alexametrics
22.1 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Di Suwaru, Umat Kristen-Islam Membaur Kompak Bersihkan Tempat Ibadah

LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H  

Bersih dan rapi. Begitu kesan yang ditangkap Jawa Pos Radar Malang begitu masuk ke Desa Suwaru. Di sepanjang jalan, nyaris tidak ditemukan sampah berserakan. Kondisi tersebut juga terlihat di Tempat Pemakaman Umum dan sejumlah tempat ibadah. Baik gereja, masjid, dan musala. Penataan pagar setiap rumah pun begitu dengan rapi. Rasanya nyaman. Apalagi, suasana pedesaan begitu kental terasa. Warganya juga mayoritas ramah terhadap orang yang baru dikenalnya.

“Di sini ada kegiatan bersih-bersih rutinan setiap bulan, mulai dari makam, goronggorong dan tempat peribadatan. Semua berkumpul menjadi satu, tanpa pandang bulu (semua agama),” ucap Hari Sasmito, Kasi Kesra Desa Suwaru, Pagelaran sambil menunjukkan foto-foto kegiatan kerja bakti saat ditemui di kantornya Jumat (7/4). Pantas saja kalau TPU pun begitu bersih. Sebab tiap bulan, khu – susnya menjelang Ramadan, warga semua agama kerja bakti bersih-bersih.

TOLERANSI: Meski di tengah kampung umat Kristen, umat Islam cukup nyaman menjalankan ibadah di Masjid Darul Huda, Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Termasuk umat Kristen dan Islam membaur bersama membersihkan masjid dan musala. Ini demi saling menghormati. Begitu kompaknya warga Suwaru, imbuh Hari, umat Kristen tidak sungkan saat Ramadan ini ikut membangunkan warga untuk sahur. Mereka keliling kampung pada dini hari melantunkan sahur sahur sahur.

Sebaliknya juga begitu, saat umat Kristen punya gawe, kaum muslim di Suwaru pun guyub membantu. Misalnya, tak lama lagi, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Suwaru akan menggelar sesembahan. Biasanya beragam umat agama akan diundang berkumpul. Desa tersebut dihuni 950 Kepala Keluarga (KK). Di mana umat Islam ada 150 KK, sedangkan umat Kristiani 800 KK. ”Itu sebagai tanda syukur atas hasil bumi rakyat Suwaru yang bertempat di GKJW. Mulai dari buah-buahan, sayuran dan sebagainya,” imbuh Hari. Hasil bumi itu dibawa ke gereja, selanjutnya akan dijual secara lelang. Dari hasil penjualan itu, uangnya akan dibagikan kepada anak yatim piatu, pendeta, janda, orang miskin yang ada di Suwaru. ”Mereka tidak memandang golongan Islam, golongan Katolik, Protestan. Semua dibagi rata,” kata dia.

Jumlah peribadatan di Desa Suwaru sendiri terdiri dari satu GKJW, satu GPdI, satu masjid dan tiga musala. Jarak antarkeduanya lumayan berjahuan. Sebab mereka berada di dukuh masing-masing. Walaupun jarak peribadatan mereka berjauhan, hal itu tidak menjadi penghalang antarkeduanya hidup rukun. Seperti dituturkan Kiai Syahrowi, pengasuh TPQ di Masjid Darul Huda Suwaru, pernah suatu ketika, umat Kristiani membawakan takjil dan nasi. “Iya, tahun kemarin mereka membawa nasi dan minuman ke Masjid Darul Huda ini. Tentu kami bahagia, dan senang sekali. Kita buka puasa di sini,” kenang Syahrowi.

Walaupun keyakinan dalam memeluk agama tidak sama, tetapi mereka tetap menjujung tinggi nilai persaudaraan. “Jika hari raya tiba, biasanya umat Kristiani datang ke sini, pun sebaliknya, kita datang ke sana ketika hari rayanya mereka,” lanjut dia. Masjid Darul Huda sendiri berada di Dukuh Recobanteng, Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Jarak menuju jalan raya sekitar 7 kilo meter lebih. Sementara GKJW dan GPdI dekat dengan jalan raya. Posisinya dibangun di tengah-tengah pusat desa. Selain dekat dengan jalan besar, keduanya juga dekat dengan kantor kepala desa. “Kalau di Recobanteng sendiri, masyakatnya beragama Islam semua. Posisi kami berada di paling pojok Desa Suwaru,” kata dia.

