alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

Setahun, Nelayan Malang Selatan Hasilkan 5.000 Ton Tuna Sirip Kuning

MALANG– Komoditas tuna sirip kuning masih menjadi primadona yang dihasilkan para nelayan di Malang Selatan. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengatakan, dalam satu tahun rata-rata hasil tangkapan ikan tuna dari Samudra Hindia yang masuk ke kabupaten mencapai 5 ribu ton. Jumlah tersebut paling mendominasi jika dibanding dengan hasil tangkapan jenis lainnya.

”Total produksi tangkapan ikan laut kami sekitar 14 ribu sampai 16 ribu ton dalam setahun,” kata Victor. Dia menyebut, selama ini ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Malang sudah masuk dalam pasar ekspor. Namun, pengirimannya masih melalui pihak ketiga yang ada di Surabaya dan Bali.

Sebagai salah satu sumber devisa negara, dia berharap Kabupaten Malang bisa punya tempat pengelolaan ikan sendiri. ”Harapannya ke depan di Malang, utamanya Pantai Sendang Biru, ada perusahaan pengelola tuna yang langsung bisa ekspor dari Malang,” imbuh Victor.

Tahun lalu, Victor mengatakan, produksi ikan di kabupaten mengalami penurunan. Hal ini disebabkan lesunya permintaan ikan di pasaran sehingga nelayan mengurangi aktivitas penangkapan agar tak ada over produksi ikan. ”Nelayan mengurangi aktivitas tangkapannya untuk menjaga stabilitas harga dan tidak terjadi over produksi sehingga nelayan sulit menjual hasil tangkapannya,” beber dia

Di lapangan, pascaombak tinggi dan cuaca buruk yang terjadi beberapa minggu belakangan, kini para nelayan sudah mulai kembali melaut. Salah satu nelayan Pantai Kondang Merak, Aral Subagyo, memaparkan bahwa beberapa bulan belakangan masih sering terjadi gelombang tinggi yang menyebabkan nelayan tidak melaut. ”Solusinya kalau pas ada kesempatan ombak sedang tidak tinggi, kami langsung turun melaut,” terangnya. Kondisi gelombang laut itu bisa mereka pantau melalui pusat informasi dari BMKG yang kini dapat diakses oleh seluruh nelayan.
Terpisah, prakirawan BMKG Karangploso Edythya Ferlani menjelaskan bahwa hingga hari ini (13/3) kondisi cuaca di sebagian besar wilayah perairan Jawa Timur berpotensi hujan ringan dan sedang. ”Arah angin didominasi dari barat daya dengan kecapatan angin maksimum di Laut Jawa bagian timur 17 knot dan Hindia selatan Jatim sebesar 14 knot,” terangnya.

Sementara untuk ketinggian gelombang, Ferlani mengatakan bahwa ketinggian ombak laut di Selat Madura berkisar antara 0,3 hingga 0,5 meter, sedangkan di Laut Jawa bagian timur berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter. ”Di Samudra Hindia di bagian selatan Jatim ketinggian ombak diperkirakan mencapai antara 1,0 hingga 2,3 meter,” tandasnya. (rmc/fik/ajh/c1/iik)

MALANG– Komoditas tuna sirip kuning masih menjadi primadona yang dihasilkan para nelayan di Malang Selatan. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring mengatakan, dalam satu tahun rata-rata hasil tangkapan ikan tuna dari Samudra Hindia yang masuk ke kabupaten mencapai 5 ribu ton. Jumlah tersebut paling mendominasi jika dibanding dengan hasil tangkapan jenis lainnya.

”Total produksi tangkapan ikan laut kami sekitar 14 ribu sampai 16 ribu ton dalam setahun,” kata Victor. Dia menyebut, selama ini ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Malang sudah masuk dalam pasar ekspor. Namun, pengirimannya masih melalui pihak ketiga yang ada di Surabaya dan Bali.

Sebagai salah satu sumber devisa negara, dia berharap Kabupaten Malang bisa punya tempat pengelolaan ikan sendiri. ”Harapannya ke depan di Malang, utamanya Pantai Sendang Biru, ada perusahaan pengelola tuna yang langsung bisa ekspor dari Malang,” imbuh Victor.

Tahun lalu, Victor mengatakan, produksi ikan di kabupaten mengalami penurunan. Hal ini disebabkan lesunya permintaan ikan di pasaran sehingga nelayan mengurangi aktivitas penangkapan agar tak ada over produksi ikan. ”Nelayan mengurangi aktivitas tangkapannya untuk menjaga stabilitas harga dan tidak terjadi over produksi sehingga nelayan sulit menjual hasil tangkapannya,” beber dia

Di lapangan, pascaombak tinggi dan cuaca buruk yang terjadi beberapa minggu belakangan, kini para nelayan sudah mulai kembali melaut. Salah satu nelayan Pantai Kondang Merak, Aral Subagyo, memaparkan bahwa beberapa bulan belakangan masih sering terjadi gelombang tinggi yang menyebabkan nelayan tidak melaut. ”Solusinya kalau pas ada kesempatan ombak sedang tidak tinggi, kami langsung turun melaut,” terangnya. Kondisi gelombang laut itu bisa mereka pantau melalui pusat informasi dari BMKG yang kini dapat diakses oleh seluruh nelayan.
Terpisah, prakirawan BMKG Karangploso Edythya Ferlani menjelaskan bahwa hingga hari ini (13/3) kondisi cuaca di sebagian besar wilayah perairan Jawa Timur berpotensi hujan ringan dan sedang. ”Arah angin didominasi dari barat daya dengan kecapatan angin maksimum di Laut Jawa bagian timur 17 knot dan Hindia selatan Jatim sebesar 14 knot,” terangnya.

Sementara untuk ketinggian gelombang, Ferlani mengatakan bahwa ketinggian ombak laut di Selat Madura berkisar antara 0,3 hingga 0,5 meter, sedangkan di Laut Jawa bagian timur berkisar antara 0,5 hingga 1,5 meter. ”Di Samudra Hindia di bagian selatan Jatim ketinggian ombak diperkirakan mencapai antara 1,0 hingga 2,3 meter,” tandasnya. (rmc/fik/ajh/c1/iik)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/