alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

Kasus Pencabulan Naik, Orang Terdekat Paling Potensial Jadi Pelaku

KEPANJEN – Pelecehan seksual masih menjadi pekerjaan rumah (PR) panjang bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang juga stakeholder terkait.

Dalam kurun waktu sembilan bulan belakangan di tahun 2021 yakni mulai Januari sampai September, Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen telah menerima limpahan 20 kasus pencabulan. Artinya, jika dirata-rata setiap bulannya ada dua kasus pencabulan yang terjadi di kabupaten.

Jumlah kasus pencabulan ini masih bisa bertambah karena belum semua dilimpahkan ke PN. Misalnya, kasus yang masih dalam tahap penyidikan dan kasus yang tidak dilaporkan ke polisi dengan alasan menjaga aib keluarga.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Aulia Reza mengatakan, tingginya angka kasus pencabulan di Bumi Kanjuruhan tersebut mayoritas disebabkan karena kurangnya pengawasan orang tua anak. Berdasarkan hasil persidangan, kata dia, modus pelaku mencabuli korban adalah dengan mengiming-imingi uang. Setelah itu, korban diajak berhubungan badan.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya, 2020, kasus pencabulan yang diterima PN Kepanjen sebanyak 30 kasus. Dia belum bisa memastikan apakah tahun ini meningkat, stagnan, atau justru menurun. Sebab masih ada tiga bulan di tahun 2021 ini yang belum terhitung.

Namun jika mengacu tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus pencabulan di Bumi Kanjuruhan ini naik turun sekitar 5 persen. “Tahun ini kan mau habis. Jika ditotal sampai September lalu ya ada 20 kasus. Belum yang bulan Oktober ini masih belum selesai. Jumlahnya ya rata-rata lima persen aja,” ucap Aulia.

Dia mengatakan, saat ini kasus pencabulan anak terjadi di luar pengawasan orang tua. Apalagi, jika anak sudah berpacaran. Di situlah rawan tindakan pencabulan. Tak jarang, kejadian yang tidak diinginkan seperti hamil di luar nikah pun kerap terjadi. “Pengawasan orang tua itu penting. Kalau sudah pacaran terus dipaksa berhubungan badan, itu sudah sering ditemui,” lanjutnya.

Dia mengatakan, setiap terdakwa yang melakukan tindak pidana pencabulan terancam hukuman pidana penjara paling lama tujuh tahun. Itu sesuai dengan undang-undang KUHP pada pasal 294.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat, jika memiliki anak yang sudah memiliki pacar, kata dia, sebaiknya lebih diperketat pengawasannya agar perilakunya tidak menyimpang. Apalagi, menjadi korban pencabulan juga bisa menyebabkan efek yang buruk bagi anak di masa depan.

Terpisah, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Aipda Erlehana mengatakan, sepanjang Januari hingga pertengahan Oktober ini ada 46 laporan kasus pencabulan. 39 laporan di antaranya adalah kasus dugaan persetubuhan anak di bawah umur. Rata-rata pelakunya adalah orang dekat, misalnya kekasih.

“Kalau sudah pacaran, sudah rentan itu (pencabulan). Dari catatan kami, banyak korban yang dibawa ke rumah pelaku. Berawal dari suka sama suka,” kata Leha

Meski rata-rata motifnya suka sama suka, kata dia, tetap bisa dipidanakan jika orang tua korban tidak terima. Jika pelakunya sudah dewasa, terancam pidana penjara maksimal 15 tahun. Tapi jika pelaku masih anak-anak, diancam pidana dua pertiga dari ancaman maksimal. “Kalau korban sampai hamil dan orang tuanya tidak berkehendak, terlapor bisa ikut proses hukum yang berlaku. Kebanyakan kalau sudah hamil tidak mau tanggung jawab,” lanjutnya.

Kemudian jika kedua pihak setuju untuk menikah, bisa mengajukan putusan untuk dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. Hal itulah yang menjadi faktor penyebab dispensasi nikah di Kabupaten Malang tergolong tinggi.(cj9/dan/rmc)

KEPANJEN – Pelecehan seksual masih menjadi pekerjaan rumah (PR) panjang bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang juga stakeholder terkait.

