alexametrics
20.7 C
Malang
Monday, 23 May 2022

Buntut 122 Sapi Terserang PMK, Pemkab Malang Tutup Semua Pasar Hewan

KABUPATEN- Keputusan cepat mengantisipasi penularan penyakit mulut dan kuku pada hewan dibuat Pemkab Malang. Yakni dengan menutup semua atau 18 pasar hewan. Ini buntut ditemukannya 122 sapi di Ngantang yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Ini berdasar data terbaru Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang pada 13 Mei 2022 kemarin.

Sementara, jumlah sapi yang sudah sembuh sekitar 20 persen dari yang sakit tersebut. “Temuan terbaru 122 sapi yang sakit. Sedangkan, yang sembuh sekitar 19 ekor,” ujar Kepala DPKH Kabupaten Malang, Nurcahyo kepada wartawan di Pendopo Agung Jalan Agus Salim, kemarin (13/5).

Seluruh sapi yang sakit berada di wilayah Kecamatan Ngantang. Belum diketahui dari mana penularan awal hewan ternak tersebut. Tetapi, berdasarkan data yang ada, ada dua dusun yang menjadi pusat penyebaran penyakit sapi. Yakni, Dusun Sumbermulyo serta Dusun Bendorejo. Dua wilayah ini berada di Desa Sumberagung.

Sedangkan, populasi total dari sapi yang ada di wilayah Kecamatan Ngantang adalah 18.500 ekor. Sebanyak 122 sapi yang ada di Ngantang, memenuhi gejala sakit mulut dan kuku. Pertama, suhu tinggi di pangkal telinga. Kemudian, mulut si sapi berlendir. Hidungnya melepuh. Napas tersengal-sengal. Lidahnya menjulur secara terus menerus. Selanjutnya, hewan ini tidak enak makan, kaki pincang serta ada luka di kuku. Pemerintah sudah menutup pasar hewan di seluruh Kabupaten Malang. Kemudian, mutasi ternak juga dibatasi. Ini supaya tidak ada penularan tambahan. ”Kami juga berikan pengobatan berupa antibiotik dan vitamin sebagai pencegahan. Pemberian disinfektan kandang juga kami berlakukan,” jelas Nurcahyo.

Meski demikian, Nurcahyo menyebut, belum ada sapi yang harus dipotong paksa. Menurutnya, satu-satunya bagian sapi yang bisa dikonsumsi adalah daging. Tetapi, itu pun harus dimasak dalam kondisi matang sebelum dikonsumsi. Daging harus terpapar suhu 70-80 derajat celsius selama minimal 30 menit. Sedangkan, organ lainnya harus dimusnahkan. Sementara itu, seluruh pasar hewan di penjuru Kabupaten Malang dipastikan tutup.

Bupati Malang telah membuat edaran agar tidak ada pasar hewan yang beroperasi. Satu-satunya tempat untuk ternak yang buka adalah Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemkab Malang. Karena, di situ akan menjadi pusat pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku. Contohnya saja, pasar hewan di Tomporejo, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin, gerbang masuk pasar hewan sudah ditutup. Kemudian, terdapat pengumuman yang bertuliskan bahwa pasar hewan ditutup sementara. Penutupan ini untuk kewaspadaan terhadap penularan penyakit mulut dan kuku pada sapi. Andi Irfan, salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Singosari, menyebut bahwa dia berjualan tiap hari Jumat dan Senin. Harusnya, kemarin dia berdagang. Tetapi, karena ada pengumuman ini, dia batal bertransaksi. “Untuk sementara ini, penutupan (pasar) tidak pengaruh pada penjualan. Tetapi, kalau berlarut-larut, ya lambat laun pasti berpengaruh,” kata Andi saat dikonfirmasi kemarin.

Dia mengatakan, pedagang sapi di Pasar Hewan Dengkol membatalkan semua janji transaksi. Senin depan, para pedagang seperti dirinya juga tidak akan berjualan di pasar hewan karena penutupan ini. Meskipun, Andi mengaku bahwa tidak ada sapi-sapi di sana yang menunjukkan gejala sakit. “Untuk wilayah Dengkol dan sekitarnya, sementara ini belum ada yang tertular,” jelas Andi. Meski demikian, para pedagang maupun peternak tidak mau ambil risiko. Sehingga, peningkatan imunitas terhadap sapi juga dilakukan. Misalnya, dengan menambah asupan vitamin bagi ternak yang masih sehat. “Untuk mengantisipasi dari para peternak mungkin dengan menjaga kebersihan kandang dan sapi itu sendiri. Minuman sebisa mungkin air hangat terus. Sementara, vitaminnya adalah yang banyak dijual di tempattempat khusus untuk ternak,” tutupnya.(fin/abm)

KABUPATEN- Keputusan cepat mengantisipasi penularan penyakit mulut dan kuku pada hewan dibuat Pemkab Malang. Yakni dengan menutup semua atau 18 pasar hewan. Ini buntut ditemukannya 122 sapi di Ngantang yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Ini berdasar data terbaru Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang pada 13 Mei 2022 kemarin.

