alexametrics
21.5 C
Malang
Sunday, 2 October 2022

Dua Tahun, 36 Anak Meninggal di Jalan

Mulai 2021, Ada 276 Kasus Laka yang Melibatkan Anak 

KABUPATEN- Inilah salah satu alasan kenapa saat berkendara dengan anak harus lebih berhati-hati. Juga alasan kenapa surat izin mengemudi (SIM) baru bisa didapatkan ketika sudah berusia 17 tahun ke atas. Sebab jalanan tak pernah pilih-pilih siapa yang jadi korbannya. Anak-anak, atau yang belum berusia lebih dari 18 tahun, juga bisa jadi korbannya.

Di Malang raya, angka kecelakaan lalu lintas (laka lalin) yang melibatkan anak cukup banyak. Dalam dua tahun terakhir, mulai 2021 sampai 2022, total ada 276 kasus laka yang melibatkan anak. Dari total itu, ada 36 anak yang meninggal di jalan (selengkapnya baca grafis). Jumlah kasus dan korban terbanyak datang dari Kabupaten Malang. 

Sepanjang Januari sampai Agustus lalu, Satlantas Polres Malang mencatat ada 82 kecelakaan yang melibatkan anak-anak. Dari total itu, ada 8 anak yang jadi korban jiwa. Jumlah kasus kecelakaan yang terjadi dalam 8 bulan itu lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Sebab sepanjang 2021 Satlantas Polres Malang mencatat ada 61 kasus laka yang melibatkan anak. 

Jika dijabarkan lebih lanjut, jumlah kecelakaan terbanyak tahun ini terjadi pada bulan April. Totalnya ada 16 kecelakaan. ”Ada satu anak yang berumur sekitar 9 tahun yang jadi korbannya. Sementara yang mengalami luka ringan ada 14 anak,” kata Kanit Laka Lantas Polres Malang Iptu Sunarko. Selanjutnya disusul bulan Juli, saat ada 15 kecelakaan yang melibatkan anak. Saat itu, dua anak dinyatakan meninggal dunia. ”Bulan Juli itu ada 14 anak yang luka ringan, sedangkan bulan Juni ada 12 anak yang luka ringan,” imbuh Narko, sapaan karibnya. Dari laporan yang diterima pihaknya, rata-rata anak yang menjadi korban laka itu berusia 15 tahun atau setara pelajar. ”Untuk korban usia 0 sampai 9 tahun di bulan Januari sampai Agustus ada empat korban. Sedangkan usia dari 10 sampai 15 tahun ada empat korban,” imbuh dia. 

Dari pengamatan pihaknya, banyak ditemukan anak-anak berusia 15 tahun ke bawah yang sudah mengendarai kendaraan bermotor sendiri. Sehingga kasus laka lantas yang menimpanya sering terjadi akibat keteledoran anak-anak tersebut. 

Di tempat lain, Kepala Sekolah SMP Wahidiyah, Bululawang, Fathul Wahab SSos mengatakan bila pihaknya rutin memberikan imbauan murid-muridnya yang membawa motor supaya lebih berhati-hati. ”Bagaimana pun juga, kami larang kasihan yang rumahnya jauh. Artinya ini harus ada peran guru serta orang tua untuk tidak bosan-bosan mengingatkan tentang keselamatan berlalu lintas,” tutup dia. 

Agustus, 105 Pelajar di Kota Malang Kena Tilang 

Jumlah kecelakaan yang melibatkan anak juga cukup tinggi di Kota Malang. Sepanjang 2022 ini, Satlantas Polresta Malang Kota mencatat adanya 46 anak yang terlibat laka lantas. Dari total itu, ada lima anak yang menjadi korban jiwa. Kebanyakan anak-anak yang menjadi korban itu berusia 17 tahun. 

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah anak-anak yang terlibat laka lantas meningkat tajam. Sebab, tahun lalu Satlantas Polresta Malang Kota mencatat ada 30 anak yang menjadi korban laka lantas.  

Meski begitu, ada penurunan tingkat kefatalan yang dialami korban. Kasat Lantas Polresta Malang Kota Kompol Yoppy Anggi Khrisna mengatakan bila di tahun dari dari jumlah kasus laka lantas pada anak, korban yang meninggal sebanyak 12 persen. Sedangkan yang mengalami luka ringan sekitar 80 persennya. Sisanya, 8 persen tidak mengalami luka. 

