alexametrics
22.6 C
Malang
Thursday, 19 May 2022

30 Polisi Tangkap Dai Kontroversial

KABUPATEN – Dua sampai tiga ketukan di pintu membuyarkan ketenangan penghuni rumah di Sawojajar II, Jalan Cucak Rawun Raya 15L Nomor 16, RT 002/RW 014, Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, tersebut. Saat itu jarum jam di rumah bercat putih itu menunjukkan pukul 00.00. Artinya waktu itu sudah masuk Sabtu dini hari (24/10).

Adalah Muhammad Munjiat, 21, salah satu penghuni rumah itu yang kali pertama membukan pintu. Sementara sang empunya rumah, Sugi Nur Raharja, sedang bekam. Pria yang kondang dengan panggilan Gus Nur itu hanya duduk diam di salah satu ruang depan.

Sekitar delapan pria langsung saja masuk sambil menunjukkan surat penangkapan pada Sugi Nur. Mereka menyebut dari Mabes Polri. Sementara 22 polisi lain berada di luar rumah. Ada lima mobil polisi yang diparkir depan rumah dai kontroversial itu, yakni empat Toyota Kijang Innova dan satu Fortuner berwarna hitam berpelat B, AE, dan L.

Anak kedua-2 Sugi Nur Raharja, Muhammad Munjiat, 21, memberikan keterangan kepada Jawa Pos Radar Malang terkait penangkapan ayahnya Sabtu (24/10) dini hari (Biyan Mudzakky / Radar Malang)

Polisi itu tidak banyak kata, hanya meminta Sugi Nur untuk segera berkemas-kemas untuk dibawa ke Mabes Polri di Jakarta. Tidak ada perlawanan dari Sugi Nur dan keluarganya. Juga tidak ada teriakan meski di dalam rumah itu ada tujuh penghuni selain Sugi Nur, termasuk M. Munjiat, anak kedua Sugi Nur. Sekitar satu jam proses kemas-kemas, Sugi Nur pun dibawa ke Mabes Polri lewat jalur darat.

Itulah gambaran proses penangkapan terhadap dai yang kerap muncul di video YouTube dengan kata-kata bernada kasar tersebut. Penangkapan itu buntut dari laporan Ketua NU Cirebon Aziz Hakim dengan tudingan Sugi Nur telah menghina NU dalam wawancara di channel YouTube bersama Refly Harun. Itu juga diakui Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono yang dirilis ke berbagai media.

”Ya, sekitar pukul 00.00, satu jam sebelumnya baru selesai acara Maulid Nabi sebagai penceramah di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Kedungkandang, yang dipimpin oleh KH Mashuri. Kondisi sedang santai dan Abi (Sugi Nur) kebetulan sedang bekam, belum selesai langsung ada penggeledahan,” terang Munjiat saat ditemui di rumahnya kemarin (24/10).

Ini bukan kasus hukum yang pertama bagi Sugi Nur. Kasus pertama terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, Juli 2018 lalu. Dia dilaporkan ke Polda Sulteng oleh Ansor Kota Palu. Gara-garanya, Sugi Nur melalui video YouTube menghina Ansor dan Banser. Kata-kata tuduhan kotor dialamatkan ke dua organisasi di bawah NU itu membuat kader Ansor tersinggung. Pada 12 November 2019, sidang perdana. Dan pada Maret 2020, Pengadilan Negeri Palu menyatakan Sugi Nur bersalah, namun hakim tidak memerintahkan penahanan.

Belum kelar urusan hukum di Palu, dia harus menghadapi perkara hukum di Surabaya. Dia dilaporkan ke Polda Jatim oleh Wakil Ketua PW NU Jatim Ma’ruf Syah karena dinilai menghina Generasi Muda NU. Dalam sidang putusan, di PN Surabaya 24 Oktober 2019, pria asal Probolinggo itu divonis penjara 1,5 tahun. Hanya tidak ada perintah penahanan.

Sebelumnya, kader Ansor Pati Jawa Tengah dan Jember juga melaporkannya ke polisi. Dan terakhir, atas laporan dari Ketua NU Cirebon Azis Hakim ke Mabes Polri atas tuduhan ujaran kebencian dan penghinaan pada NU, 21 Oktober lalu. Dan laporan ini ditindaklanjuti dengan menetapkannya sebagai tersangka. Baru pada 24 Oktober kemarin dia ditangkap di rumahnya, Sekarpuro, Pakis.

Dalam penangkapan tersebut, rombongan Bareskrim yang diketahui berjumlah sekitar 30 orang. Namun yang masuk rumah sekitar delapan polisi. ”Tanpa ada apa-apa langsung masuk melakukan penggeledahan, awalnya ngomong dari Jakarta, lalu nyambung ”dari Bareskrim Polri.” Kemudian salah satu anggota hanya memperlihatkan surat perintah penggeledahan dan penangkapan,” lanjut dia.

