alexametrics
21.9 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Eco Wisata Kopi Amandanom Dampit, Malang Nasibmu Kini

MALANG – Sempat menjadi jujukan para pencinta kopi, kini Eco Wisata Kebun Kopi Amandanom sepi. Wisata kopi di Desa Amandanom, Kecamatan Dampit, ini tak lagi dikunjungi wisatawan, termasuk para penggemar kopi.

Padahal ketika diresmikan oleh Drs HM Sanusi MM saat menjadi Wakil Bupati Malang pada Januari 2018 lalu, harapan masyarakat terhadap kebun kopi Amandanom sangat tinggi. ”Sekarang ini sepi kunjungan,” ujar Muhammad Hendika, warga yang tinggal di sekitar Eco Wisata Kebun Kopi Amandanom kemarin (19/5).

Dia menduga ada beberapa hal yang menjadi penyebab sepinya kunjungan di kawasan tersebut. Salah satunya yakni adanya kebingungan pengelolaan tempat wisata. ”Sepertinya ada ketidaksamaan persepsi antara pengelola wisata dengan pemilik lahan,” kata dia.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, awal mula pendirian wisata tersebut diinisiasi oleh pegawai Dinas Pertanian tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPHP) Kabupaten Malang. Caranya dengan menyewa kebun kopi milik warga yang lokasinya cukup strategis. Yakni berada di samping jalan raya. ”Mungkin akhirnya negosiasinya buntu, jadi ya akhirnya mangkrak karena juga tidak ada promosi dan sebagainya,” imbuhnya.

Dia berharap, tempat tersebut bisa dikelola dengan baik. Mengingat saat ini kopi menjadi tanaman yang sedang naik daun. Keinginannya, Eco Wisata Kebun Kopi Amandanom bisa dikelola dan dikonsep lebih baik lagi. Sehingga bisa mendatangkan wisatawan lagi. (rmc/fik/dan)

MALANG – Sempat menjadi jujukan para pencinta kopi, kini Eco Wisata Kebun Kopi Amandanom sepi. Wisata kopi di Desa Amandanom, Kecamatan Dampit, ini tak lagi dikunjungi wisatawan, termasuk para penggemar kopi.

Padahal ketika diresmikan oleh Drs HM Sanusi MM saat menjadi Wakil Bupati Malang pada Januari 2018 lalu, harapan masyarakat terhadap kebun kopi Amandanom sangat tinggi. ”Sekarang ini sepi kunjungan,” ujar Muhammad Hendika, warga yang tinggal di sekitar Eco Wisata Kebun Kopi Amandanom kemarin (19/5).

Dia menduga ada beberapa hal yang menjadi penyebab sepinya kunjungan di kawasan tersebut. Salah satunya yakni adanya kebingungan pengelolaan tempat wisata. ”Sepertinya ada ketidaksamaan persepsi antara pengelola wisata dengan pemilik lahan,” kata dia.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, awal mula pendirian wisata tersebut diinisiasi oleh pegawai Dinas Pertanian tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPHP) Kabupaten Malang. Caranya dengan menyewa kebun kopi milik warga yang lokasinya cukup strategis. Yakni berada di samping jalan raya. ”Mungkin akhirnya negosiasinya buntu, jadi ya akhirnya mangkrak karena juga tidak ada promosi dan sebagainya,” imbuhnya.

Dia berharap, tempat tersebut bisa dikelola dengan baik. Mengingat saat ini kopi menjadi tanaman yang sedang naik daun. Keinginannya, Eco Wisata Kebun Kopi Amandanom bisa dikelola dan dikonsep lebih baik lagi. Sehingga bisa mendatangkan wisatawan lagi. (rmc/fik/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/