”Itu artinya dari total anak yang menjadi korban laka lantas, setidaknya ada empat anak yang meninggal dunia,” kata dia. Sementara di tahun ini tercatat 10 persen korban dinyatakan meninggal dunia setelah terlibat laka lantas. Dia menyebut bila kebanyakan anak-anak yang terlibat kecelakaan itu berusia antara 13 tahun hingga 17 tahun. Biasanya anak-anak tersebut terlibat laka lantas akibat mengendarai motor sendiri. 

Pria yang akrab disapa Khrisna itu juga mengatakan bila laka lantas yang melibatkan pelajar menunjukkan tren peningkatan dalam tiga bulan terakhir. ”Jadi sejak Juni sampai Agustus kemarin tiap bulannya ada 10 anak-anak yang terlibat laka lantas,” tegasnya. Khrisna sekali lagi mengingatkan kasus laka lantas hanya bisa ditekan melalui disiplin dalam berlalu lintas. 

Sebab jumlah pelanggaran lalu lintas oleh anak-anak juga meningkat. Dari sana bisa dilihat bahwa angka pelanggaran lalu lintas berbanding lurus dengan angka laka lantas. ”Artinya, semakin besar pelanggaran lalu lintas yang dilakukan, semakin besar pula angka kasus laka lantas,” tambah Khrisna. Pada Agustus lalu, pihaknya mencatat ada 105 pelajar yang terkena tilang. 

”Karena masih di bawah umur tentu pelanggaran SIM yang paling banyak. Namun sekarang trennya juga banyak anak-anak yang memakai knalpot brong, melawan arus, dan lain-lain,” kata dia. Beranjak dari perbandingan data itu, Khrisna mengatakan perlunya kesadaran dan pengawasan dari orang tua untuk menekan angka pelanggaran lalu lintas oleh anak-anak. 

Polisi Keluhkan Sikap Pelajar yang Sepelekan Aturan 

Sama seperti di Kabupaten Malang dan Kota Malang, Kanit Laka Lantas Polres Batu Aiptu Trimo SH mengatakan bila anak-anak yang terlibat laka umumnya masih berusia 17 tahun ke bawah. ”Ada beberapa penyebabnya. Mulai dari kurang hati-hati saat berkendara, hingga kendaraannya tidak sesuai standar,” terangnya. Pelanggaran lalu lintas juga turut andil dalam laka yang melibatkan anak. Dari pantauan pihaknya, tak jarang anak yang terlibat laka tidak mengenakan helm. 

”Menurut saya, para pelajar terlalu sering menyepelekan aturan. Misalnya, tidak menggunakan helm saat berkendara dengan alasan jaraknya dekat. Padahal, ke mana pun berkendara ya harus memakai helm,” papar dia. Sementara itu, pihaknya juga banyak menemukan motor-motor tak berstandar yang masih beredar di jalanan. ”Contohnya, sepeda motor yang tidak ada spion, lampu sein atau ritingnya mati, ban yang seharusnya ukurannya besar diubah menjadi kecil. Ada juga kendaraan protolan untuk balap liar dan sebagainya,” tambah Trimo. 

Sebagai informasi, hampir semua pertigaan dan perempatan di Kota Batu menjadi titik rawan laka lantas. Sementara ruas jalan yang cukup rawan ada di Jalan Ir Soekarno, Jalan Panglima Sudirman, dan beberapa titik di Kecamatan Ngantang dan Kasembon. Selain mengharapkan peran dari para orang tua, pihaknya juga menyebut bila peran pihak sekolah tak kalah penting untuk mengurangi angka kecelakaan. 

Sadar dengan hal tersebut, beberapa sekolah di Kota Batu sudah mengeluarkan aturan tegas. ”Kami telah mengeluarkan aturan agar siswa yang belum cukup umur dan tidak punya SIM dilarang membawa kendaraan sendiri. Mereka sebaiknya diantar jemput oleh orang tua,” terang Kepala Sekolah SMP Immanuel Kota Batu Ratna Wulan SPd. 

