alexametrics
30.7 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Hilang 4 Hari, Jasad Pemancing Muncul di Bawah Jembatan Kanigoro

RADAR MALANG – Sempat menghilang selama 4 hari, jenazah seorang pemancing asal Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen akhirnya ditemukan. Pria yang diketahui bernama Paino itu sebelumnya terseret arus Sungai Brantas pada Selasa (19/10) lalu.

Jenazah pria 56 tahun itu berhasil ditemukan oleh tim SAR Gabungan pada Jumat pagi (22/10) pagi. Tepatnya di bawah jembatan Kanigoro. Setelah ditemukan, Jasad korban langsung dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit Kanjuruhan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Paino hanyut saat memancing bersama salah seorang temannya. Dia tidak dapat menyelamatkan diri saat debit sungai meluap akibat hujan deras yang melanda wilayah Kapanjen dan sekitarnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Malang Sadono Irawanmenjelaskan, jasad korban ditemukan dalam kondisi mengapung. Posisinya tengkurap dan masih mengenakan kaus.

”Lokasi penemuan jenazah di bawah jembatan Desa Kanigoro. Jembatan itu merupakan penghubung antara kecamatan Kanogoro dengan Kecamatan Kepanjen,” Kata Sadono.

Kronologi tenggelamnya Paino di Sungai Brantas sempat diungkapkan salah seorang tetangganya yang bernama Hari. Menurutnya, Paino bersama rekannya, Kusno, tampak menuju tepi sungai Brantas di Kepanjen untuk memancing pada Selasa sore (19/10).

Saat itu debit air sungai masih normal, meski cuaca tampak mendung. Tak berselang lama, hujan turun diikuti meningkatnya debit air sungai.

Paino dan Kusno terlambat untuk menghindari luapan air. Keduanya pun terseret arus. Kusno yang bisa berenang berhasil menyelamatkan diri, meski mengalami luka pada bagian kakinya. Namun nasib berbeda dialami Paino yang memang tak bisa berenang.

Dia terseret derasnya air sungai dan tenggelam. ”Dua puluh tahun saya kenal Paino. Saya tahu persis dia tidak bisa berenang,” kata Hari.

Proses pencarian korban sudah dilakukan sejak Selasa sore (19/10). Penyisiran sungai dilakukan oleh tim SAR Malang Raya, Muspika, para relawan, serta jajaran TNI-Polri. Sehari berikutnya, tim pencari memperkirakan bahwa jasad korban sudah sampai di Bendungan Sengguruh. Namun dua unit tim rafting yang dikerahkan tidak menemukan yang mereka cari. Baru kemarin jasad Paino ditemukan di bawah jembatan Kanigoro. (cj9/fat/rmc)

 

RADAR MALANG – Sempat menghilang selama 4 hari, jenazah seorang pemancing asal Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen akhirnya ditemukan. Pria yang diketahui bernama Paino itu sebelumnya terseret arus Sungai Brantas pada Selasa (19/10) lalu.

Jenazah pria 56 tahun itu berhasil ditemukan oleh tim SAR Gabungan pada Jumat pagi (22/10) pagi. Tepatnya di bawah jembatan Kanigoro. Setelah ditemukan, Jasad korban langsung dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit Kanjuruhan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Paino hanyut saat memancing bersama salah seorang temannya. Dia tidak dapat menyelamatkan diri saat debit sungai meluap akibat hujan deras yang melanda wilayah Kapanjen dan sekitarnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Malang Sadono Irawanmenjelaskan, jasad korban ditemukan dalam kondisi mengapung. Posisinya tengkurap dan masih mengenakan kaus.

”Lokasi penemuan jenazah di bawah jembatan Desa Kanigoro. Jembatan itu merupakan penghubung antara kecamatan Kanogoro dengan Kecamatan Kepanjen,” Kata Sadono.

Kronologi tenggelamnya Paino di Sungai Brantas sempat diungkapkan salah seorang tetangganya yang bernama Hari. Menurutnya, Paino bersama rekannya, Kusno, tampak menuju tepi sungai Brantas di Kepanjen untuk memancing pada Selasa sore (19/10).

Saat itu debit air sungai masih normal, meski cuaca tampak mendung. Tak berselang lama, hujan turun diikuti meningkatnya debit air sungai.

Paino dan Kusno terlambat untuk menghindari luapan air. Keduanya pun terseret arus. Kusno yang bisa berenang berhasil menyelamatkan diri, meski mengalami luka pada bagian kakinya. Namun nasib berbeda dialami Paino yang memang tak bisa berenang.

Dia terseret derasnya air sungai dan tenggelam. ”Dua puluh tahun saya kenal Paino. Saya tahu persis dia tidak bisa berenang,” kata Hari.

Proses pencarian korban sudah dilakukan sejak Selasa sore (19/10). Penyisiran sungai dilakukan oleh tim SAR Malang Raya, Muspika, para relawan, serta jajaran TNI-Polri. Sehari berikutnya, tim pencari memperkirakan bahwa jasad korban sudah sampai di Bendungan Sengguruh. Namun dua unit tim rafting yang dikerahkan tidak menemukan yang mereka cari. Baru kemarin jasad Paino ditemukan di bawah jembatan Kanigoro. (cj9/fat/rmc)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/