Dari penangkapan tersebut, kepolisian menyita tiga buah handphone, laptop, modem WiFi, memory card kapasitas 32 Gigabyte, dan empat buah harddisk. ”Tanpa ada dialog, langsung diminta berkemas ambil baju, dan setelah itu dibawa ke Jakarta lewat jalan darat. Sekitar pukul 10.00 mengabarkan lewat handphone penyidik sudah di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah,” tandas Munjiat.

Penangkapan tersebut cukup membuat sekitar tujuh anggota keluarga yang berada dalam rumah tersebut kaget saja. Sebab, menurut Munjiat, sosok bapaknya itu seorang yang penyabar. ”Galakan saya dari Abi kadang. Abi itu orangnya sabar sekali dan cenderung pendiam,” ungkap dia. Dia mengakui, bapaknya sudah tahu dengan risiko atas cermah-cermahnya. ”Tapi beliau selalu bodoh amat, tidak ambil pusing,” tambah dia.

Terkait rumah tinggal bapaknya di Malang, menurut dia, sudah menetap sejak setahun ini. Sebelumnya banyak tinggal di Palu. Namun sejak ada tsunami di Palu, 2018 lalu, bapaknya lebih banyak di Jawa. ”Baru benar-benar tinggal di Malang satu tahunan,” kata dia.

Meskipun begitu, kehadiran Sugi di dalam keluarga bisa dihitung jari dalam seminggu. ”Katakanlah dalam seminggu itu tiga hari saja ada di rumah. Pulangnya tidak menentu. Hal ini yang membuat beliau hampir tidak pernah keluar rumah,” sebutnya.

Sekalinya berada di Malang, anak kedua dari tiga bersaudara ini menyebut bila setiap malam Minggu selepas salat Isya, bapaknya kerap membuat pengajian rutin di rumah tersebut. ”Selalu ada pengajian. Yang dibahas misalkan riba, nikah, dan cara pembayaran utang. Tidak ada yang benar-benar menyinggung hal yang sensitif seperti yang selama ini dibicarakan,” ujar dia.

Keberadaan Sugi Nur di RT 002 RW 014 Sekarpuro memang tidak banyak diketahui warga sekitar karena dia memang jarang bergaul. Bisa jadi karena sibuk di luar kota. Salah satu warga yang mengaku ikut mendampingi polisi menangkap Sugi Nur menyebut, dirinya pernah lihat saat Jumatan. ”Belum srawung di sini (RT 002),” ungkap pria berusia 60 tahun itu.

Namun, dia mengakui jika di rumah yang menghadap utara itu kerap ada pengajian rutin. Hanya jamaahnya bukan dari warga sekitar. ”Dari luar kebanyakan, tidak ada dari warga sini,” bebernya. (biy/c1/abm)

KABUPATEN – Dua sampai tiga ketukan di pintu membuyarkan ketenangan penghuni rumah di Sawojajar II, Jalan Cucak Rawun Raya 15L Nomor 16, RT 002/RW 014, Kelurahan Sekarpuro, Kecamatan Pakis, tersebut. Saat itu jarum jam di rumah bercat putih itu menunjukkan pukul 00.00. Artinya waktu itu sudah masuk Sabtu dini hari (24/10).

Adalah Muhammad Munjiat, 21, salah satu penghuni rumah itu yang kali pertama membukan pintu. Sementara sang empunya rumah, Sugi Nur Raharja, sedang bekam. Pria yang kondang dengan panggilan Gus Nur itu hanya duduk diam di salah satu ruang depan.

Sekitar delapan pria langsung saja masuk sambil menunjukkan surat penangkapan pada Sugi Nur. Mereka menyebut dari Mabes Polri. Sementara 22 polisi lain berada di luar rumah. Ada lima mobil polisi yang diparkir depan rumah dai kontroversial itu, yakni empat Toyota Kijang Innova dan satu Fortuner berwarna hitam berpelat B, AE, dan L.

Anak kedua-2 Sugi Nur Raharja, Muhammad Munjiat, 21, memberikan keterangan kepada Jawa Pos Radar Malang terkait penangkapan ayahnya Sabtu (24/10) dini hari (Biyan Mudzakky / Radar Malang)

Polisi itu tidak banyak kata, hanya meminta Sugi Nur untuk segera berkemas-kemas untuk dibawa ke Mabes Polri di Jakarta. Tidak ada perlawanan dari Sugi Nur dan keluarganya. Juga tidak ada teriakan meski di dalam rumah itu ada tujuh penghuni selain Sugi Nur, termasuk M. Munjiat, anak kedua Sugi Nur. Sekitar satu jam proses kemas-kemas, Sugi Nur pun dibawa ke Mabes Polri lewat jalur darat.

Itulah gambaran proses penangkapan terhadap dai yang kerap muncul di video YouTube dengan kata-kata bernada kasar tersebut. Penangkapan itu buntut dari laporan Ketua NU Cirebon Aziz Hakim dengan tudingan Sugi Nur telah menghina NU dalam wawancara di channel YouTube bersama Refly Harun. Itu juga diakui Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Awi Setiyono yang dirilis ke berbagai media.

