alexametrics
28 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Tangkal Hewan Berpenyakit Menular Masuk Kabupaten Malang

KEPANJEN – Ditemukannya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di sejumlah hewan ternak di Jawa Timur (Jatim) menjadi perhatian serius Pemkab Malang. Untuk mengantisipasi masuknya wabah hewan ternak di Kabupaten Malang, pemerintah bersama aparat kepolisian gencar memeriksa sapi-sapi milik peternak.

Kemarin (11/5), personel dari Polsek Kromengan memeriksa hewan ternak di sejumlah kandang warga. Selain aparat kepolisian, juga ada Koordinator Penyuluh Teknis Peternakan Kecamatan (PTPK).

Kapolsek Kromengan AKP Heri Eko Utomo mengatakan, perlu ada sosialisasi dan koordinasi terkait pencegahan penularan wabah PMK kepada peternak. ”Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ini menular pada hewan mamalia. Seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan kuda,” kata Hari Eko kemarin.

Adapun tanda klinis penyakit PMK yaitu demam tinggi sekitar 39- 41 Celsius. Kemudian terdapat luka di mulut maupun lidah seperti sariawan. Atau bisa juga keluar lendir berbusa yang berlebih. Setelah itu, nafsu makan berkurang, luka pada kaki dan lepasnya kuku. Ternak juga susah berdiri, badan gemetar, napas cepat, dan produksi susu menurun.

”Penyakit ini tidak menular ke manusia. Tetapi sebaiknya petugas maupun pemilik ternak menggunakan APD saat melakukan pengecekan terhadap hewan ternak yang diduga terserang wabah,” kata mantan KBO Satreskrim Polres Malang itu.

Jika ditemukan hewan yang diduga terinfeksi penyakit PMK, langkah utama yaitu memisahkan dari hewan lain yang sehat. Petugas penjaga kandang juga wajib membersihkan tangan sebelum menyentuh hewan lainnya. Tidak lupa mereka harus melaporkan kepada petugas Tim Kesehatan untuk ditindak lanjuti.

“Apabila terjadi PMK, tim mengambil tindakan dengan datang ke lokasi mengambil sampel untuk diperiksa di laboratorium,” terang dokter hewan dari dinas peternakan dan kesehatan hewan (Disnakeswan) Kabupaten Malang drh Andri.

“Apabila positif, akan dilakukan pendataan radius 2 kilometer dari titik ternak wabah. Kemudian diberikan vaksin bagi hewan yang sehat, sedangkan hewan yang sakit diberikan pengobatan,” Imbuhnya.

Dalam skenario terburuk, kata dia, hewan yang terkena PMK dipotong paksa dengan didampingi petugas di tempat isolasi. Daging ternak hasil potong paksa dapat dikonsumsi setelah dimasak pada temperatur di atas 70 – 80 derajat  selama 30 menit. Tapi organ dalam seperti jeroan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur.(fin/dan)

KEPANJEN – Ditemukannya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di sejumlah hewan ternak di Jawa Timur (Jatim) menjadi perhatian serius Pemkab Malang. Untuk mengantisipasi masuknya wabah hewan ternak di Kabupaten Malang, pemerintah bersama aparat kepolisian gencar memeriksa sapi-sapi milik peternak.

Kemarin (11/5), personel dari Polsek Kromengan memeriksa hewan ternak di sejumlah kandang warga. Selain aparat kepolisian, juga ada Koordinator Penyuluh Teknis Peternakan Kecamatan (PTPK).

Kapolsek Kromengan AKP Heri Eko Utomo mengatakan, perlu ada sosialisasi dan koordinasi terkait pencegahan penularan wabah PMK kepada peternak. ”Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ini menular pada hewan mamalia. Seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan kuda,” kata Hari Eko kemarin.

Adapun tanda klinis penyakit PMK yaitu demam tinggi sekitar 39- 41 Celsius. Kemudian terdapat luka di mulut maupun lidah seperti sariawan. Atau bisa juga keluar lendir berbusa yang berlebih. Setelah itu, nafsu makan berkurang, luka pada kaki dan lepasnya kuku. Ternak juga susah berdiri, badan gemetar, napas cepat, dan produksi susu menurun.

”Penyakit ini tidak menular ke manusia. Tetapi sebaiknya petugas maupun pemilik ternak menggunakan APD saat melakukan pengecekan terhadap hewan ternak yang diduga terserang wabah,” kata mantan KBO Satreskrim Polres Malang itu.

Jika ditemukan hewan yang diduga terinfeksi penyakit PMK, langkah utama yaitu memisahkan dari hewan lain yang sehat. Petugas penjaga kandang juga wajib membersihkan tangan sebelum menyentuh hewan lainnya. Tidak lupa mereka harus melaporkan kepada petugas Tim Kesehatan untuk ditindak lanjuti.

“Apabila terjadi PMK, tim mengambil tindakan dengan datang ke lokasi mengambil sampel untuk diperiksa di laboratorium,” terang dokter hewan dari dinas peternakan dan kesehatan hewan (Disnakeswan) Kabupaten Malang drh Andri.

“Apabila positif, akan dilakukan pendataan radius 2 kilometer dari titik ternak wabah. Kemudian diberikan vaksin bagi hewan yang sehat, sedangkan hewan yang sakit diberikan pengobatan,” Imbuhnya.

Dalam skenario terburuk, kata dia, hewan yang terkena PMK dipotong paksa dengan didampingi petugas di tempat isolasi. Daging ternak hasil potong paksa dapat dikonsumsi setelah dimasak pada temperatur di atas 70 – 80 derajat  selama 30 menit. Tapi organ dalam seperti jeroan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur.(fin/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/