alexametrics
28 C
Malang
Tuesday, 17 May 2022

Hati-Hati Lur! Satu Tewas Tertelan Ombak Saat Mandi di Laut

KABUPATEN – Kecelakaan laut menimpa Supriadi, 32, warga Kelurahan Sukoharjo Kecamatan Klojen, Kota Malang. Dia meninggal tenggelam di Pantai Batu Bengkung, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Sabtu pagi kemarin (14/5).

Dia dilahap ombak jam 05.30 WIB. Tubuhnya sempat hilang di dalam air selama 15 menit. Tak lama, korban mengapung dalam kondisi tak bernyawa. “Benar, peristiwa ini terjadi pagi hari di Pantai Batu Bengkung,” kata Kasatpolairud Polres Malang AKP Totok Suprapto kepada Radar Malang dihubungi melalui sambungan telepon. Mulanya, korban mendatangi Pantai Batu Bengkung pada Jumat malam (13/5). Dia datang bersama kelompok sejumlah 12 orang.

Mereka mengendarai mobil pikap dengan tujuan berwisata dan menginap di pantai. Grup tersebut berangkat jam 19.00 WIB dari Kota Malang menuju pantai. Mereka menaiki mobil Granmax nopol N 8945 BA. Jarak antara Kota Malang dan Desa Gajahrejo cukup jauh, lebih dari 60 km. Mereka baru tiba Sabtu 14 Mei 2022 pukul 23.00 WIB. Korban dan teman-temannya pun turun dari pikap serta menurunkan barang bawaan. Di situ, mereka mendirikan tenda untuk camping serta bermalam. Setelah tidur sejenak, pukul 05.30 WIB korban ingin bermain air laut Pantai Batu Bengkung. Dia mengajak salah satu temannya, Dandi, 25, warga Mergosono. Supriadi pun berdiri di tepi Pantai Batu Bengkung. Namun, korban tidak menyadari bahwa laut masih pasang.

Data Satpolariud juga menegaskan, surutnya air di Batu Bengkung baru terjadi pukul 15.22 WIB. Sementara, air pasang berlangsung dari malam, pukul 21.17 WIB sampai siang hari. Tidak lama kemudian korban terkena hantaman ombak yang besar. Data perkiraan tinggi gelombang adalah sekitar 2 sampai 3,8 meter. Dia ketarik arus air ke tengah laut.

Dalam kondisi terombang-ambing, Supriadi masih sempat berteriak meminta tolong. Saksi Dandi juga berupaya menolong korban. Tetapi, dia tidak mampu menggapai rekannya yang terjerat pasang. Sebab, gelombang sangat besar dan arus kencang menarik korban ke tengah. Saat itu juga, Supriadi hilang ditelan laut. Tubuhnya baru terangkat 15 menit kemudian. Petugas SAR mengangkatnya dari laut pukul 05.45 WIB. Nahas, nyawanya tidak terselamatkan.

Polairud Polres Malang, Polsek Gedangan Posal Sendangbiru dan tim SAR langsung merapat ke lokasi. Polisi pun melakukan pendataan terhadap korban. Sementara, tim medis mengecek jenazahnya. Setelah olah TKP, jenazah korban disemayamkan di Kamar Mayat RSSA Malang. “Korban sudah dievakuasi. Kami telah membawanya ke kamar jenazah,” imbuh Totok.

Kasatpolairud mengharap wisatawan pengunjung Pantai Batu Bengkung agar memperhatikan batasan dari pengelola pantai. Misalnya, memperhatikan papan imbauan yang telah disediakan oleh pihak pengelola wisata. Menurutnya, peringatan sudah diberikan lewat pengumuman tersebut. “Harapan kami ke depan agar semua wisatawan lebih perhatian terhadap papan imbauan. Karena itu demi keselamatan juga,” tutupnya. Ini bukan kali pertama Batu Bengkung menelan korban.

Tepat setahun lalu, Mei 2021, enam wisatawan terseret ombak. Empat di antaranya tewas dan jenazahnya ketemu. Sedangkan, satu orang warga Batu, Dimas Reza, tak pernah ditemukan. Tubuhnya hilang untuk selamalamanya di Samudra Indonesia. Kemudian tahun 2019 lalu, Sephia Virgin, mahasiswi STIKI Malang, juga tewas tertelan ombak pantai Watu Lepek, yang masih satu lokasi dengan Batu Bengkung.(fin/abm)

KABUPATEN – Kecelakaan laut menimpa Supriadi, 32, warga Kelurahan Sukoharjo Kecamatan Klojen, Kota Malang. Dia meninggal tenggelam di Pantai Batu Bengkung, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Sabtu pagi kemarin (14/5).

