alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

KEK Singhasari Bisa Batal Beroperasi

SINGOSARI – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang bisa batal. Itu jika tiga point kekurangan yang menjadi indikator kelayakan tidak dipenuhi. Kepastian berlanjut atau tidaknya megaproyek dengan investasi sekitar Rp 2 triliun itu bakal ditentukan pada September depan.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto mengatakan, hasil pemeriksaan Dewan Nasional KEK menyebut, KEK Singhasari sudah memenuhi 95 persen indikator kelayakan.

”Dari variabel pusat, 95 persen sudah hijau dan layak. Tinggal tunggu September depan, kurang tiga poin lagi yang harus dipenuhi,” ujar Tomie, kemarin (23/5).

”Semoga sebelum September 2022 depan, tiga indikator tersebut sudah bisa dipenuhi sehingga bisa 100 persen,” tambah pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Dia lantas memaparkan ketiga indikator tersebut. Pertama, adanya pemadam kebakaran. Ini untuk melindungi dan memastikan keamanan kawasan dari bahaya kebakaran. Kedua, adanya pemenuhan administrasi pelayanan perizinan yang menyesuaikan UU Cipta Kerja. Ketiga, pemenuhan administrasi kewenangan terhadap KEK.

”Dulu penetapan KEK terjadi sebelum UU Cipta Kerja. Karena kini ada UU Cipta Kerja, ya harus ada perubahan dan penyesuaian. Dulu Dewan KEK penetapan adalah gubernur. Sekarang harus ada penetapan dari pusat,” kata Tomie.

Jika bisa memenuhi tiga indikator tersebut, kata Tomie, besar kemungkinan KEK Singosari berlanjut. Tomie menyebut, ada tiga kemungkinan yang bakal dihadapi pada September 2022 depan. Pertama, KEK Singosari beroperasi. Kedua, kawasan ini diperpanjang masa persiapannya. Ketiga, status kawasan ekonomi khususnya dicabut.

”Saat ini Dewan Nasional KEK sedang evaluasi. Bulan September nanti akan ditentukan, apakah siap operasi atau tidak. Perpanjangan atau tidak. Bahkan, ekstremnya akan seperti Bagansiapi-api, status KEK-nya dicabut atau diputus,” jelas Tomie. Meski demikian, Tomie meyakini kawasan ini berpeluang besar bisa beroperasi.

Sebab, baik dari sisi administrasi maupun kondisi eksisting, KEK Singosari sudah 95 persen memenuhi persyaratan Dewan Nasional KEK. Pemkab Malang sendiri tidak mengeluarkan biaya APBD sepeserpun untuk KEK Singosari. Satu-satunya anggaran dari Pemkab, adalah peningkatan infrastruktur jalan menuju kawasan tersebut. Serta, penyediaan air minum.

Sementara itu, CEO KEK Singosari David Santoso membenarkan kemungkinan tersebut. Dari hasil evaluasi, kata David, ada rasionalisasi rencana kerja. Dewan Nasional KEK meminta Singosari mengedepankan klaster pendidikan dan teknologi. “Nanti akan disediakan kapabilitas sumberdaya manusia. Tourism dilaksanakan, tetapi diarahkan deputi menjadi educational tourism,” ujar David dikonfirmasi.

Contohnya, UMM sudah konfirmasi membangun center of future work di KEK Singosari. Di situ akan mencetak kebutuhan talenta digital masa depan.

Selain itu, David juga mengklaim akan ada konsorsium Universitas Indonesia (UI) dan King’s College London untuk inisiasi studi di KEK Singosari. “Inisiasi tersebut didanai British Council. Sedangkan investor yang sedang menanti sekitar 20-an,” tutupnya.(fin/dan)

SINGOSARI – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang bisa batal. Itu jika tiga point kekurangan yang menjadi indikator kelayakan tidak dipenuhi. Kepastian berlanjut atau tidaknya megaproyek dengan investasi sekitar Rp 2 triliun itu bakal ditentukan pada September depan.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang Tomie Herawanto mengatakan, hasil pemeriksaan Dewan Nasional KEK menyebut, KEK Singhasari sudah memenuhi 95 persen indikator kelayakan.

”Dari variabel pusat, 95 persen sudah hijau dan layak. Tinggal tunggu September depan, kurang tiga poin lagi yang harus dipenuhi,” ujar Tomie, kemarin (23/5).

”Semoga sebelum September 2022 depan, tiga indikator tersebut sudah bisa dipenuhi sehingga bisa 100 persen,” tambah pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Dia lantas memaparkan ketiga indikator tersebut. Pertama, adanya pemadam kebakaran. Ini untuk melindungi dan memastikan keamanan kawasan dari bahaya kebakaran. Kedua, adanya pemenuhan administrasi pelayanan perizinan yang menyesuaikan UU Cipta Kerja. Ketiga, pemenuhan administrasi kewenangan terhadap KEK.

”Dulu penetapan KEK terjadi sebelum UU Cipta Kerja. Karena kini ada UU Cipta Kerja, ya harus ada perubahan dan penyesuaian. Dulu Dewan KEK penetapan adalah gubernur. Sekarang harus ada penetapan dari pusat,” kata Tomie.

Jika bisa memenuhi tiga indikator tersebut, kata Tomie, besar kemungkinan KEK Singosari berlanjut. Tomie menyebut, ada tiga kemungkinan yang bakal dihadapi pada September 2022 depan. Pertama, KEK Singosari beroperasi. Kedua, kawasan ini diperpanjang masa persiapannya. Ketiga, status kawasan ekonomi khususnya dicabut.

”Saat ini Dewan Nasional KEK sedang evaluasi. Bulan September nanti akan ditentukan, apakah siap operasi atau tidak. Perpanjangan atau tidak. Bahkan, ekstremnya akan seperti Bagansiapi-api, status KEK-nya dicabut atau diputus,” jelas Tomie. Meski demikian, Tomie meyakini kawasan ini berpeluang besar bisa beroperasi.

Sebab, baik dari sisi administrasi maupun kondisi eksisting, KEK Singosari sudah 95 persen memenuhi persyaratan Dewan Nasional KEK. Pemkab Malang sendiri tidak mengeluarkan biaya APBD sepeserpun untuk KEK Singosari. Satu-satunya anggaran dari Pemkab, adalah peningkatan infrastruktur jalan menuju kawasan tersebut. Serta, penyediaan air minum.

Sementara itu, CEO KEK Singosari David Santoso membenarkan kemungkinan tersebut. Dari hasil evaluasi, kata David, ada rasionalisasi rencana kerja. Dewan Nasional KEK meminta Singosari mengedepankan klaster pendidikan dan teknologi. “Nanti akan disediakan kapabilitas sumberdaya manusia. Tourism dilaksanakan, tetapi diarahkan deputi menjadi educational tourism,” ujar David dikonfirmasi.

Contohnya, UMM sudah konfirmasi membangun center of future work di KEK Singosari. Di situ akan mencetak kebutuhan talenta digital masa depan.

Selain itu, David juga mengklaim akan ada konsorsium Universitas Indonesia (UI) dan King’s College London untuk inisiasi studi di KEK Singosari. “Inisiasi tersebut didanai British Council. Sedangkan investor yang sedang menanti sekitar 20-an,” tutupnya.(fin/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/