Dalam kurun waktu sembilan bulan belakangan di tahun 2021 yakni mulai Januari sampai September, Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen telah menerima limpahan 20 kasus pencabulan. Artinya, jika dirata-rata setiap bulannya ada dua kasus pencabulan yang terjadi di kabupaten.

Jumlah kasus pencabulan ini masih bisa bertambah karena belum semua dilimpahkan ke PN. Misalnya, kasus yang masih dalam tahap penyidikan dan kasus yang tidak dilaporkan ke polisi dengan alasan menjaga aib keluarga.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen Aulia Reza mengatakan, tingginya angka kasus pencabulan di Bumi Kanjuruhan tersebut mayoritas disebabkan karena kurangnya pengawasan orang tua anak. Berdasarkan hasil persidangan, kata dia, modus pelaku mencabuli korban adalah dengan mengiming-imingi uang. Setelah itu, korban diajak berhubungan badan.

Jika dibandingkan tahun sebelumnya, 2020, kasus pencabulan yang diterima PN Kepanjen sebanyak 30 kasus. Dia belum bisa memastikan apakah tahun ini meningkat, stagnan, atau justru menurun. Sebab masih ada tiga bulan di tahun 2021 ini yang belum terhitung.

Namun jika mengacu tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus pencabulan di Bumi Kanjuruhan ini naik turun sekitar 5 persen. “Tahun ini kan mau habis. Jika ditotal sampai September lalu ya ada 20 kasus. Belum yang bulan Oktober ini masih belum selesai. Jumlahnya ya rata-rata lima persen aja,” ucap Aulia.

Dia mengatakan, saat ini kasus pencabulan anak terjadi di luar pengawasan orang tua. Apalagi, jika anak sudah berpacaran. Di situlah rawan tindakan pencabulan. Tak jarang, kejadian yang tidak diinginkan seperti hamil di luar nikah pun kerap terjadi. “Pengawasan orang tua itu penting. Kalau sudah pacaran terus dipaksa berhubungan badan, itu sudah sering ditemui,” lanjutnya.

Dia mengatakan, setiap terdakwa yang melakukan tindak pidana pencabulan terancam hukuman pidana penjara paling lama tujuh tahun. Itu sesuai dengan undang-undang KUHP pada pasal 294.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat, jika memiliki anak yang sudah memiliki pacar, kata dia, sebaiknya lebih diperketat pengawasannya agar perilakunya tidak menyimpang. Apalagi, menjadi korban pencabulan juga bisa menyebabkan efek yang buruk bagi anak di masa depan.

Terpisah, Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang Aipda Erlehana mengatakan, sepanjang Januari hingga pertengahan Oktober ini ada 46 laporan kasus pencabulan. 39 laporan di antaranya adalah kasus dugaan persetubuhan anak di bawah umur. Rata-rata pelakunya adalah orang dekat, misalnya kekasih.

“Kalau sudah pacaran, sudah rentan itu (pencabulan). Dari catatan kami, banyak korban yang dibawa ke rumah pelaku. Berawal dari suka sama suka,” kata Leha

Meski rata-rata motifnya suka sama suka, kata dia, tetap bisa dipidanakan jika orang tua korban tidak terima. Jika pelakunya sudah dewasa, terancam pidana penjara maksimal 15 tahun. Tapi jika pelaku masih anak-anak, diancam pidana dua pertiga dari ancaman maksimal. “Kalau korban sampai hamil dan orang tuanya tidak berkehendak, terlapor bisa ikut proses hukum yang berlaku. Kebanyakan kalau sudah hamil tidak mau tanggung jawab,” lanjutnya.

Kemudian jika kedua pihak setuju untuk menikah, bisa mengajukan putusan untuk dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Malang. Hal itulah yang menjadi faktor penyebab dispensasi nikah di Kabupaten Malang tergolong tinggi.(cj9/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/