alexametrics
27.7 C
Malang
Sunday, 14 August 2022

Pamitra Malang Tebar Manfaat Dalam Keterbatasan Lewat Tanam Mangrove

Keterbatasan fisik karena tunanetra, tak mengurangi rasa peduli anggota Pemijat Tuna Netra (Pamitra) Malang Raya terhadap lingkungan. Lewat program tanam mangrove (bakau) di Pantai Ungapan, Kecamatan Gedangan hari ini (19/9), mereka ingin menebar kebaikan meski dalam keterbatasan.

MALANG – Lagu berjudul Kemesraan dan lagu Perahu Layar dinyanyikan secara koor oleh 37 anggota Pamitra. Mereka begitu menikmati perjalanan seru dari atas perahu menuju lokasi tanam mangrove di Pantai Ungapan. Mereka terbagi dalam tiga perahu. Dari bibir pantai menuju lokasi tanam di daerah aliran sungai (DAS) butuh waktu sekitar 10 menit. Mereka tampak riang gembira sepanjang perjalanan itu. Bisa jadi, ini pengalaman pertama bagi mereka.

Di tengah-tengah mereka dalam satu perahu, ada Pegiat Konservasi Pantai Jalur Lintas Selatan, Shohibul Izar dan Mustaqim, relawan Mitra Bhakti. Izar lah yang menjadi penunjuk lokasi. Sedang kelompok relawan Mitra Bhakti yang telaten mulai menuntun ke kamar mandi, beli makanan, hingga menanam mangrove.

Keceriaan tampak di wajah para anggota Pamitra Malang saat mengikuti aksi tanam mangrove. (Laoh Mahfud / Radar Malang)

Setelah sampai pada area konservasi, para anggota Pamitra dituntun oleh relawan Mitra Bhakti untuk menanam bakau. Ada salah satu anggota yang terjatuh hingga basah kuyup. Tapi dia tidak mengeluh. Malah tertawa-tawa dan disambut tawa teman-temannya juga. Seperti itulah suasana menanam 50 bibit mangrove yang berlangsung mulai pukul 11.00-12.00 itu. Penuh keceriaan.

”Saya sebagai orang yang diberi pengelihatan normal terharu melihat perbuatan baik njenengan semua,” ujar Pegiat Konservasi Pantai JLS, Shohibul Izar saat memberi sambutan jelang penanaman mangrove.

Pria yang pernah mendapat penghargaan Radar Malang Awards 2017 sebagai tokoh inspiratif itu mengaku terenyuh. Ia mengatakan bahwa banyak orang-orang yang dianugerahi pengelihatan normal malah merusak. Namun pada saat itu ia menemukan orang-orang dalam keterbatasan mau menanam kebaikan untuk orang lain.

Para anggota Pamitra Malang saling membantu saat proses tanam mangrove. (Achmad Sulchan An Nauri / Radar Malang)

Ketua Pamitra Malang Raya, Hendro Siawan, 51, menegaskan, aksi ini bukti anggotanya ingin mandiri. Tidak mau menunggu pertolongan orang lain. Meski serba dalam keterbatasan, anggotanya ingin memberi manfaat pada siapapun, termasuk konservasi alam. ”Kami ingin berguna bagi siapa saja,” ungkap bapak dua anak ini.

Ketika perjalanan kembali ke Pantai Ungapan naik perahu, tim Jawa Pos Radar Malang berada satu perahu bersama penggagas acara ini, Lilik Wahyuni. Dia dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya sekaligus penggagas Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KOPPI). ”Ketika kita berbuat baik, pasti apa-apa yang dipertemukan pada kita adalah sesuatu yang baik,” kesan ibu dengan dua anak itu.

Lilik merupakan pelanggan pijat salah satu anggota Pamitra. Ketika ia dipijat, ia bercerita tentang konservasi di Pantai Malang Selatan. Memang Lilik adalah sahabat baik Izar yang sering ikut konservasi dan melakukan pembinaan di Malang Selatan. Lalu anggota Pamitra yang memijat Lilik itu meminta diajak untuk ikut konservasi. Karena dia mendengar berita jika sebagian lingkungan di pantai rusak mengalami abrasi. Karena itu, begitu ada program konservasi lingkungan, anggota Pamitra itu ngotot minta gabung.

Nah, keinginan Pamitra ikut dalam konservasi pantai akhirnya terwujud. kemarin. Mereka difasilitasi Lilik, Izar, dan relawan Mitra Bhakti. Izar dan Lilik percaya bahwa berbuat kebaikan adalah bibit untuk bahagia. Mereka sering mengatakan bahwa di dunia ini kita sedang latihan bahagia untuk mencapai kebahagiaan sejati. Bahkan dalam keterbatasan pun seseorang masih bisa mengasah hatinya untuk berbuat baik.

