alexametrics
20.3 C
Malang
Tuesday, 27 September 2022

Tanaman Koro, Incar Jadi Varietas Unggulan Nasional dari Kabupaten Malang

KABUPATEN-Sebagai wilayah penyangga menuju kawasan Wisata Bromo, Desa Waringin Anom, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang menyimpan kaya potensi, utamanya hasil pertanian. Budidaya tanaman koro yang sudah lama digunakan warga sebagai tumpangsari bagi tanaman utama jeruk, kini sudah berubah 180 derajat. Sekarang bukan lagi sebagai tumpangsari namun sudah menjadi tanaman utama yang bisa memberikan kontribusi besar untuk menyumbang kelangsungan hidup mereka.

Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang Budi Widodo SP mengatakan bahwa keberadaan tanaman koro ini menyebar di tiga kecamatan di Malang Timur. “Yakni Jabung, Tumpang dan Poncokusmo dengan total luas tanam dan luas panen lebih kurang 75 hektare,” katanya saat ditemui disela-sela panen raya tanaman koro awal pekan lalu. Untuk besaran produksi pertahunnya, bisa mencapai 1.500 ton. Selama ini, lanjut pria yang juga punya sampingan sebagai roastery dan penjual kopi roasting serta kopi bubuk ini, pasar koro asal Malang menyebar ke Pasar Sayur Karangploso dan Pasar Porong.

Seputar persoalan budidaya tanaman koro, Budi mejelaskan ada beberapa hal antara lain mengatasi kedala hujan yang menjadi musuh utama. Karena hujan merangsang munculnya tunas vegetatif sehingga menghambat perkembangan bunga dan buah. Selain itu ada virus gemini yakni mengakibatkan warna kuning pada daun yang menyebabkan pada gagal panen. Untuk mengatasi persoalan itu, menurut Budi perlu dilakukan budidaya koro adalah dengan cara melakukan rekayasa budidaya. “Peran semua pihak utamanya akademisi sangat dibutuhkan untuk mengatasi hal ini,” katanya.

Sementara itu, untuk tahap usulan sebagai varietas unggulan dari Kabupaten Malang, Budi menjelaskan sekarang masih tahap observasi ke-3. Setelah itu, dia akan menyusun diskripsi, lalu megajukan pendaftaran. Setelah itu akan keluar sertifikat dari Kementrian Pertanian dan kemudian akan disusul dengan mengajukan pelepasan. Terakhir baru akan muncul Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian tentang tanaman koro sebagai varietas unggulan dari Kabupaten Malang.

Terpisah, Ketua Kelompok Tani (Kapoktan) Palapa 1 Sumaji mengatakan budidaya tanaman koro ini diberdayakan oleh sebagian besar anak buahnya sebanyak lebih kurang 200 anggota dengan luasan lebih kurang 4.000 m2. Sebagai gambaran, untuk ½ hektare lahan dia bisa memanen sebanyak lebih kurag 2 ton koro yang masih ada kulitnya. Sementara kulit koro masih bisa dijual lagi untuk tanaman hewan ternak.

Menambahkan, Camat Poncokusmo Didik Agus Mulyono SP MAP mengatakan sangat berterima kasih atas upaya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan yang telah mengangkat potensi unggulan pertanian di Kecamatan Poncokusumo. “Karena upaya ini secara tidak langsung bisa mengangkat perekonomian masyarakat,” katanya.
Keunggulan tanaman ini adalah bisa hidup di lahan marginal dan penanganannya tidak terlampau sulit dan mampu beradaptasi di wilayah Poncokusmo. Sebagai bukti tanaman koro bisa hidup di sela-sela tanaman jeruk. Kemudian selama ini koro, selain sebagai sayuran koro juga bisa dimanfaatkan sebagai kacang camilan, lalapan, bahan baku tempe pengganti kedalai, isi kue onde-onde dan juga dimungkinkan sebagai bahan kecap karena kandungan proteinnya yang tinggi. (mas)

