alexametrics
22.7 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Tegas dan Saklek, Begini Sosok Bupati Malang ke-16 Muhammad Said

RADAR MALANG – Duka menyelimuti kediaman mantan Bupati Malang Kolonel Inf (Purn) Muhammad Said. Pria yang pernah menjadi orang nomor satu di Kabupaten Malang medio tahun 1995 sampai 2000 itu menghembuskan napas  terakhirnya pada pukul 03.45 WIB pada Rabu (10/11).

Sebelumnya, Said menjalani perawatan selama lima hari di rumah sakit (RS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). ”Bapak mengalami sakit ginjal, gejala serangan stroke, dan gula darah,” ujar Muhamad Naizah, anak pertama Said ketika ditemui di rumah duka, Jalan Borobudur Agung Barat, Blimbing, Kota Malang.

Sejak purna mengemban amanah sebagai bupati Malang, kata Naizah, ayahnya tidak pernah sakit. Setiap mengambil uang pensiun, kata dia, Said selalu memeriksakan kesehatannya. Hasilnya, kesehatan Said bagus. ”(sebelumnya) bapak itu tidak pernah sakit, namun karena faktor usia ginjalnya kena. Akhirnya datang semua penyakit,” kata Naizah.

Said meninggal dunia di usia 74 tahun. Dia meninggalkan empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki. Semasa hidup, bupati ke-16 itu dikenal sebagai tentara yang tegas. Ketika mengemban amanah sebagai bupati Malang, Said juga menjadi pejabat yang sederhana. ”Bapak pernah bilang, tidak ingin menjabat (bupati) sebanyak dua periode. Cukup satu kali saja,” ucap Naizah.

Pantauan koran ini, ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan. Bupati Malang H M. Sanusi, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, Sekretaris Satpol PP Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang, dan beberapa pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Malang. “Bagi kami, beliau ini pemimpin yang menginspirasi,” kata Didik.

Selain itu, kata Didik, Said termasuk pemimpin yang tegas dan saklek dalam menjalankan aturan. “Mungkin karena beliau dari ABRI  (sekarang TNI), jadi tegas dan saklek,” tandas mantan ketua DPRD Kabupaten Malang itu.

Menurutnya, saat ini gaya kepemimpinan tersebut banyak diterapkan di Bumi Kanjuruhan. Utamanya bagi para pejabat yang pernah mendapatkan didikan dari Said. “Banyak teman-teman kepala dinas itu tinggalannya Pak Said. Jadi bisa saja gaya kepemimpinannya yang masih melekat,” katanya. (cj9/fik/dan/rmc)

RADAR MALANG – Duka menyelimuti kediaman mantan Bupati Malang Kolonel Inf (Purn) Muhammad Said. Pria yang pernah menjadi orang nomor satu di Kabupaten Malang medio tahun 1995 sampai 2000 itu menghembuskan napas  terakhirnya pada pukul 03.45 WIB pada Rabu (10/11).

Sebelumnya, Said menjalani perawatan selama lima hari di rumah sakit (RS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). ”Bapak mengalami sakit ginjal, gejala serangan stroke, dan gula darah,” ujar Muhamad Naizah, anak pertama Said ketika ditemui di rumah duka, Jalan Borobudur Agung Barat, Blimbing, Kota Malang.

Sejak purna mengemban amanah sebagai bupati Malang, kata Naizah, ayahnya tidak pernah sakit. Setiap mengambil uang pensiun, kata dia, Said selalu memeriksakan kesehatannya. Hasilnya, kesehatan Said bagus. ”(sebelumnya) bapak itu tidak pernah sakit, namun karena faktor usia ginjalnya kena. Akhirnya datang semua penyakit,” kata Naizah.

Said meninggal dunia di usia 74 tahun. Dia meninggalkan empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki. Semasa hidup, bupati ke-16 itu dikenal sebagai tentara yang tegas. Ketika mengemban amanah sebagai bupati Malang, Said juga menjadi pejabat yang sederhana. ”Bapak pernah bilang, tidak ingin menjabat (bupati) sebanyak dua periode. Cukup satu kali saja,” ucap Naizah.

Pantauan koran ini, ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan. Bupati Malang H M. Sanusi, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto, Sekretaris Satpol PP Kabupaten Malang Firmando Hasiholan Matondang, dan beberapa pejabat eselon II di lingkungan Pemkab Malang. “Bagi kami, beliau ini pemimpin yang menginspirasi,” kata Didik.

Selain itu, kata Didik, Said termasuk pemimpin yang tegas dan saklek dalam menjalankan aturan. “Mungkin karena beliau dari ABRI  (sekarang TNI), jadi tegas dan saklek,” tandas mantan ketua DPRD Kabupaten Malang itu.

Menurutnya, saat ini gaya kepemimpinan tersebut banyak diterapkan di Bumi Kanjuruhan. Utamanya bagi para pejabat yang pernah mendapatkan didikan dari Said. “Banyak teman-teman kepala dinas itu tinggalannya Pak Said. Jadi bisa saja gaya kepemimpinannya yang masih melekat,” katanya. (cj9/fik/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/