Pewarta: Achmad Sulchan An Nauri

Keterbatasan fisik karena tunanetra, tak mengurangi rasa peduli anggota Pemijat Tuna Netra (Pamitra) Malang Raya terhadap lingkungan. Lewat program tanam mangrove (bakau) di Pantai Ungapan, Kecamatan Gedangan hari ini (19/9), mereka ingin menebar kebaikan meski dalam keterbatasan.

MALANG – Lagu berjudul Kemesraan dan lagu Perahu Layar dinyanyikan secara koor oleh 37 anggota Pamitra. Mereka begitu menikmati perjalanan seru dari atas perahu menuju lokasi tanam mangrove di Pantai Ungapan. Mereka terbagi dalam tiga perahu. Dari bibir pantai menuju lokasi tanam di daerah aliran sungai (DAS) butuh waktu sekitar 10 menit. Mereka tampak riang gembira sepanjang perjalanan itu. Bisa jadi, ini pengalaman pertama bagi mereka.

Di tengah-tengah mereka dalam satu perahu, ada Pegiat Konservasi Pantai Jalur Lintas Selatan, Shohibul Izar dan Mustaqim, relawan Mitra Bhakti. Izar lah yang menjadi penunjuk lokasi. Sedang kelompok relawan Mitra Bhakti yang telaten mulai menuntun ke kamar mandi, beli makanan, hingga menanam mangrove.

Keceriaan tampak di wajah para anggota Pamitra Malang saat mengikuti aksi tanam mangrove. (Laoh Mahfud / Radar Malang)

Setelah sampai pada area konservasi, para anggota Pamitra dituntun oleh relawan Mitra Bhakti untuk menanam bakau. Ada salah satu anggota yang terjatuh hingga basah kuyup. Tapi dia tidak mengeluh. Malah tertawa-tawa dan disambut tawa teman-temannya juga. Seperti itulah suasana menanam 50 bibit mangrove yang berlangsung mulai pukul 11.00-12.00 itu. Penuh keceriaan.

”Saya sebagai orang yang diberi pengelihatan normal terharu melihat perbuatan baik njenengan semua,” ujar Pegiat Konservasi Pantai JLS, Shohibul Izar saat memberi sambutan jelang penanaman mangrove.

Pria yang pernah mendapat penghargaan Radar Malang Awards 2017 sebagai tokoh inspiratif itu mengaku terenyuh. Ia mengatakan bahwa banyak orang-orang yang dianugerahi pengelihatan normal malah merusak. Namun pada saat itu ia menemukan orang-orang dalam keterbatasan mau menanam kebaikan untuk orang lain.

Para anggota Pamitra Malang saling membantu saat proses tanam mangrove. (Achmad Sulchan An Nauri / Radar Malang)

Ketua Pamitra Malang Raya, Hendro Siawan, 51, menegaskan, aksi ini bukti anggotanya ingin mandiri. Tidak mau menunggu pertolongan orang lain. Meski serba dalam keterbatasan, anggotanya ingin memberi manfaat pada siapapun, termasuk konservasi alam. ”Kami ingin berguna bagi siapa saja,” ungkap bapak dua anak ini.

Ketika perjalanan kembali ke Pantai Ungapan naik perahu, tim Jawa Pos Radar Malang berada satu perahu bersama penggagas acara ini, Lilik Wahyuni. Dia dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya sekaligus penggagas Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KOPPI). ”Ketika kita berbuat baik, pasti apa-apa yang dipertemukan pada kita adalah sesuatu yang baik,” kesan ibu dengan dua anak itu.

Lilik merupakan pelanggan pijat salah satu anggota Pamitra. Ketika ia dipijat, ia bercerita tentang konservasi di Pantai Malang Selatan. Memang Lilik adalah sahabat baik Izar yang sering ikut konservasi dan melakukan pembinaan di Malang Selatan. Lalu anggota Pamitra yang memijat Lilik itu meminta diajak untuk ikut konservasi. Karena dia mendengar berita jika sebagian lingkungan di pantai rusak mengalami abrasi. Karena itu, begitu ada program konservasi lingkungan, anggota Pamitra itu ngotot minta gabung.

Nah, keinginan Pamitra ikut dalam konservasi pantai akhirnya terwujud. kemarin. Mereka difasilitasi Lilik, Izar, dan relawan Mitra Bhakti. Izar dan Lilik percaya bahwa berbuat kebaikan adalah bibit untuk bahagia. Mereka sering mengatakan bahwa di dunia ini kita sedang latihan bahagia untuk mencapai kebahagiaan sejati. Bahkan dalam keterbatasan pun seseorang masih bisa mengasah hatinya untuk berbuat baik.

Pewarta: Achmad Sulchan An Nauri

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/