alexametrics
25.4 C
Malang
Friday, 20 May 2022

Update Gempa Malang: Jumlah Pengungsi Nyaris 1000 Orang

MALANG – Recovery dampak gempa di Kabupaten Malang menemui berbagai kendala. Keterbatasan anggaran dari pemerintah hingga benturan dengan protokol kesehatan Covid-19 membuat penanganan terhadap korban menjadi terhambat.

Sebagai contoh, untuk tempat pengungsian, Pemkab Malang harus mencarikan rumah kontrakan bagi warga yang terdampak gempa. Sebab kapasitas shelter tidak bisa diisi maksimal untuk dihuni pengungsi karena keharusan melakukan physical distancing.

Selain itu, mereka juga dituntut cepat dalam mematangkan proses validasi korban-korban material. Tahap itu berkaitan dengan proses pengajuan bantuan stimulus, yang sebelumnya sempat dijanjikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara mulai Sabtu lalu (10/4) hingga kemarin (13/4), jumlah korban material terpantau terus meningkat. Terakhir hingga kemarin pukul 17.00, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat ada 4.404 unit rumah yang terdampak.

Rinciannya terdiri dari 1.925 rumah rusak ringan, 1.319 rusak sedang, dan 1.160 rusak berat. Di awal kabar gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) itu mengemuka, BPBD mencatat ada 23 kecamatan yang terdampak. Namun, hingga kemarin (13/4) jumlahnya diketahui telah meningkat menjadi 29 kecamatan yang terdampak.

Update data menyebutkan, jumlah warga yang mengungsi karena terdampak gempa Malang terus bertambah. Hingga kemarin sore BPBD mencatat ada 932 warga yang terpaksa mengungsi. Lokasi pengungsian terbanyak ada di Kecamatan Tirtoyudo dengan 750 pengungsi.

”Di Tirtoyudo pengungsinya tersebar di 3 desa, yakni Desa Jogomulyan, Sumbertangkil, dan Kepatihan,” kata Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan.

Sesuai arahan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo, seluruh warga yang terpaksa meninggalkan rumahnya itu memang tidak diperbolehkan untuk menempati pos pengungsian. Tujuannya untuk menghindari kerumunan warga yang berpotensi menimbulkan klaster baru Covid-19.

Gantinya, warga-warga itu harus direlokasi ke rumah warga lainnya dengan sistem sewa. Seluruh biaya sewa ditanggung pemerintah. Dalam kunjungannya ke Kecamatan Ampelgading minggu (11/4) lalu, Doni juga sempat menjanjikan bantuan stimulus untuk warga-warga yang rumahnya rusak.

Warga yang rumahnya rusak berat bisa mendapatkan bantuan Rp 50 juta. Sementara yang rumahnya rusak sedang bisa mendapat Rp 25 juta. Sedangkan yang rusak ringan bisa mendapat bantuan Rp 10 juta.

Sembari menunggu janji bantuan itu diturunkan, kemarin ada satu solusi yang disampaikan Bupati Malang Drs H.M. Sanusi MM agar masyarakat yang rumahnya rusak, bisa segera punya tempat tinggal lagi. Solusinya yakni membangunkan rumah klenengan atau rumah sementara yang bisa dihuni warga terdampak gempa.

”Kami (akan) bangunkan rumah sementara yang layak huni tapi bukan gedong,” kata dia di sela-sela kunjungan ke Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo, kemarin sore (13/4).(fik/c1/by)

MALANG – Recovery dampak gempa di Kabupaten Malang menemui berbagai kendala. Keterbatasan anggaran dari pemerintah hingga benturan dengan protokol kesehatan Covid-19 membuat penanganan terhadap korban menjadi terhambat.

Sebagai contoh, untuk tempat pengungsian, Pemkab Malang harus mencarikan rumah kontrakan bagi warga yang terdampak gempa. Sebab kapasitas shelter tidak bisa diisi maksimal untuk dihuni pengungsi karena keharusan melakukan physical distancing.

Selain itu, mereka juga dituntut cepat dalam mematangkan proses validasi korban-korban material. Tahap itu berkaitan dengan proses pengajuan bantuan stimulus, yang sebelumnya sempat dijanjikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara mulai Sabtu lalu (10/4) hingga kemarin (13/4), jumlah korban material terpantau terus meningkat. Terakhir hingga kemarin pukul 17.00, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat ada 4.404 unit rumah yang terdampak.

Rinciannya terdiri dari 1.925 rumah rusak ringan, 1.319 rusak sedang, dan 1.160 rusak berat. Di awal kabar gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) itu mengemuka, BPBD mencatat ada 23 kecamatan yang terdampak. Namun, hingga kemarin (13/4) jumlahnya diketahui telah meningkat menjadi 29 kecamatan yang terdampak.

Update data menyebutkan, jumlah warga yang mengungsi karena terdampak gempa Malang terus bertambah. Hingga kemarin sore BPBD mencatat ada 932 warga yang terpaksa mengungsi. Lokasi pengungsian terbanyak ada di Kecamatan Tirtoyudo dengan 750 pengungsi.

”Di Tirtoyudo pengungsinya tersebar di 3 desa, yakni Desa Jogomulyan, Sumbertangkil, dan Kepatihan,” kata Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan.

Sesuai arahan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo, seluruh warga yang terpaksa meninggalkan rumahnya itu memang tidak diperbolehkan untuk menempati pos pengungsian. Tujuannya untuk menghindari kerumunan warga yang berpotensi menimbulkan klaster baru Covid-19.

Gantinya, warga-warga itu harus direlokasi ke rumah warga lainnya dengan sistem sewa. Seluruh biaya sewa ditanggung pemerintah. Dalam kunjungannya ke Kecamatan Ampelgading minggu (11/4) lalu, Doni juga sempat menjanjikan bantuan stimulus untuk warga-warga yang rumahnya rusak.

Warga yang rumahnya rusak berat bisa mendapatkan bantuan Rp 50 juta. Sementara yang rumahnya rusak sedang bisa mendapat Rp 25 juta. Sedangkan yang rusak ringan bisa mendapat bantuan Rp 10 juta.

Sembari menunggu janji bantuan itu diturunkan, kemarin ada satu solusi yang disampaikan Bupati Malang Drs H.M. Sanusi MM agar masyarakat yang rumahnya rusak, bisa segera punya tempat tinggal lagi. Solusinya yakni membangunkan rumah klenengan atau rumah sementara yang bisa dihuni warga terdampak gempa.

”Kami (akan) bangunkan rumah sementara yang layak huni tapi bukan gedong,” kata dia di sela-sela kunjungan ke Desa Jogomulyan, Kecamatan Tirtoyudo, kemarin sore (13/4).(fik/c1/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/