Hal yang harus diambil hikmah dari desa ini adalah, mereka saling berdamai. Urusan menyembah Tuhan diurus masing-masing individu. “Agamaku agamaku, agamamu agamamu,” tutur dia. Hubungan antarsesama sejak dulu hingga kini sangat baik,. Tidak pernah ada polemik antarwarga yang mengatasnamakan agama. “Mereka layaknya seperti keluarga. Saling berkunjung antara satu sama lain walau jarak kita jauh,” ucapnya. perbedaan, kami mengedepankan kerukunan antarumat manusia” tutup Syahrowi. (abm)

LIPUTAN KHUSUS RAMADAN 1443 H  

Bersih dan rapi. Begitu kesan yang ditangkap Jawa Pos Radar Malang begitu masuk ke Desa Suwaru. Di sepanjang jalan, nyaris tidak ditemukan sampah berserakan. Kondisi tersebut juga terlihat di Tempat Pemakaman Umum dan sejumlah tempat ibadah. Baik gereja, masjid, dan musala. Penataan pagar setiap rumah pun begitu dengan rapi. Rasanya nyaman. Apalagi, suasana pedesaan begitu kental terasa. Warganya juga mayoritas ramah terhadap orang yang baru dikenalnya.

“Di sini ada kegiatan bersih-bersih rutinan setiap bulan, mulai dari makam, goronggorong dan tempat peribadatan. Semua berkumpul menjadi satu, tanpa pandang bulu (semua agama),” ucap Hari Sasmito, Kasi Kesra Desa Suwaru, Pagelaran sambil menunjukkan foto-foto kegiatan kerja bakti saat ditemui di kantornya Jumat (7/4). Pantas saja kalau TPU pun begitu bersih. Sebab tiap bulan, khu – susnya menjelang Ramadan, warga semua agama kerja bakti bersih-bersih.

TOLERANSI: Meski di tengah kampung umat Kristen, umat Islam cukup nyaman menjalankan ibadah di Masjid Darul Huda, Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran. (SUHARTO/RADAR MALANG)

Termasuk umat Kristen dan Islam membaur bersama membersihkan masjid dan musala. Ini demi saling menghormati. Begitu kompaknya warga Suwaru, imbuh Hari, umat Kristen tidak sungkan saat Ramadan ini ikut membangunkan warga untuk sahur. Mereka keliling kampung pada dini hari melantunkan sahur sahur sahur.

Sebaliknya juga begitu, saat umat Kristen punya gawe, kaum muslim di Suwaru pun guyub membantu. Misalnya, tak lama lagi, di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Suwaru akan menggelar sesembahan. Biasanya beragam umat agama akan diundang berkumpul. Desa tersebut dihuni 950 Kepala Keluarga (KK). Di mana umat Islam ada 150 KK, sedangkan umat Kristiani 800 KK. ”Itu sebagai tanda syukur atas hasil bumi rakyat Suwaru yang bertempat di GKJW. Mulai dari buah-buahan, sayuran dan sebagainya,” imbuh Hari. Hasil bumi itu dibawa ke gereja, selanjutnya akan dijual secara lelang. Dari hasil penjualan itu, uangnya akan dibagikan kepada anak yatim piatu, pendeta, janda, orang miskin yang ada di Suwaru. ”Mereka tidak memandang golongan Islam, golongan Katolik, Protestan. Semua dibagi rata,” kata dia.

Jumlah peribadatan di Desa Suwaru sendiri terdiri dari satu GKJW, satu GPdI, satu masjid dan tiga musala. Jarak antarkeduanya lumayan berjahuan. Sebab mereka berada di dukuh masing-masing. Walaupun jarak peribadatan mereka berjauhan, hal itu tidak menjadi penghalang antarkeduanya hidup rukun. Seperti dituturkan Kiai Syahrowi, pengasuh TPQ di Masjid Darul Huda Suwaru, pernah suatu ketika, umat Kristiani membawakan takjil dan nasi. “Iya, tahun kemarin mereka membawa nasi dan minuman ke Masjid Darul Huda ini. Tentu kami bahagia, dan senang sekali. Kita buka puasa di sini,” kenang Syahrowi.

Walaupun keyakinan dalam memeluk agama tidak sama, tetapi mereka tetap menjujung tinggi nilai persaudaraan. “Jika hari raya tiba, biasanya umat Kristiani datang ke sini, pun sebaliknya, kita datang ke sana ketika hari rayanya mereka,” lanjut dia. Masjid Darul Huda sendiri berada di Dukuh Recobanteng, Desa Suwaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Jarak menuju jalan raya sekitar 7 kilo meter lebih. Sementara GKJW dan GPdI dekat dengan jalan raya. Posisinya dibangun di tengah-tengah pusat desa. Selain dekat dengan jalan besar, keduanya juga dekat dengan kantor kepala desa. “Kalau di Recobanteng sendiri, masyakatnya beragama Islam semua. Posisi kami berada di paling pojok Desa Suwaru,” kata dia.

Hal yang harus diambil hikmah dari desa ini adalah, mereka saling berdamai. Urusan menyembah Tuhan diurus masing-masing individu. “Agamaku agamaku, agamamu agamamu,” tutur dia. Hubungan antarsesama sejak dulu hingga kini sangat baik,. Tidak pernah ada polemik antarwarga yang mengatasnamakan agama. “Mereka layaknya seperti keluarga. Saling berkunjung antara satu sama lain walau jarak kita jauh,” ucapnya. perbedaan, kami mengedepankan kerukunan antarumat manusia” tutup Syahrowi. (abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/