alexametrics
21.5 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Darurat, Pemkab Malang Sulap Sekolah Jadi Tempat Isoman

MALANG – Bisa jadi ini kali pertama sepanjang sejarah Kabupaten Malang. Gedung sekolah yang sebelumnya digunakan untuk proses belajar mengajar, kini bakal disulap menjadi ruang isolasi mandiri (isoman) pasien positif virus korona (Covid-19). Totalnya ada 1.162 sekolah yang bakal ditempati penderita Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Malang Rachmat Hardjono mengatakan, pihaknya akan mendukung kebijakan kebijakan Bupati Malang H. M. Sanusi terkait gedung sekolah jadi ruang isoman. Sebab, dia menilai kondisi Covid-19 di Bumi Kanjuruhan sedang mengganas. Selain itu, sejak setahun belakangan ini pembelajaran dilaksanakan secara daring atau online sehingga kebutuhan gedung sekolah tidak mendesak.

Rachmat mengatakan, disdik telah meminta koordinator wilayah dan musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SDN dan MKKS SMPN untuk menyiapkan tempat. ”Ya, kami minta begitu supaya pandemi ini dapat diatasi,” ujar Rachmat kemarin (9/7).

Dia lantas merinci jumlah sekolah. Dari 1.162 sekolah itu, ada 97 gedung SMP negeri dan 1.065 gedung SD negeri. Ribuan gedung tersebut akan diserahkan disdik kepada Pemkab Malang. Teknisnya, para kepala sekolah (kepsek) akan mendapat arahan terlebih dahulu dari tim satgas penanganan Covid-19 di tingkat kecamatan serta akan ada pengawasan dari puskesmas terdekat terkait penggunaan fasilitas tersebut.

Mengenai pembelajaran siswa, pejabat eselon II B Pemkab Malang itu menginstruksikan seluruh siswa melakukan belajar dari rumah alias daring. Terkait lamanya penggunaan gedung tersebut juga masih belum diketahui olehnya. Yang terpenting, Rachmat juga meminta agar anak usia pelajar, yakni 12-17 tahun, sesegera mungkin bisa vaksin. ”Tentu kami berharap agar tak ada klaster sekolah yang bisa menimbulkan kegaduhan,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Satgas (Kasatgas) Covid-19 Kabupaten Malang yang juga Dandim 0818 Kabupaten Malang–Batu Letkol Inf Yusub Dody Sandra mengatakan, gedung sekolah dijadikan ruang isolasi supaya tidak sampai ada pasien Covid-19 yang telantar, terutama ketika rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 sudah penuh. ”Penanganan pasien Covid-19 ini tidak bisa difokuskan pada satu titik saja, mengingat Kabupaten Malang letak geografisnya luas,” ujar Dody.

Menurutnya, pemberdayaan sekolah yang berdekatan dengan puskesmas efektif untuk ruang isolasi. Hal itu dilakukan untuk memudahkan penanganan pertama terhadap pasien positif Covid-19 ketika RS penuh. Apalagi selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali ini, sekolah tatap muka ditiadakan. Sehingga gedung dan fasilitas lain di sekolah belum terpakai.

Meski sudah menyiapkan opsi sekolah menjadi ruang isolasi pasien Covid-19, namun Dody berharap opsi tersebut tidak sampai terealisasi. Misalnya, ke depan terjadi penurunan jumlah kasus Covid-19. Jika hal itu terjadi, maka pasien bisa ditampung di RS sehingga tidak perlu memakai fasilitas di sekolah.

