alexametrics
21.1 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Korban Gempa Malang Tetap Sambut Ramadan dengan Tradisi Megengan

MALANG – Meski menjadi korban bencana Gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter tak lantas membuat masyarakat lupa akan tradisi. Menyambut bulan suci Ramadan, mereka tetap melaksanakan megengan. Yakni tradisi menyambut bulan puasa dengan berdoa bersama dan membagikan makanan.

Seperti yang terlihat di musala Al Mutaqqin di Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini. Tampak puluhan warga datang ke musala walaupun sebagian rumah mereka runtuh akibat gempa.

Slamet Riyanto, salah seorang warga menyatakan, warga tetap melaksanakan tradisi megengan meski dalam situasi sulit. ”Alhamdulillah, meski rumah rusak parah, bangunan musala tidak apa-apa. Karena itu, warga sepakat untuk tetap melaksanakan megengan,” terangnya.

Slamet menyatakan, rumah di sekitar musala, termasuk rumah miliknya hancur akibat gempa. Kini dirinya juga tinggal di tenda darurat. “Di keluarga kami ada enam orang, rumah kami rusak parah, akhirnya dirubuhkan,” kata dia. Ia menjelaskan, di Dusun Krajan ada tiga musala. Namun warga hanya berani menggunakan musala Al Mutaqqin karena bangunannya tak sampai terdampak gempa. Sementara dua musala lainnya, kondisinya tak jauh beda dengan rumah warga yang rusak akibat guncangan gempa.

Pewarta: Biyan Mudzaky

MALANG – Meski menjadi korban bencana Gempa berkekuatan 6,1 Skala Richter tak lantas membuat masyarakat lupa akan tradisi. Menyambut bulan suci Ramadan, mereka tetap melaksanakan megengan. Yakni tradisi menyambut bulan puasa dengan berdoa bersama dan membagikan makanan.

Seperti yang terlihat di musala Al Mutaqqin di Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini. Tampak puluhan warga datang ke musala walaupun sebagian rumah mereka runtuh akibat gempa.

Slamet Riyanto, salah seorang warga menyatakan, warga tetap melaksanakan tradisi megengan meski dalam situasi sulit. ”Alhamdulillah, meski rumah rusak parah, bangunan musala tidak apa-apa. Karena itu, warga sepakat untuk tetap melaksanakan megengan,” terangnya.

Slamet menyatakan, rumah di sekitar musala, termasuk rumah miliknya hancur akibat gempa. Kini dirinya juga tinggal di tenda darurat. “Di keluarga kami ada enam orang, rumah kami rusak parah, akhirnya dirubuhkan,” kata dia. Ia menjelaskan, di Dusun Krajan ada tiga musala. Namun warga hanya berani menggunakan musala Al Mutaqqin karena bangunannya tak sampai terdampak gempa. Sementara dua musala lainnya, kondisinya tak jauh beda dengan rumah warga yang rusak akibat guncangan gempa.

Pewarta: Biyan Mudzaky

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/