-sabu dengan barang bukti besar itu terjadi pada Oktober 2021. Tiga terdakwa adalah warga asal Kecamatan Lawang, dan Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Barang bukti berupa 14,5 kg sabu-sabu dikirim dari Kota Medan menuju Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang lewat jalur ekspedisi. 

Ketiganya ditangkap petugas Bareskrim Mabes Polri dan sempat melalui serangkaian drama kabur dan tangkap kembali. Salah satu rekan mereka, Dian Iron, ditembak mati polisi karena melawan. Menyisakan tiga orang untuk dibawa ke meja hijau. Dalam sidang, Puji dan dua kawannya mengaku bahwa sabu-sabu itu milik orang bernama Adi yang kini berada di dalam lembaga pemasyarakatan. 

Hingga kemarin, ketua LBH Peradi Malang Raya Iwan Kuswardi SH mengaku belum menerima salinan putusan PT. “Kami selaku lembaga yang diberi kuasa dari para terdakwa belum menerima salinan,” terang dia melalui sambungan telepon. Iwan menduga pemberitahuan putusan banding tersebut langsung diberikan kepada terdakwa. 

Kuat dugaan ada kesalahan prosedur yang dilakukan oleh PN Kepanjen. “SOP nya putusan itu diberikan kepada yang diberikan kuasa oleh terdakwa, tidak bisa langsung,” ujarnya. 

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Malang, ternyata ada perubahan kuasa hukum saat banding tengah berlangsung. Para terdakwa meminta anggota DPC Peradi Malang Raya Didik Lestariyono untuk mendampingi mereka. ”Dua bulan lalu, saat proses berlangsung, perwakilan terdakwa datang ke kantor untuk minta bantuan hukum. Kemudian saya terima,” terang dia melalui sambungan telepon. 

Dia mengaku tidak mengetahui kalau dalam perkara tersebut sudah ada penunjukan kuasa hukum. Seharusnya, kalau sudah ada kuasa, pihaknya akan ditolak oleh Pengadilan Tinggi Surabaya. Didik menduga pendampingan dari LBH Peradi Malang Raya hanya pada tingkat pertama, atau ketika masih di PN Kepanjen. 

Terkait upaya kasasi, Didik mengatakan bahwa titik beratnya ada pada Sugeng Nuryanto. ”Karena Sugeng tidak tahu-menahu soal barang yang akan diambil. Dia hanya ikut karena diajak Novia Anggara,” ungkap dia. (biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/