KABUPATEN-Sebagai wilayah penyangga menuju kawasan Wisata Bromo, Desa Waringin Anom, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang menyimpan kaya potensi, utamanya hasil pertanian. Budidaya tanaman koro yang sudah lama digunakan warga sebagai tumpangsari bagi tanaman utama jeruk, kini sudah berubah 180 derajat. Sekarang bukan lagi sebagai tumpangsari namun sudah menjadi tanaman utama yang bisa memberikan kontribusi besar untuk menyumbang kelangsungan hidup mereka.

Pengawas Benih Tanaman Ahli Muda, Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malang Budi Widodo SP mengatakan bahwa keberadaan tanaman koro ini menyebar di tiga kecamatan di Malang Timur. “Yakni Jabung, Tumpang dan Poncokusmo dengan total luas tanam dan luas panen lebih kurang 75 hektare,” katanya saat ditemui disela-sela panen raya tanaman koro awal pekan lalu. Untuk besaran produksi pertahunnya, bisa mencapai 1.500 ton. Selama ini, lanjut pria yang juga punya sampingan sebagai roastery dan penjual kopi roasting serta kopi bubuk ini, pasar koro asal Malang menyebar ke Pasar Sayur Karangploso dan Pasar Porong.

Seputar persoalan budidaya tanaman koro, Budi mejelaskan ada beberapa hal antara lain mengatasi kedala hujan yang menjadi musuh utama. Karena hujan merangsang munculnya tunas vegetatif sehingga menghambat perkembangan bunga dan buah. Selain itu ada virus gemini yakni mengakibatkan warna kuning pada daun yang menyebabkan pada gagal panen. Untuk mengatasi persoalan itu, menurut Budi perlu dilakukan budidaya koro adalah dengan cara melakukan rekayasa budidaya. “Peran semua pihak utamanya akademisi sangat dibutuhkan untuk mengatasi hal ini,” katanya.

Sementara itu, untuk tahap usulan sebagai varietas unggulan dari Kabupaten Malang, Budi menjelaskan sekarang masih tahap observasi ke-3. Setelah itu, dia akan menyusun diskripsi, lalu megajukan pendaftaran. Setelah itu akan keluar sertifikat dari Kementrian Pertanian dan kemudian akan disusul dengan mengajukan pelepasan. Terakhir baru akan muncul Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian tentang tanaman koro sebagai varietas unggulan dari Kabupaten Malang.

Terpisah, Ketua Kelompok Tani (Kapoktan) Palapa 1 Sumaji mengatakan budidaya tanaman koro ini diberdayakan oleh sebagian besar anak buahnya sebanyak lebih kurang 200 anggota dengan luasan lebih kurang 4.000 m2. Sebagai gambaran, untuk ½ hektare lahan dia bisa memanen sebanyak lebih kurag 2 ton koro yang masih ada kulitnya. Sementara kulit koro masih bisa dijual lagi untuk tanaman hewan ternak.

Menambahkan, Camat Poncokusmo Didik Agus Mulyono SP MAP mengatakan sangat berterima kasih atas upaya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan yang telah mengangkat potensi unggulan pertanian di Kecamatan Poncokusumo. “Karena upaya ini secara tidak langsung bisa mengangkat perekonomian masyarakat,” katanya.
Keunggulan tanaman ini adalah bisa hidup di lahan marginal dan penanganannya tidak terlampau sulit dan mampu beradaptasi di wilayah Poncokusmo. Sebagai bukti tanaman koro bisa hidup di sela-sela tanaman jeruk. Kemudian selama ini koro, selain sebagai sayuran koro juga bisa dimanfaatkan sebagai kacang camilan, lalapan, bahan baku tempe pengganti kedalai, isi kue onde-onde dan juga dimungkinkan sebagai bahan kecap karena kandungan proteinnya yang tinggi. (mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/