Hal yang sama juga disampaikan Waka Kesiswaan SMA Negeri 1 Kota Batu Drs Sugiardi MM. Dia menyampaikan bila sekolahnya telah membuat kebijakan itu agar siswa-siswinya bisa mengutamakan ketertiban ketika berkendara. Untuk itu, SIM dan kelengkapan kendaraannya harus menjadi prioritas utama. ”Ya, kami menegaskan agar siswa selalu mengenakan helm secara baik. Selain itu, tidak diperbolehkan meminjam kendaraan teman, sebab khawatir terjadi masalah,” terang dia. (nif/dre/ifa/by)

Mulai 2021, Ada 276 Kasus Laka yang Melibatkan Anak 

KABUPATEN- Inilah salah satu alasan kenapa saat berkendara dengan anak harus lebih berhati-hati. Juga alasan kenapa surat izin mengemudi (SIM) baru bisa didapatkan ketika sudah berusia 17 tahun ke atas. Sebab jalanan tak pernah pilih-pilih siapa yang jadi korbannya. Anak-anak, atau yang belum berusia lebih dari 18 tahun, juga bisa jadi korbannya.

Di Malang raya, angka kecelakaan lalu lintas (laka lalin) yang melibatkan anak cukup banyak. Dalam dua tahun terakhir, mulai 2021 sampai 2022, total ada 276 kasus laka yang melibatkan anak. Dari total itu, ada 36 anak yang meninggal di jalan (selengkapnya baca grafis). Jumlah kasus dan korban terbanyak datang dari Kabupaten Malang. 

Sepanjang Januari sampai Agustus lalu, Satlantas Polres Malang mencatat ada 82 kecelakaan yang melibatkan anak-anak. Dari total itu, ada 8 anak yang jadi korban jiwa. Jumlah kasus kecelakaan yang terjadi dalam 8 bulan itu lebih banyak dibandingkan tahun lalu. Sebab sepanjang 2021 Satlantas Polres Malang mencatat ada 61 kasus laka yang melibatkan anak. 

Jika dijabarkan lebih lanjut, jumlah kecelakaan terbanyak tahun ini terjadi pada bulan April. Totalnya ada 16 kecelakaan. ”Ada satu anak yang berumur sekitar 9 tahun yang jadi korbannya. Sementara yang mengalami luka ringan ada 14 anak,” kata Kanit Laka Lantas Polres Malang Iptu Sunarko. Selanjutnya disusul bulan Juli, saat ada 15 kecelakaan yang melibatkan anak. Saat itu, dua anak dinyatakan meninggal dunia. ”Bulan Juli itu ada 14 anak yang luka ringan, sedangkan bulan Juni ada 12 anak yang luka ringan,” imbuh Narko, sapaan karibnya. Dari laporan yang diterima pihaknya, rata-rata anak yang menjadi korban laka itu berusia 15 tahun atau setara pelajar. ”Untuk korban usia 0 sampai 9 tahun di bulan Januari sampai Agustus ada empat korban. Sedangkan usia dari 10 sampai 15 tahun ada empat korban,” imbuh dia. 

Dari pengamatan pihaknya, banyak ditemukan anak-anak berusia 15 tahun ke bawah yang sudah mengendarai kendaraan bermotor sendiri. Sehingga kasus laka lantas yang menimpanya sering terjadi akibat keteledoran anak-anak tersebut. 

Di tempat lain, Kepala Sekolah SMP Wahidiyah, Bululawang, Fathul Wahab SSos mengatakan bila pihaknya rutin memberikan imbauan murid-muridnya yang membawa motor supaya lebih berhati-hati. ”Bagaimana pun juga, kami larang kasihan yang rumahnya jauh. Artinya ini harus ada peran guru serta orang tua untuk tidak bosan-bosan mengingatkan tentang keselamatan berlalu lintas,” tutup dia. 

Agustus, 105 Pelajar di Kota Malang Kena Tilang 

Jumlah kecelakaan yang melibatkan anak juga cukup tinggi di Kota Malang. Sepanjang 2022 ini, Satlantas Polresta Malang Kota mencatat adanya 46 anak yang terlibat laka lantas. Dari total itu, ada lima anak yang menjadi korban jiwa. Kebanyakan anak-anak yang menjadi korban itu berusia 17 tahun. 

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah anak-anak yang terlibat laka lantas meningkat tajam. Sebab, tahun lalu Satlantas Polresta Malang Kota mencatat ada 30 anak yang menjadi korban laka lantas.  

Meski begitu, ada penurunan tingkat kefatalan yang dialami korban. Kasat Lantas Polresta Malang Kota Kompol Yoppy Anggi Khrisna mengatakan bila di tahun dari dari jumlah kasus laka lantas pada anak, korban yang meninggal sebanyak 12 persen. Sedangkan yang mengalami luka ringan sekitar 80 persennya. Sisanya, 8 persen tidak mengalami luka. 

