alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Omzet Pedagang Sapi Merosot

SINGOSARI – Bersamaan dengan merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di sejumlah daerah, omzet penjual daging merosot. Di pasar Singosari misalnya, pedagang mengeluhkan menurunnya pembeli daging sapi.

”Biasanya motong tiga ekor sapi. Sekarang ini memotong satu ekor saja sulit laku,” keluh Hasanah, salah satu penjual daging sapi di Pasar Singosari, kemarin (15/5).

Pedagang berusia 43 tahun itu tidak tahu penyebab merosotnya pembeli. Bisa jadi faktor merebaknya isu PMK. Atau siklus tahunan, yakni omzet selalu merosot usai Lebaran. “Seusai Lebaran memang pembeli kembali sepi,” tambahnya.

Dia meyakinkan bahwa daging sapi yang dia jual sehat. Meski sapi di sejumlah daerah sudah dilanda PMK, Hasanah menegaskan bahwa dia selektif dalam menjual daging. Sapi-sapi yang dibelinya juga dicek lebih dahulu, sebelum dipotong. “Saya membeli (sapi) di rumah-rumah peternak. Jarang membeli di pasar hewan,” ucapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Landungsari, Kecamatan Dau. Prastya Mukti, salah seorang penjual daging sapi itu mengakui ada penurunan omzet. ”Penurunan daya pembeli? Iya ada. Tapi masih wajar,” katanya.

Disinggung mengenai harga, dia belum bisa memperkirakan apakah bakal berdampak atau tidak. Dia berharap agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang segera menanggulangi PMK pada sapi, sehingga tidak berdampak kepada pedagang. ”Harapannya tidak terjadi kenaikan atau penurunan harga,” kata pedagang berusia 27 tahun itu.

Terpisah, Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto mengatakan, merebaknya kabar PMK belum berdampak pada harga daging sapi. “Alhamdulillah masih terkendali. Untuk harga sendiri masih normal, rata-rata Rp115 hingga Rp 120 per kilogramnya,” ungkap Agung.

Sesuai keterangan pakar, Agung menyebut bahwa daging sapi yang tertular PMK tidak berbahaya bagi manusia, asalkan dimasak secara baik dan benar. ”Konsumsi dengan benar. Diolah dengan benar, maka daging sapi tidak akan berbahaya untuk dikonsumsi,” tutupnya.(nif/dan)

 

SINGOSARI – Bersamaan dengan merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi di sejumlah daerah, omzet penjual daging merosot. Di pasar Singosari misalnya, pedagang mengeluhkan menurunnya pembeli daging sapi.

”Biasanya motong tiga ekor sapi. Sekarang ini memotong satu ekor saja sulit laku,” keluh Hasanah, salah satu penjual daging sapi di Pasar Singosari, kemarin (15/5).

Pedagang berusia 43 tahun itu tidak tahu penyebab merosotnya pembeli. Bisa jadi faktor merebaknya isu PMK. Atau siklus tahunan, yakni omzet selalu merosot usai Lebaran. “Seusai Lebaran memang pembeli kembali sepi,” tambahnya.

Dia meyakinkan bahwa daging sapi yang dia jual sehat. Meski sapi di sejumlah daerah sudah dilanda PMK, Hasanah menegaskan bahwa dia selektif dalam menjual daging. Sapi-sapi yang dibelinya juga dicek lebih dahulu, sebelum dipotong. “Saya membeli (sapi) di rumah-rumah peternak. Jarang membeli di pasar hewan,” ucapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Landungsari, Kecamatan Dau. Prastya Mukti, salah seorang penjual daging sapi itu mengakui ada penurunan omzet. ”Penurunan daya pembeli? Iya ada. Tapi masih wajar,” katanya.

Disinggung mengenai harga, dia belum bisa memperkirakan apakah bakal berdampak atau tidak. Dia berharap agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Malang segera menanggulangi PMK pada sapi, sehingga tidak berdampak kepada pedagang. ”Harapannya tidak terjadi kenaikan atau penurunan harga,” kata pedagang berusia 27 tahun itu.

Terpisah, Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Kabupaten Malang Agung Purwanto mengatakan, merebaknya kabar PMK belum berdampak pada harga daging sapi. “Alhamdulillah masih terkendali. Untuk harga sendiri masih normal, rata-rata Rp115 hingga Rp 120 per kilogramnya,” ungkap Agung.

Sesuai keterangan pakar, Agung menyebut bahwa daging sapi yang tertular PMK tidak berbahaya bagi manusia, asalkan dimasak secara baik dan benar. ”Konsumsi dengan benar. Diolah dengan benar, maka daging sapi tidak akan berbahaya untuk dikonsumsi,” tutupnya.(nif/dan)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/