alexametrics
26.1 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Korban Gempa Malang Selatan Masih Butuh Tenda Huntara

MALANG – Hunian sementara (huntara) masih menjadi kebutuhan penting warga korban gempa Malang Selatan. Karena sambil menunggu bantuan stimulan rehabilitasi rumah dari pemerintah pusat, warga membutuhkan tempat berteduh dan istirahat sekaligus. Sayangnya, masih banyak tenda huntara yang belum bisa berdiri karena keterbatasan sarana penunjang dan relawan.

Hal itu seperti terjadi di Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Itu termasuk desa yang terdampak gempa paling parah di Kecamatan Dampit. Pengendali Posko Relawan Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Suliyono mengatakan, pendirian tenda darurat bagi korban gempa di Dusun Krajan masih menemui kendala, yakni kurangnya material dan minimnya personel.

Meski hanya digunakan untuk sementara, pendirian huntara tidak boleh asal-asalan. Hal itu karena tenda pengungsian diproyeksikan mampu bertahan hingga waktu 7 bulan. Satu huntara bisa dipergunakan untuk menampung 3 keluarga atau sekitar 9 orang.

Suliyono mengatakan, saat ini baru ada dua unit tenda yang didirikan. ”Baru dibangun dua unit karena masih kurang kayu untuk tiang penyangga. Kalau terpal sudah ada bantuan,” ucapnya.

Dusun Krajan, Desa Majangtengah, setidaknya ada 453 bangunan rumah rusak. Tenda huntara sangat dibutuhkan bagi warga yang rumahnya rusak berat. Sebab, sebagian besar dari mereka rumahnya dirobohkan sehingga butuh sekitar 20-25 huntara tambahan. ”Namun, hingga saat ini masih terkendala dana,” imbuhnya.

Selain itu, Suliyono menerangkan bahwa saat ini sudah banyak aparat atau relawan yang ditarik dari lokasi kejadian. Hal ini jadi sesuatu yang wajar karena baik TNI, Polri, atau relawan lainnya juga masih memiliki tugas lain. ”Karena ada tugas dan kewajiban yang harus dituntaskan, baik TNI atau relawan lain juga punya pekerjaan,” terangnya.(rmc/fik/c1/dan)

MALANG – Hunian sementara (huntara) masih menjadi kebutuhan penting warga korban gempa Malang Selatan. Karena sambil menunggu bantuan stimulan rehabilitasi rumah dari pemerintah pusat, warga membutuhkan tempat berteduh dan istirahat sekaligus. Sayangnya, masih banyak tenda huntara yang belum bisa berdiri karena keterbatasan sarana penunjang dan relawan.

Hal itu seperti terjadi di Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Itu termasuk desa yang terdampak gempa paling parah di Kecamatan Dampit. Pengendali Posko Relawan Dusun Krajan, Desa Majangtengah, Suliyono mengatakan, pendirian tenda darurat bagi korban gempa di Dusun Krajan masih menemui kendala, yakni kurangnya material dan minimnya personel.

Meski hanya digunakan untuk sementara, pendirian huntara tidak boleh asal-asalan. Hal itu karena tenda pengungsian diproyeksikan mampu bertahan hingga waktu 7 bulan. Satu huntara bisa dipergunakan untuk menampung 3 keluarga atau sekitar 9 orang.

Suliyono mengatakan, saat ini baru ada dua unit tenda yang didirikan. ”Baru dibangun dua unit karena masih kurang kayu untuk tiang penyangga. Kalau terpal sudah ada bantuan,” ucapnya.

Dusun Krajan, Desa Majangtengah, setidaknya ada 453 bangunan rumah rusak. Tenda huntara sangat dibutuhkan bagi warga yang rumahnya rusak berat. Sebab, sebagian besar dari mereka rumahnya dirobohkan sehingga butuh sekitar 20-25 huntara tambahan. ”Namun, hingga saat ini masih terkendala dana,” imbuhnya.

Selain itu, Suliyono menerangkan bahwa saat ini sudah banyak aparat atau relawan yang ditarik dari lokasi kejadian. Hal ini jadi sesuatu yang wajar karena baik TNI, Polri, atau relawan lainnya juga masih memiliki tugas lain. ”Karena ada tugas dan kewajiban yang harus dituntaskan, baik TNI atau relawan lain juga punya pekerjaan,” terangnya.(rmc/fik/c1/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/