”Itu artinya dari total anak yang menjadi korban laka lantas, setidaknya ada empat anak yang meninggal dunia,” kata dia. Sementara di tahun ini tercatat 10 persen korban dinyatakan meninggal dunia setelah terlibat laka lantas. Dia menyebut bila kebanyakan anak-anak yang terlibat kecelakaan itu berusia antara 13 tahun hingga 17 tahun. Biasanya anak-anak tersebut terlibat laka lantas akibat mengendarai motor sendiri. 

Pria yang akrab disapa Khrisna itu juga mengatakan bila laka lantas yang melibatkan pelajar menunjukkan tren peningkatan dalam tiga bulan terakhir. ”Jadi sejak Juni sampai Agustus kemarin tiap bulannya ada 10 anak-anak yang terlibat laka lantas,” tegasnya. Khrisna sekali lagi mengingatkan kasus laka lantas hanya bisa ditekan melalui disiplin dalam berlalu lintas. 

Sebab jumlah pelanggaran lalu lintas oleh anak-anak juga meningkat. Dari sana bisa dilihat bahwa angka pelanggaran lalu lintas berbanding lurus dengan angka laka lantas. ”Artinya, semakin besar pelanggaran lalu lintas yang dilakukan, semakin besar pula angka kasus laka lantas,” tambah Khrisna. Pada Agustus lalu, pihaknya mencatat ada 105 pelajar yang terkena tilang. 

”Karena masih di bawah umur tentu pelanggaran SIM yang paling banyak. Namun sekarang trennya juga banyak anak-anak yang memakai knalpot brong, melawan arus, dan lain-lain,” kata dia. Beranjak dari perbandingan data itu, Khrisna mengatakan perlunya kesadaran dan pengawasan dari orang tua untuk menekan angka pelanggaran lalu lintas oleh anak-anak. 

Polisi Keluhkan Sikap Pelajar yang Sepelekan Aturan 

Sama seperti di Kabupaten Malang dan Kota Malang, Kanit Laka Lantas Polres Batu Aiptu Trimo SH mengatakan bila anak-anak yang terlibat laka umumnya masih berusia 17 tahun ke bawah. ”Ada beberapa penyebabnya. Mulai dari kurang hati-hati saat berkendara, hingga kendaraannya tidak sesuai standar,” terangnya. Pelanggaran lalu lintas juga turut andil dalam laka yang melibatkan anak. Dari pantauan pihaknya, tak jarang anak yang terlibat laka tidak mengenakan helm. 

”Menurut saya, para pelajar terlalu sering menyepelekan aturan. Misalnya, tidak menggunakan helm saat berkendara dengan alasan jaraknya dekat. Padahal, ke mana pun berkendara ya harus memakai helm,” papar dia. Sementara itu, pihaknya juga banyak menemukan motor-motor tak berstandar yang masih beredar di jalanan. ”Contohnya, sepeda motor yang tidak ada spion, lampu sein atau ritingnya mati, ban yang seharusnya ukurannya besar diubah menjadi kecil. Ada juga kendaraan protolan untuk balap liar dan sebagainya,” tambah Trimo. 

Sebagai informasi, hampir semua pertigaan dan perempatan di Kota Batu menjadi titik rawan laka lantas. Sementara ruas jalan yang cukup rawan ada di Jalan Ir Soekarno, Jalan Panglima Sudirman, dan beberapa titik di Kecamatan Ngantang dan Kasembon. Selain mengharapkan peran dari para orang tua, pihaknya juga menyebut bila peran pihak sekolah tak kalah penting untuk mengurangi angka kecelakaan. 

Sadar dengan hal tersebut, beberapa sekolah di Kota Batu sudah mengeluarkan aturan tegas. ”Kami telah mengeluarkan aturan agar siswa yang belum cukup umur dan tidak punya SIM dilarang membawa kendaraan sendiri. Mereka sebaiknya diantar jemput oleh orang tua,” terang Kepala Sekolah SMP Immanuel Kota Batu Ratna Wulan SPd. 

Hal yang sama juga disampaikan Waka Kesiswaan SMA Negeri 1 Kota Batu Drs Sugiardi MM. Dia menyampaikan bila sekolahnya telah membuat kebijakan itu agar siswa-siswinya bisa mengutamakan ketertiban ketika berkendara. Untuk itu, SIM dan kelengkapan kendaraannya harus menjadi prioritas utama. ”Ya, kami menegaskan agar siswa selalu mengenakan helm secara baik. Selain itu, tidak diperbolehkan meminjam kendaraan teman, sebab khawatir terjadi masalah,” terang dia. (nif/dre/ifa/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/