Dia dilahap ombak jam 05.30 WIB. Tubuhnya sempat hilang di dalam air selama 15 menit. Tak lama, korban mengapung dalam kondisi tak bernyawa. “Benar, peristiwa ini terjadi pagi hari di Pantai Batu Bengkung,” kata Kasatpolairud Polres Malang AKP Totok Suprapto kepada Radar Malang dihubungi melalui sambungan telepon. Mulanya, korban mendatangi Pantai Batu Bengkung pada Jumat malam (13/5). Dia datang bersama kelompok sejumlah 12 orang.

Mereka mengendarai mobil pikap dengan tujuan berwisata dan menginap di pantai. Grup tersebut berangkat jam 19.00 WIB dari Kota Malang menuju pantai. Mereka menaiki mobil Granmax nopol N 8945 BA. Jarak antara Kota Malang dan Desa Gajahrejo cukup jauh, lebih dari 60 km. Mereka baru tiba Sabtu 14 Mei 2022 pukul 23.00 WIB. Korban dan teman-temannya pun turun dari pikap serta menurunkan barang bawaan. Di situ, mereka mendirikan tenda untuk camping serta bermalam. Setelah tidur sejenak, pukul 05.30 WIB korban ingin bermain air laut Pantai Batu Bengkung. Dia mengajak salah satu temannya, Dandi, 25, warga Mergosono. Supriadi pun berdiri di tepi Pantai Batu Bengkung. Namun, korban tidak menyadari bahwa laut masih pasang.

Data Satpolariud juga menegaskan, surutnya air di Batu Bengkung baru terjadi pukul 15.22 WIB. Sementara, air pasang berlangsung dari malam, pukul 21.17 WIB sampai siang hari. Tidak lama kemudian korban terkena hantaman ombak yang besar. Data perkiraan tinggi gelombang adalah sekitar 2 sampai 3,8 meter. Dia ketarik arus air ke tengah laut.

Dalam kondisi terombang-ambing, Supriadi masih sempat berteriak meminta tolong. Saksi Dandi juga berupaya menolong korban. Tetapi, dia tidak mampu menggapai rekannya yang terjerat pasang. Sebab, gelombang sangat besar dan arus kencang menarik korban ke tengah. Saat itu juga, Supriadi hilang ditelan laut. Tubuhnya baru terangkat 15 menit kemudian. Petugas SAR mengangkatnya dari laut pukul 05.45 WIB. Nahas, nyawanya tidak terselamatkan.

Polairud Polres Malang, Polsek Gedangan Posal Sendangbiru dan tim SAR langsung merapat ke lokasi. Polisi pun melakukan pendataan terhadap korban. Sementara, tim medis mengecek jenazahnya. Setelah olah TKP, jenazah korban disemayamkan di Kamar Mayat RSSA Malang. “Korban sudah dievakuasi. Kami telah membawanya ke kamar jenazah,” imbuh Totok.

Kasatpolairud mengharap wisatawan pengunjung Pantai Batu Bengkung agar memperhatikan batasan dari pengelola pantai. Misalnya, memperhatikan papan imbauan yang telah disediakan oleh pihak pengelola wisata. Menurutnya, peringatan sudah diberikan lewat pengumuman tersebut. “Harapan kami ke depan agar semua wisatawan lebih perhatian terhadap papan imbauan. Karena itu demi keselamatan juga,” tutupnya. Ini bukan kali pertama Batu Bengkung menelan korban.

Tepat setahun lalu, Mei 2021, enam wisatawan terseret ombak. Empat di antaranya tewas dan jenazahnya ketemu. Sedangkan, satu orang warga Batu, Dimas Reza, tak pernah ditemukan. Tubuhnya hilang untuk selamalamanya di Samudra Indonesia. Kemudian tahun 2019 lalu, Sephia Virgin, mahasiswi STIKI Malang, juga tewas tertelan ombak pantai Watu Lepek, yang masih satu lokasi dengan Batu Bengkung.(fin/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/