alexametrics
21.9 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Setahun, Ekspor Kabupaten Malang Anjlok Rp 1,5 Triliun

KEPANJEN – Penutupan sektor perdagangan akibat pandemi Covid-19 memaksa sektor eksport Kabupaten Malang terjun bebas. Jika pada tahun 2020 lalu masih menghasilkan Rp 6,8 triliun, nilai tersebut anjlok menjadi Rp 5,3 triliun di tahun 2021. Artinya, merosotnya sektor ekspor di Kabupaten Malang turun sekitar Rp 1,5 triliun dalam setahun.

Kondisi ini berbanding terbalik jika dibandingkan nilai impor yang justru melonjak. Dari 2019 menuju 2020 ada kenaikan sekitar Rp 300 miliar. Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang belum mengantongi data nilai impor tahun 2021, tapi diperkirakan melonjak drastis. Sebab, daya beli warga Kabupaten Malang di tahun 2021 ini lebih baik jika dibanding setahun sebelumnya.

”Realisasi impor Kabupaten Malang tahun 2020 lalu sebesar US$ 72,9 juta (Rp 1 triliun jika diakumulasikan 1 dolar setara Rp 14.500). Sedangkan nilai impor tahun 2019 sebesar US$ 49 juta (Rp 710 miliar),” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto, kemarin.

”Dengan demikian mengalami kenaikan sebesar US$ 23 juta (Rp 333,5 miliar) atau naik 48,7 persen,” terang pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Agung melanjutkan, setidaknya ada sepuluh komoditas impor yang mendominasi di Kabupaten Malang. Di antaranya bahan penolong rokok, spare part mesin industri, tembakau, bahan penolong pengemasan, bahan baku sepatu, bahan mentah plester, bahan penolong kampas rem, partikel komponen listrik, dry bag, dan saus.

“Barang-barang tersebut kebanyakan ada di luar negeri. Kalaupun ada di dalam negeri, harganya lebih mahal. Sehingga para industri lebih memilih impor,” kata dia.

Untuk capaian volume impor daerah terluas nomor dua di Jawa Timur ini, dia menjelaskan bahwa tahun 2020 besarannya mencapai 122 ribu ton. Sedang  volume impor pada tahun 2019 lalu hanya 56 ribu ton. Sehingga dapat disimpulkan terdapat kenaikan volume barang impor sekitar 66 ribu ton.

Sementara terkait penurunan ekspor, Agung mengatakan, penurunan ini sepenuhnya didasarkan pada keadaan pandemi. ”Kalau produksi di kami relatif stabil. Cuma memang negara penerima ini tidak membuka pintu perdagangan, sehingga kami juga tidak bisa melakukan pengiriman,” ucapnya.

Dia berharap, nilai ekspor di Kabupaten Malang bisa mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini sejalan dengan visi misi bupati untuk membawa semua produk asal Bumi Kanjuruhan untuk go international.(fik/dan/rmc)

KEPANJEN – Penutupan sektor perdagangan akibat pandemi Covid-19 memaksa sektor eksport Kabupaten Malang terjun bebas. Jika pada tahun 2020 lalu masih menghasilkan Rp 6,8 triliun, nilai tersebut anjlok menjadi Rp 5,3 triliun di tahun 2021. Artinya, merosotnya sektor ekspor di Kabupaten Malang turun sekitar Rp 1,5 triliun dalam setahun.

Kondisi ini berbanding terbalik jika dibandingkan nilai impor yang justru melonjak. Dari 2019 menuju 2020 ada kenaikan sekitar Rp 300 miliar. Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang belum mengantongi data nilai impor tahun 2021, tapi diperkirakan melonjak drastis. Sebab, daya beli warga Kabupaten Malang di tahun 2021 ini lebih baik jika dibanding setahun sebelumnya.

”Realisasi impor Kabupaten Malang tahun 2020 lalu sebesar US$ 72,9 juta (Rp 1 triliun jika diakumulasikan 1 dolar setara Rp 14.500). Sedangkan nilai impor tahun 2019 sebesar US$ 49 juta (Rp 710 miliar),” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto, kemarin.

”Dengan demikian mengalami kenaikan sebesar US$ 23 juta (Rp 333,5 miliar) atau naik 48,7 persen,” terang pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Agung melanjutkan, setidaknya ada sepuluh komoditas impor yang mendominasi di Kabupaten Malang. Di antaranya bahan penolong rokok, spare part mesin industri, tembakau, bahan penolong pengemasan, bahan baku sepatu, bahan mentah plester, bahan penolong kampas rem, partikel komponen listrik, dry bag, dan saus.

“Barang-barang tersebut kebanyakan ada di luar negeri. Kalaupun ada di dalam negeri, harganya lebih mahal. Sehingga para industri lebih memilih impor,” kata dia.

Untuk capaian volume impor daerah terluas nomor dua di Jawa Timur ini, dia menjelaskan bahwa tahun 2020 besarannya mencapai 122 ribu ton. Sedang  volume impor pada tahun 2019 lalu hanya 56 ribu ton. Sehingga dapat disimpulkan terdapat kenaikan volume barang impor sekitar 66 ribu ton.

Sementara terkait penurunan ekspor, Agung mengatakan, penurunan ini sepenuhnya didasarkan pada keadaan pandemi. ”Kalau produksi di kami relatif stabil. Cuma memang negara penerima ini tidak membuka pintu perdagangan, sehingga kami juga tidak bisa melakukan pengiriman,” ucapnya.

Dia berharap, nilai ekspor di Kabupaten Malang bisa mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini sejalan dengan visi misi bupati untuk membawa semua produk asal Bumi Kanjuruhan untuk go international.(fik/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/