alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Di Kabupaten Malang, Hujan Datang Hama Lalat Menyerang Kebun Apel

KEPANJEN – Musim penghujan ini, petani apel di Desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon dipusingkan ulah hama lalat buah. Banyak petani yang nyaris gagal panen lantaran tanaman apel-nya diserang hama.

Namun tidak terlalu berdampak bagi petani varietas apel merah. Sebab, apel merah nyaris kebal serangan hama lalat buah jika dibanding apel jenis manalagi. “Biasanya kalau hujan turun, lalat buah sangat cepat berkembangnya,” ujar Mamba’ul Ulum, salah satu petani apel di desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon, kemarin. Ulum menjelaskan, lalat buah cenderung menyukai varietas apel jenis manalagi. Dalam satu lahan, lalat buah bisa merusak hingga 70 persen pohon apel. Sementara untuk varietas apel merah, biasanya tingkat kerusakan hanya 5 persen.

Dia menyebut, keberadaan lalat buah ini sangat merugikan petani. “Kalau sudah kena lalat buah, hasil panennya pasti berkurang. Walaupun buahnya banyak, tapi nominalnya sedikit karena buahnya rusak,” jelasnya. Saat ini, kata dia, sudah separuh dari pohon apel yang terpapar lalat buah sudah dia cabut. Akibat diserang hama, pohon apel tidak bisa memproduksi buah secara maksimal pada musim selanjutnya.

Guna meminimalisir dalam berkembang biak, Ulum menyebut ada beberapa cara yang dilakukan oleh petani. Di antaranya menggunakan insektisida. Petani muda itu memilih lem lalat untuk mengurangi dampak dari serangga endemik tersebut. Lem lalat tersebut dia tempelkan ke jeriken dengan jarak rata-rata 5 meter.

Ketimbang menggunakan insektisida yang lain, Ulum menyebut lem lalat yang dia gunakan efektif. “Kalau pakai petrogenol itu biasanya cuma lalat jantan (yang terperangkap). Kalau pakai lem lalat dua-duanya (jantan dan betina) bisa masuk jebakan,” tambah Ulum. Selain lalat buah, masalah lain yang juga menjadi kendala bagi petani lalat yakni munculnya penyakit antranoksa. “Kalau antranoksa itu penyakit secara menyeluruh, sementara lalat buah kebanyakan muncul saat musim penghujan saja,” jelasnya.

Di tanya soal harga jual, Ulum mengatakan tiap 1 kilogram apel dibanderol Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu. Untuk menutup kerugian, sebagian petani lebih memilih menanami lahan bekas tanaman apel tersebut dengan sayuran. “Ya kalau tidak bisa menangani penyakit lebih baik diganti saja dengan yang lebih produktif,”  pungkas Ulum. (iik/dan)

 

KEPANJEN – Musim penghujan ini, petani apel di Desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon dipusingkan ulah hama lalat buah. Banyak petani yang nyaris gagal panen lantaran tanaman apel-nya diserang hama.

Namun tidak terlalu berdampak bagi petani varietas apel merah. Sebab, apel merah nyaris kebal serangan hama lalat buah jika dibanding apel jenis manalagi. “Biasanya kalau hujan turun, lalat buah sangat cepat berkembangnya,” ujar Mamba’ul Ulum, salah satu petani apel di desa Wiyurejo, Kecamatan Pujon, kemarin. Ulum menjelaskan, lalat buah cenderung menyukai varietas apel jenis manalagi. Dalam satu lahan, lalat buah bisa merusak hingga 70 persen pohon apel. Sementara untuk varietas apel merah, biasanya tingkat kerusakan hanya 5 persen.

Dia menyebut, keberadaan lalat buah ini sangat merugikan petani. “Kalau sudah kena lalat buah, hasil panennya pasti berkurang. Walaupun buahnya banyak, tapi nominalnya sedikit karena buahnya rusak,” jelasnya. Saat ini, kata dia, sudah separuh dari pohon apel yang terpapar lalat buah sudah dia cabut. Akibat diserang hama, pohon apel tidak bisa memproduksi buah secara maksimal pada musim selanjutnya.

Guna meminimalisir dalam berkembang biak, Ulum menyebut ada beberapa cara yang dilakukan oleh petani. Di antaranya menggunakan insektisida. Petani muda itu memilih lem lalat untuk mengurangi dampak dari serangga endemik tersebut. Lem lalat tersebut dia tempelkan ke jeriken dengan jarak rata-rata 5 meter.

Ketimbang menggunakan insektisida yang lain, Ulum menyebut lem lalat yang dia gunakan efektif. “Kalau pakai petrogenol itu biasanya cuma lalat jantan (yang terperangkap). Kalau pakai lem lalat dua-duanya (jantan dan betina) bisa masuk jebakan,” tambah Ulum. Selain lalat buah, masalah lain yang juga menjadi kendala bagi petani lalat yakni munculnya penyakit antranoksa. “Kalau antranoksa itu penyakit secara menyeluruh, sementara lalat buah kebanyakan muncul saat musim penghujan saja,” jelasnya.

Di tanya soal harga jual, Ulum mengatakan tiap 1 kilogram apel dibanderol Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu. Untuk menutup kerugian, sebagian petani lebih memilih menanami lahan bekas tanaman apel tersebut dengan sayuran. “Ya kalau tidak bisa menangani penyakit lebih baik diganti saja dengan yang lebih produktif,”  pungkas Ulum. (iik/dan)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/