Perwira TNI dengan dua melati di pundaknya itu optimistis kasus Covid-19 di Kabupaten Malang bakal menurun. Sebab, selama beberapa hari berlangsungnya PPKM darurat ini, dia melihat tingkat kepatuhan masyarakat cukup tinggi. ”Namun, sosialisasi di lapangan perlu ditingkatkan lagi karena masih ada yang melakukan pelanggaran,” katanya. (rmc/adn/fik/c1/dan)

MALANG – Bisa jadi ini kali pertama sepanjang sejarah Kabupaten Malang. Gedung sekolah yang sebelumnya digunakan untuk proses belajar mengajar, kini bakal disulap menjadi ruang isolasi mandiri (isoman) pasien positif virus korona (Covid-19). Totalnya ada 1.162 sekolah yang bakal ditempati penderita Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Malang Rachmat Hardjono mengatakan, pihaknya akan mendukung kebijakan kebijakan Bupati Malang H. M. Sanusi terkait gedung sekolah jadi ruang isoman. Sebab, dia menilai kondisi Covid-19 di Bumi Kanjuruhan sedang mengganas. Selain itu, sejak setahun belakangan ini pembelajaran dilaksanakan secara daring atau online sehingga kebutuhan gedung sekolah tidak mendesak.

Rachmat mengatakan, disdik telah meminta koordinator wilayah dan musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS) SDN dan MKKS SMPN untuk menyiapkan tempat. ”Ya, kami minta begitu supaya pandemi ini dapat diatasi,” ujar Rachmat kemarin (9/7).

Dia lantas merinci jumlah sekolah. Dari 1.162 sekolah itu, ada 97 gedung SMP negeri dan 1.065 gedung SD negeri. Ribuan gedung tersebut akan diserahkan disdik kepada Pemkab Malang. Teknisnya, para kepala sekolah (kepsek) akan mendapat arahan terlebih dahulu dari tim satgas penanganan Covid-19 di tingkat kecamatan serta akan ada pengawasan dari puskesmas terdekat terkait penggunaan fasilitas tersebut.

Mengenai pembelajaran siswa, pejabat eselon II B Pemkab Malang itu menginstruksikan seluruh siswa melakukan belajar dari rumah alias daring. Terkait lamanya penggunaan gedung tersebut juga masih belum diketahui olehnya. Yang terpenting, Rachmat juga meminta agar anak usia pelajar, yakni 12-17 tahun, sesegera mungkin bisa vaksin. ”Tentu kami berharap agar tak ada klaster sekolah yang bisa menimbulkan kegaduhan,” sambungnya.

Sementara itu, Ketua Satgas (Kasatgas) Covid-19 Kabupaten Malang yang juga Dandim 0818 Kabupaten Malang–Batu Letkol Inf Yusub Dody Sandra mengatakan, gedung sekolah dijadikan ruang isolasi supaya tidak sampai ada pasien Covid-19 yang telantar, terutama ketika rumah sakit (RS) rujukan Covid-19 sudah penuh. ”Penanganan pasien Covid-19 ini tidak bisa difokuskan pada satu titik saja, mengingat Kabupaten Malang letak geografisnya luas,” ujar Dody.

Menurutnya, pemberdayaan sekolah yang berdekatan dengan puskesmas efektif untuk ruang isolasi. Hal itu dilakukan untuk memudahkan penanganan pertama terhadap pasien positif Covid-19 ketika RS penuh. Apalagi selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali ini, sekolah tatap muka ditiadakan. Sehingga gedung dan fasilitas lain di sekolah belum terpakai.

Meski sudah menyiapkan opsi sekolah menjadi ruang isolasi pasien Covid-19, namun Dody berharap opsi tersebut tidak sampai terealisasi. Misalnya, ke depan terjadi penurunan jumlah kasus Covid-19. Jika hal itu terjadi, maka pasien bisa ditampung di RS sehingga tidak perlu memakai fasilitas di sekolah.

Perwira TNI dengan dua melati di pundaknya itu optimistis kasus Covid-19 di Kabupaten Malang bakal menurun. Sebab, selama beberapa hari berlangsungnya PPKM darurat ini, dia melihat tingkat kepatuhan masyarakat cukup tinggi. ”Namun, sosialisasi di lapangan perlu ditingkatkan lagi karena masih ada yang melakukan pelanggaran,” katanya. (rmc/adn/fik/c1/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/