alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Jejak Spesialis Pencuri Kotak Amal

TUREN – AHN, 26, boleh dibilang spesialis pencuri kotak amal. Pasalnya, sebelum diamankan jajaran petugas Polsek Turen, pria asal Jawa Barat itu telah melakukan aksi serupa di tiga lokasi lain di Kabupaten Malang.

Kapolsek Turen Kompol Suko Wahyudi mengatakan, AHN dibekuk pasca melancarkan aksinya di Musala Abdul Masjid, di Jalan Tendean11/24 RT 02 RW 11, Kecamatan Turen kemarin (28/1).

Modusnya, pelaku masuk ke musala atau masjid yang dalam keadaan sepi. “Pelaku yang dapat bergerak bebas kemudian mencongkel dan merusak gembok kotak amal dengan menggunakan obeng dan tang yang sudah dipersiapkan sebelum beraksi,” kata Suko.

Atas pencurian yang dilakukan pada lokasi terakhir, petugas melakukan pengembangan hingga berhasil mengamankan tersangka. Tidak hanya itu, petugas jajaran Polsek Turen turut mengamankan barang bukti berupa uang senilai Rp 1.515.600. Selain itu, mereka juga mengamankan 1 buah tang, 1 buah obeng, 1 tas berwarna biru, dan kaos berwarna putih yang digunakan pelaku saat melancarkan aksinya.

Dari hasil interogasi, petugas mendapati pelaku sudah melakukan aksi yang sama di empat lokasi berbeda. Di antaranya di Mushola Darulkaromah, Dusun Krajan, RT 04 RW 01 dan Musala Thoriqus Salam di Jalan Raya Asrikaton di Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis.

“Selain itu, pelaku juga beraksi di Musala Al-Ikhlas, Dusun Bugis Krajan RT 03 RW 04 Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, serta di salah satu masjid di wilayah Bululawang,” tambah Suko.

Perwira dengan satu melati di pundaknya itu menambahkan, sehari-harinya AHN bekerja sebagai sopir truk. “Uang hasil curian itu digunakan untuk membayar utang dan sisanya untuk kebutuhan hidup, karena akhir-akhir ini dia mengaku mengalami kesulitan pendapatan,” jelas Suko didampingi Kapolsek Pakis AKP Moh Luthfi dan Pejabat Sementara (PS) Kasi Humas Polres Malang Iptu Achmad Taufik.

Akibat perbuatannya tersebut, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana curat pasal 363 juncto pasal 64 ayat 1 KUHP. “Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara,” tandas Suko. (iik/dan)

TUREN – AHN, 26, boleh dibilang spesialis pencuri kotak amal. Pasalnya, sebelum diamankan jajaran petugas Polsek Turen, pria asal Jawa Barat itu telah melakukan aksi serupa di tiga lokasi lain di Kabupaten Malang.

Kapolsek Turen Kompol Suko Wahyudi mengatakan, AHN dibekuk pasca melancarkan aksinya di Musala Abdul Masjid, di Jalan Tendean11/24 RT 02 RW 11, Kecamatan Turen kemarin (28/1).

Modusnya, pelaku masuk ke musala atau masjid yang dalam keadaan sepi. “Pelaku yang dapat bergerak bebas kemudian mencongkel dan merusak gembok kotak amal dengan menggunakan obeng dan tang yang sudah dipersiapkan sebelum beraksi,” kata Suko.

Atas pencurian yang dilakukan pada lokasi terakhir, petugas melakukan pengembangan hingga berhasil mengamankan tersangka. Tidak hanya itu, petugas jajaran Polsek Turen turut mengamankan barang bukti berupa uang senilai Rp 1.515.600. Selain itu, mereka juga mengamankan 1 buah tang, 1 buah obeng, 1 tas berwarna biru, dan kaos berwarna putih yang digunakan pelaku saat melancarkan aksinya.

Dari hasil interogasi, petugas mendapati pelaku sudah melakukan aksi yang sama di empat lokasi berbeda. Di antaranya di Mushola Darulkaromah, Dusun Krajan, RT 04 RW 01 dan Musala Thoriqus Salam di Jalan Raya Asrikaton di Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis.

“Selain itu, pelaku juga beraksi di Musala Al-Ikhlas, Dusun Bugis Krajan RT 03 RW 04 Desa Saptorenggo, Kecamatan Pakis, serta di salah satu masjid di wilayah Bululawang,” tambah Suko.

Perwira dengan satu melati di pundaknya itu menambahkan, sehari-harinya AHN bekerja sebagai sopir truk. “Uang hasil curian itu digunakan untuk membayar utang dan sisanya untuk kebutuhan hidup, karena akhir-akhir ini dia mengaku mengalami kesulitan pendapatan,” jelas Suko didampingi Kapolsek Pakis AKP Moh Luthfi dan Pejabat Sementara (PS) Kasi Humas Polres Malang Iptu Achmad Taufik.

Akibat perbuatannya tersebut, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana curat pasal 363 juncto pasal 64 ayat 1 KUHP. “Ancaman hukumannya maksimal tujuh tahun penjara,” tandas Suko. (iik/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/