alexametrics
21.7 C
Malang
Tuesday, 5 July 2022

Kisah Gus Dur Pasca Divonis Bebas Pengadilan Tipikor Surabaya

MALANG – Tahun 2020 ini boleh dibilang menjadi tsunami yang harus dihadapi mantan Direktur RSUD Kanjuruhan Dr Abdurrachman. Pada 13 Januari lalu, mantan kepala dinas kesehatan itu ditetapkan menjadi tersangka atas kasus korupsi dana kapitasi badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) sebesar Rp 8,3 miliar. Pada tanggal 30 Maret, pria yang akrab disapa Gus Dur itu resmi ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen.

Jaksa penuntut umum menuntutnya dengan hukuman tahanan selama 10 tahun dan denda Rp 500 juta. Namun takdir berkata lain. Dalam sidang putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (tipikor) Surabaya yang digelar Rabu lalu (16/9). Abdurrachman di vonis bebas. Begini curahan hati Abdurrachman saat ditemui dikediamannya kemarin (19/9).

Assalamualaikum bapak, bagaimana kabarnya, sehat?
Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah sehat.

Berapa bulan Pak menjalani penahanan, apa saja yang bapak lakukan selama itu?
Jadi mulai tanggal 30 Maret itu saya ditahan di Lapas (Lembaga Permasyarakatan) Lowokwaru. Lalu tanggal 3 Juni saya keluar dan menjadi tahanan kota. Selama itu ya saya tidak kemana-mana. Menghabiskan waktu bersama keluarga, membuka-buka lagi kitab, meningkatkan ibadah, dzikir dan lain sebagainya. Dulu saya kan di pesantren 10 tahunan, jadi ilmu di pesantren saya pakai. Dulu semasa bertugas kan sibuk sekali jadi sedikit tersingkir. Maka ini kesempatan saya untuk belajar kitab lagi, membaca juga menulis.

Setelah mendapat vonis bebas kemarin, bagaimana perasaannya Pak?
Ya saya bersyukur kepada Allah. Saya merasa doa-doa ini didengar dan dikabulkan oleh Allah. Saya menganggap, Allah itu punya cara untuk menguji hambanya. Dengan ujian itu sebenarnya untuk mengetes keimanan kita, apakah semakin dekat ataukah semakin jauh. Sehingga harapan saya sebagai manusia wajar setelah mengalami masalah keluar dari masalah. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka akan diberikan jalan yang terbaik. Dan saya rasa ini adalah jalan dari Allah.

Infonya setelah vonis bebas itu kejari akan mengajukan kasasi. Bagaimana tanggapan bapak?
Saya pikir itu wajar-wajar saja. Karena itu merupakan salah satu tahapan hukum. Monggo (silahkan) saja, bagaimanapun tetap akan saya jalani.

Bagaimana dengan upaya untuk melakukan rehabilitasi nama baik?
Kemarin dari pengacara menyampaikan kepada hakim untuk dilakukan rehabilitasi nama baik.

Bagaimana pandangan Bapak tentang kasus yang disangkakan oleh JPU itu?
Menurut saya kurang pas. Jadi yang namanya dana kapitasi itu ditransfer langsung dari BPJS ke rekening puskesmas. Bukan ke dinas lho ya. Nah, untuk mencairkan dana itu ada aturannya, yaitu Perpres No 32 tahun 2014 dan peraturan Bupati No 32 disitu ada prosedurnya. Kepala puskesmas dan bendahara puskesmas mengajukan pencairan dana yang sebelumnya sudah ada rencana pelaksanaan kegiatannya. Lalu pencairan dananya diverifikasi oleh kasubag keuangan dinas. Memang alurnya begitu. Nah, setelah diverifikasi dan sudah benar baru didisposisi. Disposisi saya itu bunyinya ‘untuk dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku’. Dana itu diberikan ke puskesmas lagi oleh bendahara puskesmas untuk dilaksanakan sesuai pedoman. Sudah saya tidak tahu apa-apa lagi. Apakah nanti ada penyimpangan, ya saya tidak tahu wong itu sudah di sana.

Berarti menurut Bapak sudah melakukan semuanya sesuai prosedur?
Iya, semuanya sudah saya lakukan sesuai prosedur dan itu saya sampaikan di pembelaan saya.

Apakah bapak yakin akan tetap mendapat vonis bebas dalam kasasi?
Yakin, saya tetap yakin tidak bersalah. Karena apa yang saya lakukan sesuai prosedur yang diamanatkan oleh perpres dan perbub itu.

