alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

Pedagang Ramai-Ramai Bantah Jual Daging Sapi Berpenyakit

PAKISAJI – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkiti hewan ternak, khususnya sapi-sapi di Kabupaten Malang tidak hanya meresahkan peternak. Pedagang daging di pasar tradisional juga merugi. Omzetnya merosot karena banyak pelanggannya yang mengkhawatirkan daging sapi ber-PMK beredar.

Apalagi belakangan ini tersiar kabar bahwa tidak sedikit pedagang menjual daging ber-PMK lantaran harganya murah, sehingga mereka mengais untung besar.  Kabar ini ditepis sejumlah pedagang daging di Kabupaten Malang.

”Walaupun katanya PMK tidak berbahaya bagi manusia, tapi sapi kami diperiksa terlebih dahulu kesehatannya (sebelum disembelih),” Hj Siti Endang, salah satu pedagang daging di Pasar Pakisaji, kemarin.

Pedagang berusia 56 tahun itu menyesalkan jika daging sapi ber-PMK diperjualbelikan. Dia menyebut selalu menjual daging bagus. ”Daging sapi yang kami jual ini langganan RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Kanjuruhan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan pedagang daging di Pasar Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Utama Prastya Mukti, salah satu pedagang daging itu mengaku selalu menyeleksi sapi sebelum disembelih. “Walaupun pembeli tidak ada yang menanyakan tentang kualitas sapi, tapi kami tetap menyembelih yang sehat. Tidak berani membeli sapi tidak sehat untuk dijual,” terang pedagang berusia 27 tahun itu.

Untuk harga, Mukti menyebut masih standar hingga kini. Hanya saja, kata dia, pelanggannya merosot. ”Saya jual daging yang bagus dengan harga Rp 120 ribu per kilogram. Kalau kualitas standar ya Rp 115 ribu,” lanjut dia.

Sementara penjual daging di Pasar Singosari, Muhammad Ali mengaku sering menemui konsumen yang mengeluh kepadanya atas penyakit PMK yang mulai merebak. Namun, dia menjelaskan bahwa sapi yang dia sembelih adalah daging sehat dan bagus. “Ya karena ada isu PMK, jadi menurun penjualan,” kata pedagang berusia 37 tahun itu.(nif/dan)

PAKISAJI – Merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menjangkiti hewan ternak, khususnya sapi-sapi di Kabupaten Malang tidak hanya meresahkan peternak. Pedagang daging di pasar tradisional juga merugi. Omzetnya merosot karena banyak pelanggannya yang mengkhawatirkan daging sapi ber-PMK beredar.

Apalagi belakangan ini tersiar kabar bahwa tidak sedikit pedagang menjual daging ber-PMK lantaran harganya murah, sehingga mereka mengais untung besar.  Kabar ini ditepis sejumlah pedagang daging di Kabupaten Malang.

”Walaupun katanya PMK tidak berbahaya bagi manusia, tapi sapi kami diperiksa terlebih dahulu kesehatannya (sebelum disembelih),” Hj Siti Endang, salah satu pedagang daging di Pasar Pakisaji, kemarin.

Pedagang berusia 56 tahun itu menyesalkan jika daging sapi ber-PMK diperjualbelikan. Dia menyebut selalu menjual daging bagus. ”Daging sapi yang kami jual ini langganan RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Kanjuruhan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan pedagang daging di Pasar Landungsari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Utama Prastya Mukti, salah satu pedagang daging itu mengaku selalu menyeleksi sapi sebelum disembelih. “Walaupun pembeli tidak ada yang menanyakan tentang kualitas sapi, tapi kami tetap menyembelih yang sehat. Tidak berani membeli sapi tidak sehat untuk dijual,” terang pedagang berusia 27 tahun itu.

Untuk harga, Mukti menyebut masih standar hingga kini. Hanya saja, kata dia, pelanggannya merosot. ”Saya jual daging yang bagus dengan harga Rp 120 ribu per kilogram. Kalau kualitas standar ya Rp 115 ribu,” lanjut dia.

Sementara penjual daging di Pasar Singosari, Muhammad Ali mengaku sering menemui konsumen yang mengeluh kepadanya atas penyakit PMK yang mulai merebak. Namun, dia menjelaskan bahwa sapi yang dia sembelih adalah daging sehat dan bagus. “Ya karena ada isu PMK, jadi menurun penjualan,” kata pedagang berusia 37 tahun itu.(nif/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/