alexametrics
25.5 C
Malang
Wednesday, 17 August 2022

Bos Perumahan Grand Emerald Tertangkap

KABUPATEN – Pelarian Miftachul Amin, bos pengembang perumahan Grand Emerald di Dusun PohBener, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, berakhir pada Senin malam (27/6). Pria yang menjabat sebagai direktur PT Developer Properti Indoland (DPI) ditangkap personel Ditreskrimum Polda Jatim di kawasan Surabaya Barat.

”Betul. Dia ditangkap pada Senin malam di tempat persembunyiannya,” kata KabidHumas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto melalui sambungan telepon kemarin sore (28/6).Amin bersembunyi cukup lama setelah kasus dugaan penipuan penjualan rumah yang membelitnya mencuat pada 2021.

Penangkapan Amin dilakukan berdasar 29 laporan yang masuk ke Ditreskrimum Polda Jatim.Dirmanto menjabarkan, sebagian korban yang melapor sudah melunasi uang pembelian rumah. Ada juga yang baru membayar separo dari harga rumah bersubsidi yang dipatok mulai Rp 140 Juta itu.

Kasus tersebut bermula dari penawaran rumah berharga murah oleh Amin pada 2017. Para calon pembeli yang tertarik dikumpulkan di Hotel Oval, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya. Dalam pertemuan itu dijelaskan calon pembeli yang tertarik harus membayar uang tanda jadi (UJT) senilai Rp 1 juta.Mereka juga diberi waktu selama tiga  hari untuk berpikir apakah jadi membeli rumah  atau tidak. Jika jadi membeli, down payment (DP) sebesar Rp 5 Juta harus dibayar.Di bawah 30 persen dari harga yang ditawarkan.

Setelah itu, pembayaran baru bisa dilakukan dengan tiga cara.Yakni melalui sistem in-house atau mencicil langsung ke pihak developer tanpa perantara bank, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), atau langsung cash.Semua para pembeli yang berjumlah 300 orang itu dijanjikan dapat menikmati rumah pada tahun 2019.Karena harga rumah yang ditawarkan sangat murah, yakni mulai Rp 143 juta per unit, para pembeli pun sangat tertarik.Estimasi kala itu, Amin sudah menerima Rp 23 Miliar uang dari para pembeli.

Setelah pertemuan itu, ternyata tidak ada kabar kapan rumah diserahkan atau bahkan dibangun.Hingga 2021, tercatat baru dua orang yang menerima penyerahan rumah.Sisanya tidak ada kejelasan. Dari hasil penyelidikan polisi, Grand Emerald merupakan perumahan yang belum dapat diperjualbelikan.

”Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum ada, tanah perumahannya pun belum lunas,” kata Dirmanto. Artinya, perumahan itu baru memiliki izin usaha, tetapi tidak dengan tanahnya.Kini, Amin sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.Dia juga masih harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait pertanggungjawabannya atas perumahan itu.(biy/fat)

KABUPATEN – Pelarian Miftachul Amin, bos pengembang perumahan Grand Emerald di Dusun PohBener, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, berakhir pada Senin malam (27/6). Pria yang menjabat sebagai direktur PT Developer Properti Indoland (DPI) ditangkap personel Ditreskrimum Polda Jatim di kawasan Surabaya Barat.

”Betul. Dia ditangkap pada Senin malam di tempat persembunyiannya,” kata KabidHumas Polda Jatim Kombes Pol Dirmanto melalui sambungan telepon kemarin sore (28/6).Amin bersembunyi cukup lama setelah kasus dugaan penipuan penjualan rumah yang membelitnya mencuat pada 2021.

Penangkapan Amin dilakukan berdasar 29 laporan yang masuk ke Ditreskrimum Polda Jatim.Dirmanto menjabarkan, sebagian korban yang melapor sudah melunasi uang pembelian rumah. Ada juga yang baru membayar separo dari harga rumah bersubsidi yang dipatok mulai Rp 140 Juta itu.

Kasus tersebut bermula dari penawaran rumah berharga murah oleh Amin pada 2017. Para calon pembeli yang tertarik dikumpulkan di Hotel Oval, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya. Dalam pertemuan itu dijelaskan calon pembeli yang tertarik harus membayar uang tanda jadi (UJT) senilai Rp 1 juta.Mereka juga diberi waktu selama tiga  hari untuk berpikir apakah jadi membeli rumah  atau tidak. Jika jadi membeli, down payment (DP) sebesar Rp 5 Juta harus dibayar.Di bawah 30 persen dari harga yang ditawarkan.

Setelah itu, pembayaran baru bisa dilakukan dengan tiga cara.Yakni melalui sistem in-house atau mencicil langsung ke pihak developer tanpa perantara bank, Kredit Pemilikan Rumah (KPR), atau langsung cash.Semua para pembeli yang berjumlah 300 orang itu dijanjikan dapat menikmati rumah pada tahun 2019.Karena harga rumah yang ditawarkan sangat murah, yakni mulai Rp 143 juta per unit, para pembeli pun sangat tertarik.Estimasi kala itu, Amin sudah menerima Rp 23 Miliar uang dari para pembeli.

Setelah pertemuan itu, ternyata tidak ada kabar kapan rumah diserahkan atau bahkan dibangun.Hingga 2021, tercatat baru dua orang yang menerima penyerahan rumah.Sisanya tidak ada kejelasan. Dari hasil penyelidikan polisi, Grand Emerald merupakan perumahan yang belum dapat diperjualbelikan.

”Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum ada, tanah perumahannya pun belum lunas,” kata Dirmanto. Artinya, perumahan itu baru memiliki izin usaha, tetapi tidak dengan tanahnya.Kini, Amin sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi.Dia juga masih harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait pertanggungjawabannya atas perumahan itu.(biy/fat)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/