Pewarta: Intan Refa Septiana

MALANG – Tahun 2020 ini boleh dibilang menjadi tsunami yang harus dihadapi mantan Direktur RSUD Kanjuruhan Dr Abdurrachman. Pada 13 Januari lalu, mantan kepala dinas kesehatan itu ditetapkan menjadi tersangka atas kasus korupsi dana kapitasi badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS) sebesar Rp 8,3 miliar. Pada tanggal 30 Maret, pria yang akrab disapa Gus Dur itu resmi ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen.

Jaksa penuntut umum menuntutnya dengan hukuman tahanan selama 10 tahun dan denda Rp 500 juta. Namun takdir berkata lain. Dalam sidang putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (tipikor) Surabaya yang digelar Rabu lalu (16/9). Abdurrachman di vonis bebas. Begini curahan hati Abdurrachman saat ditemui dikediamannya kemarin (19/9).

Assalamualaikum bapak, bagaimana kabarnya, sehat?
Wa’alaikumsalam, Alhamdulillah sehat.

Berapa bulan Pak menjalani penahanan, apa saja yang bapak lakukan selama itu?
Jadi mulai tanggal 30 Maret itu saya ditahan di Lapas (Lembaga Permasyarakatan) Lowokwaru. Lalu tanggal 3 Juni saya keluar dan menjadi tahanan kota. Selama itu ya saya tidak kemana-mana. Menghabiskan waktu bersama keluarga, membuka-buka lagi kitab, meningkatkan ibadah, dzikir dan lain sebagainya. Dulu saya kan di pesantren 10 tahunan, jadi ilmu di pesantren saya pakai. Dulu semasa bertugas kan sibuk sekali jadi sedikit tersingkir. Maka ini kesempatan saya untuk belajar kitab lagi, membaca juga menulis.

Setelah mendapat vonis bebas kemarin, bagaimana perasaannya Pak?
Ya saya bersyukur kepada Allah. Saya merasa doa-doa ini didengar dan dikabulkan oleh Allah. Saya menganggap, Allah itu punya cara untuk menguji hambanya. Dengan ujian itu sebenarnya untuk mengetes keimanan kita, apakah semakin dekat ataukah semakin jauh. Sehingga harapan saya sebagai manusia wajar setelah mengalami masalah keluar dari masalah. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka akan diberikan jalan yang terbaik. Dan saya rasa ini adalah jalan dari Allah.

Infonya setelah vonis bebas itu kejari akan mengajukan kasasi. Bagaimana tanggapan bapak?
Saya pikir itu wajar-wajar saja. Karena itu merupakan salah satu tahapan hukum. Monggo (silahkan) saja, bagaimanapun tetap akan saya jalani.

Bagaimana dengan upaya untuk melakukan rehabilitasi nama baik?
Kemarin dari pengacara menyampaikan kepada hakim untuk dilakukan rehabilitasi nama baik.

Bagaimana pandangan Bapak tentang kasus yang disangkakan oleh JPU itu?
Menurut saya kurang pas. Jadi yang namanya dana kapitasi itu ditransfer langsung dari BPJS ke rekening puskesmas. Bukan ke dinas lho ya. Nah, untuk mencairkan dana itu ada aturannya, yaitu Perpres No 32 tahun 2014 dan peraturan Bupati No 32 disitu ada prosedurnya. Kepala puskesmas dan bendahara puskesmas mengajukan pencairan dana yang sebelumnya sudah ada rencana pelaksanaan kegiatannya. Lalu pencairan dananya diverifikasi oleh kasubag keuangan dinas. Memang alurnya begitu. Nah, setelah diverifikasi dan sudah benar baru didisposisi. Disposisi saya itu bunyinya ‘untuk dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku’. Dana itu diberikan ke puskesmas lagi oleh bendahara puskesmas untuk dilaksanakan sesuai pedoman. Sudah saya tidak tahu apa-apa lagi. Apakah nanti ada penyimpangan, ya saya tidak tahu wong itu sudah di sana.

Berarti menurut Bapak sudah melakukan semuanya sesuai prosedur?
Iya, semuanya sudah saya lakukan sesuai prosedur dan itu saya sampaikan di pembelaan saya.

Apakah bapak yakin akan tetap mendapat vonis bebas dalam kasasi?
Yakin, saya tetap yakin tidak bersalah. Karena apa yang saya lakukan sesuai prosedur yang diamanatkan oleh perpres dan perbub itu.

Pewarta: Intan Refa Septiana

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/