”Ya, sekitar pukul 00.00, satu jam sebelumnya baru selesai acara Maulid Nabi sebagai penceramah di Pondok Pesantren Al-Hidayah, Kedungkandang, yang dipimpin oleh KH Mashuri. Kondisi sedang santai dan Abi (Sugi Nur) kebetulan sedang bekam, belum selesai langsung ada penggeledahan,” terang Munjiat saat ditemui di rumahnya kemarin (24/10).

Ini bukan kasus hukum yang pertama bagi Sugi Nur. Kasus pertama terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, Juli 2018 lalu. Dia dilaporkan ke Polda Sulteng oleh Ansor Kota Palu. Gara-garanya, Sugi Nur melalui video YouTube menghina Ansor dan Banser. Kata-kata tuduhan kotor dialamatkan ke dua organisasi di bawah NU itu membuat kader Ansor tersinggung. Pada 12 November 2019, sidang perdana. Dan pada Maret 2020, Pengadilan Negeri Palu menyatakan Sugi Nur bersalah, namun hakim tidak memerintahkan penahanan.

Belum kelar urusan hukum di Palu, dia harus menghadapi perkara hukum di Surabaya. Dia dilaporkan ke Polda Jatim oleh Wakil Ketua PW NU Jatim Ma’ruf Syah karena dinilai menghina Generasi Muda NU. Dalam sidang putusan, di PN Surabaya 24 Oktober 2019, pria asal Probolinggo itu divonis penjara 1,5 tahun. Hanya tidak ada perintah penahanan.

Sebelumnya, kader Ansor Pati Jawa Tengah dan Jember juga melaporkannya ke polisi. Dan terakhir, atas laporan dari Ketua NU Cirebon Azis Hakim ke Mabes Polri atas tuduhan ujaran kebencian dan penghinaan pada NU, 21 Oktober lalu. Dan laporan ini ditindaklanjuti dengan menetapkannya sebagai tersangka. Baru pada 24 Oktober kemarin dia ditangkap di rumahnya, Sekarpuro, Pakis.

Dalam penangkapan tersebut, rombongan Bareskrim yang diketahui berjumlah sekitar 30 orang. Namun yang masuk rumah sekitar delapan polisi. ”Tanpa ada apa-apa langsung masuk melakukan penggeledahan, awalnya ngomong dari Jakarta, lalu nyambung ”dari Bareskrim Polri.” Kemudian salah satu anggota hanya memperlihatkan surat perintah penggeledahan dan penangkapan,” lanjut dia.

Dari penangkapan tersebut, kepolisian menyita tiga buah handphone, laptop, modem WiFi, memory card kapasitas 32 Gigabyte, dan empat buah harddisk. ”Tanpa ada dialog, langsung diminta berkemas ambil baju, dan setelah itu dibawa ke Jakarta lewat jalan darat. Sekitar pukul 10.00 mengabarkan lewat handphone penyidik sudah di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah,” tandas Munjiat.

Penangkapan tersebut cukup membuat sekitar tujuh anggota keluarga yang berada dalam rumah tersebut kaget saja. Sebab, menurut Munjiat, sosok bapaknya itu seorang yang penyabar. ”Galakan saya dari Abi kadang. Abi itu orangnya sabar sekali dan cenderung pendiam,” ungkap dia. Dia mengakui, bapaknya sudah tahu dengan risiko atas cermah-cermahnya. ”Tapi beliau selalu bodoh amat, tidak ambil pusing,” tambah dia.

Terkait rumah tinggal bapaknya di Malang, menurut dia, sudah menetap sejak setahun ini. Sebelumnya banyak tinggal di Palu. Namun sejak ada tsunami di Palu, 2018 lalu, bapaknya lebih banyak di Jawa. ”Baru benar-benar tinggal di Malang satu tahunan,” kata dia.

Meskipun begitu, kehadiran Sugi di dalam keluarga bisa dihitung jari dalam seminggu. ”Katakanlah dalam seminggu itu tiga hari saja ada di rumah. Pulangnya tidak menentu. Hal ini yang membuat beliau hampir tidak pernah keluar rumah,” sebutnya.

Sekalinya berada di Malang, anak kedua dari tiga bersaudara ini menyebut bila setiap malam Minggu selepas salat Isya, bapaknya kerap membuat pengajian rutin di rumah tersebut. ”Selalu ada pengajian. Yang dibahas misalkan riba, nikah, dan cara pembayaran utang. Tidak ada yang benar-benar menyinggung hal yang sensitif seperti yang selama ini dibicarakan,” ujar dia.

Keberadaan Sugi Nur di RT 002 RW 014 Sekarpuro memang tidak banyak diketahui warga sekitar karena dia memang jarang bergaul. Bisa jadi karena sibuk di luar kota. Salah satu warga yang mengaku ikut mendampingi polisi menangkap Sugi Nur menyebut, dirinya pernah lihat saat Jumatan. ”Belum srawung di sini (RT 002),” ungkap pria berusia 60 tahun itu.

Namun, dia mengakui jika di rumah yang menghadap utara itu kerap ada pengajian rutin. Hanya jamaahnya bukan dari warga sekitar. ”Dari luar kebanyakan, tidak ada dari warga sini,” bebernya. (biy/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/