Sementara, jumlah sapi yang sudah sembuh sekitar 20 persen dari yang sakit tersebut. “Temuan terbaru 122 sapi yang sakit. Sedangkan, yang sembuh sekitar 19 ekor,” ujar Kepala DPKH Kabupaten Malang, Nurcahyo kepada wartawan di Pendopo Agung Jalan Agus Salim, kemarin (13/5).

Seluruh sapi yang sakit berada di wilayah Kecamatan Ngantang. Belum diketahui dari mana penularan awal hewan ternak tersebut. Tetapi, berdasarkan data yang ada, ada dua dusun yang menjadi pusat penyebaran penyakit sapi. Yakni, Dusun Sumbermulyo serta Dusun Bendorejo. Dua wilayah ini berada di Desa Sumberagung.

Sedangkan, populasi total dari sapi yang ada di wilayah Kecamatan Ngantang adalah 18.500 ekor. Sebanyak 122 sapi yang ada di Ngantang, memenuhi gejala sakit mulut dan kuku. Pertama, suhu tinggi di pangkal telinga. Kemudian, mulut si sapi berlendir. Hidungnya melepuh. Napas tersengal-sengal. Lidahnya menjulur secara terus menerus. Selanjutnya, hewan ini tidak enak makan, kaki pincang serta ada luka di kuku. Pemerintah sudah menutup pasar hewan di seluruh Kabupaten Malang. Kemudian, mutasi ternak juga dibatasi. Ini supaya tidak ada penularan tambahan. ”Kami juga berikan pengobatan berupa antibiotik dan vitamin sebagai pencegahan. Pemberian disinfektan kandang juga kami berlakukan,” jelas Nurcahyo.

Meski demikian, Nurcahyo menyebut, belum ada sapi yang harus dipotong paksa. Menurutnya, satu-satunya bagian sapi yang bisa dikonsumsi adalah daging. Tetapi, itu pun harus dimasak dalam kondisi matang sebelum dikonsumsi. Daging harus terpapar suhu 70-80 derajat celsius selama minimal 30 menit. Sedangkan, organ lainnya harus dimusnahkan. Sementara itu, seluruh pasar hewan di penjuru Kabupaten Malang dipastikan tutup.

Bupati Malang telah membuat edaran agar tidak ada pasar hewan yang beroperasi. Satu-satunya tempat untuk ternak yang buka adalah Rumah Potong Hewan (RPH) milik Pemkab Malang. Karena, di situ akan menjadi pusat pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku. Contohnya saja, pasar hewan di Tomporejo, Desa Dengkol, Kecamatan Singosari.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin, gerbang masuk pasar hewan sudah ditutup. Kemudian, terdapat pengumuman yang bertuliskan bahwa pasar hewan ditutup sementara. Penutupan ini untuk kewaspadaan terhadap penularan penyakit mulut dan kuku pada sapi. Andi Irfan, salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Singosari, menyebut bahwa dia berjualan tiap hari Jumat dan Senin. Harusnya, kemarin dia berdagang. Tetapi, karena ada pengumuman ini, dia batal bertransaksi. “Untuk sementara ini, penutupan (pasar) tidak pengaruh pada penjualan. Tetapi, kalau berlarut-larut, ya lambat laun pasti berpengaruh,” kata Andi saat dikonfirmasi kemarin.

Dia mengatakan, pedagang sapi di Pasar Hewan Dengkol membatalkan semua janji transaksi. Senin depan, para pedagang seperti dirinya juga tidak akan berjualan di pasar hewan karena penutupan ini. Meskipun, Andi mengaku bahwa tidak ada sapi-sapi di sana yang menunjukkan gejala sakit. “Untuk wilayah Dengkol dan sekitarnya, sementara ini belum ada yang tertular,” jelas Andi. Meski demikian, para pedagang maupun peternak tidak mau ambil risiko. Sehingga, peningkatan imunitas terhadap sapi juga dilakukan. Misalnya, dengan menambah asupan vitamin bagi ternak yang masih sehat. “Untuk mengantisipasi dari para peternak mungkin dengan menjaga kebersihan kandang dan sapi itu sendiri. Minuman sebisa mungkin air hangat terus. Sementara, vitaminnya adalah yang banyak dijual di tempattempat khusus untuk ternak,” tutupnya.(fin/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/