alexametrics
26.9 C
Malang
Wednesday, 25 May 2022

Gelapkan Dana, Ketua Koperasi Artha Prima Turen Malang Ditahan

MALANG – Kasus penggelapan dana nasabah oleh salah satu oknum pengawas di koperasi Artha Prima Turen memasuki tahap pengembangan baru. Ternyata, usai vonis yang dijatuhkan majelis hakim kepada Sugianto sebagai pengawas koperasi, polisi juga mengembangkan perkaranya kepada ketua koperasinya, Anjar Juli Kuswati.

Polda Jatim yang menyidik kasus perkara ini, telah melimpahkan kelanjutan perkara ini ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen. Sementara tersangka Anjar Juli Kuswati sejak pertengahan pekan lalu telah dititipkan di rumah tahanan (rutan) Polres Malang. Kasatreskrim Polres Malang AKP Donny K Baralangi membenarkan jika saat ini tersangka Anjar Juli Kuswati sudah berada di rumah tahanan Polres Malang.

“Statusnya sebagai tersangka titipan dari Kejaksaan Negeri Kepanjen,” ucapnya.

Sementara itu, Imam Muslich SH selaku kuasa hukum dari pihak korban Toni Surya Hartanto mengatakan, perkara yang menjerat tersangka Anjar Juli Kuswati adalah satu bagian dengan perkara tersangka sebelumnya, Sugianto.

“Setelah Sugianto divonis majelis hakim, sekarang giliran perkara Anjar Juli Kuswati yang dilanjutkan,” jelas advokat yang juga mantan wartawan ini.

Baik Sugianto dan Anjar Juli Kuswati dijerat dengan perkara yang sama, yakni kasus penipuan dan penggelapan terhadap korban Toni Surya Hartanto. Mereka dijerat Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1. Sementara awal Oktober lalu Sugianto sudah divonis 3 tahun penjara oleh ketua majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen.

Awalnya, antara korban Toni dan Sugianto adalah teman akrab. Sugianto menawarkan investasi berupa penyertaan modal usaha di koperasi yang ia kelola. Korban Toni pun tertarik dan secara bertahap menyetor dana ke tersangka Sugianto mulai dari Rp 500 juta di tahun pertama dan berlanjut hingga tahun 2019, menjadi total sebesar Rp 2,5 miliar. Kecurigaan korban muncul saat di tahun 2020 ingin menarik sejumlah dananya dan merasa dipersulit oleh Sugianto.

“Pada saat mau menarik deposit, klien kami selalu diberi alasan yang tidak masuk akal. Katanya akan diberikan bunga sebesar satu persen di tiap bulan, namun bunga itu tidak kunjung diberikan,” jelas Imam kepada Jawa Pos Radar Malang.

Merasa kesal dan tak kunjung menerima uang miliknya, Toni langsung melaporkan kasus ini ke Polda Jatim. Dikonfirmasi secara terpisah, kuasa hukum dari Ketua Koperasi Artha Prima Turen Gunadi Handoko SH mengungkapkan bahwa saat ini berkas-berkas pemeriksaan tersangka sudah berada di Kejari Kepanjen. Jika sesuai rencana maka sidang dakwaan akan segera di gelar di minggu ini. Dia juga menjelaskan bahwa, hasil pemeriksaan penyidik di Polda Jatim keduanya saling bekerja sama dalam proses penggelapan dana nasabah. Khususnya dana milik korban Toni Surya Hartanto.

“Ketua Koperasi Bu Anjar sudah ditetapkan tersangka oleh Polda Jawa Timur, kini hanya menunggu berkas untuk diserahkan ke Pengadilan Negeri Kabupaten Malang,” tutupnya. (cj9/mas/rmc)

MALANG – Kasus penggelapan dana nasabah oleh salah satu oknum pengawas di koperasi Artha Prima Turen memasuki tahap pengembangan baru. Ternyata, usai vonis yang dijatuhkan majelis hakim kepada Sugianto sebagai pengawas koperasi, polisi juga mengembangkan perkaranya kepada ketua koperasinya, Anjar Juli Kuswati.

Polda Jatim yang menyidik kasus perkara ini, telah melimpahkan kelanjutan perkara ini ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepanjen. Sementara tersangka Anjar Juli Kuswati sejak pertengahan pekan lalu telah dititipkan di rumah tahanan (rutan) Polres Malang. Kasatreskrim Polres Malang AKP Donny K Baralangi membenarkan jika saat ini tersangka Anjar Juli Kuswati sudah berada di rumah tahanan Polres Malang.

“Statusnya sebagai tersangka titipan dari Kejaksaan Negeri Kepanjen,” ucapnya.

Sementara itu, Imam Muslich SH selaku kuasa hukum dari pihak korban Toni Surya Hartanto mengatakan, perkara yang menjerat tersangka Anjar Juli Kuswati adalah satu bagian dengan perkara tersangka sebelumnya, Sugianto.

“Setelah Sugianto divonis majelis hakim, sekarang giliran perkara Anjar Juli Kuswati yang dilanjutkan,” jelas advokat yang juga mantan wartawan ini.

Baik Sugianto dan Anjar Juli Kuswati dijerat dengan perkara yang sama, yakni kasus penipuan dan penggelapan terhadap korban Toni Surya Hartanto. Mereka dijerat Pasal 372 KUHP Jo Pasal 55 ayat 1. Sementara awal Oktober lalu Sugianto sudah divonis 3 tahun penjara oleh ketua majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen.

Awalnya, antara korban Toni dan Sugianto adalah teman akrab. Sugianto menawarkan investasi berupa penyertaan modal usaha di koperasi yang ia kelola. Korban Toni pun tertarik dan secara bertahap menyetor dana ke tersangka Sugianto mulai dari Rp 500 juta di tahun pertama dan berlanjut hingga tahun 2019, menjadi total sebesar Rp 2,5 miliar. Kecurigaan korban muncul saat di tahun 2020 ingin menarik sejumlah dananya dan merasa dipersulit oleh Sugianto.

“Pada saat mau menarik deposit, klien kami selalu diberi alasan yang tidak masuk akal. Katanya akan diberikan bunga sebesar satu persen di tiap bulan, namun bunga itu tidak kunjung diberikan,” jelas Imam kepada Jawa Pos Radar Malang.

Merasa kesal dan tak kunjung menerima uang miliknya, Toni langsung melaporkan kasus ini ke Polda Jatim. Dikonfirmasi secara terpisah, kuasa hukum dari Ketua Koperasi Artha Prima Turen Gunadi Handoko SH mengungkapkan bahwa saat ini berkas-berkas pemeriksaan tersangka sudah berada di Kejari Kepanjen. Jika sesuai rencana maka sidang dakwaan akan segera di gelar di minggu ini. Dia juga menjelaskan bahwa, hasil pemeriksaan penyidik di Polda Jatim keduanya saling bekerja sama dalam proses penggelapan dana nasabah. Khususnya dana milik korban Toni Surya Hartanto.

“Ketua Koperasi Bu Anjar sudah ditetapkan tersangka oleh Polda Jawa Timur, kini hanya menunggu berkas untuk diserahkan ke Pengadilan Negeri Kabupaten Malang,” tutupnya. (cj9/mas/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/