alexametrics
20.9 C
Malang
Wednesday, 17 August 2022

Masih Misteri, Arca Dwarapala Diekskavasi

KABUPATEN – Sejak Senin lalu (27/6), petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur memberi perhatian khusus terhadap Candi Singosari. Arca Dwarapala pada situs yang berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari itu kembali digali atau diekskavasi.

Arkeolog yang juga dosen sejarah di Universitas Negeri Malang (UM) Drs Lutfi Ismail MA menyebut bila proses itu dilakukan untuk memperoleh data pasti terkait posisi arca yang sebenarnya.

Sebab, selama ini posisi aslinya masih menjadi misteri. ”Sementara itu, arah hadapnya juga tidak menentu. Jadi sekarang kami lakukan ekskavasi agar bisa mengetahui secara persis keberadaan sepasang Dwarapala itu mengawal candi,” ujar Lutfi, kemarin (28/6). Dia mengatakan bila proses ekskavasi itu akan berlangsung hingga 5 Juli nanti.

Sampai hari kedua proses ekskavasi, pihaknya sudah memperoleh temuan sementara di sisi utara. Di sana ada struktur batu sebanyak dua lapis, yang terkonfirmasi dari foto lama milik Dinas Purbakala Hindia Belanda. Ekskavasi itu disebut-sebut menjadi yang pertama dilakukan pada Arca Dwarapala di Desa Candirenggo. Namun, menurut informasi yang diterima koran ini, pada tahun 1982 arca tersebut pernah diangkat dari yang sebelumnya terbenam setengah badan. ”Itu diangkat lalu diberi landasan beton cor,” jawab Lutfi.

Dengan ekskavasi yang dilakukan itu, dia berharap bisa menjadi rekomendasi untuk tindakan selanjutnya. Tindakan yang dimaksud terkait dugaan-dugaan yang boleh jadi mengarah kepada arah hadap yang asli dari sepasang Arca Dwarapala tersebut. ”Karena ini akan berpengaruh besar terhadap narasi yang akan dibuat terkait dengan penafsiran yang baru,” terang Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM itu. Untuk diketahui, arca di sana memang sepasang. Ketinggiannya 3,7 meter, tebalnya 1,98 meter dan lebarnya 2,25 meter.

Lutfi menyebut bila sampai saat ini ada dua penafsiran terkait Arca Dwarapala di sana. Pertama, penafsiran yang menghubungkan Arca Dwarapala dengan kompleks Candi Singosari di sebelah utara. ”Karena menurut buku The Antiquities of Singhasari dari Jessy Bloom dikatakan bahwa dulu di wilayah Candirenggo dan sekitarnya terdapat tujuh candi, yang sekarang tinggal satu,” kata dia.

Tafsiran kedua, menunjukkan bahwa Arca Dwarapala tidak mengiringi candi. Melainkan sesuatu lain di sebelah barat yang belum diketahui secara pasti. Berdasarkan laporan masyarakat, di sebelah barat tersebut juga banyak ditemukan unsur bata di sekitar Sumber Air Ken Dedes dan mata air di Kampung Kadipaten. ”Selain itu, ada beberapa sarjana yang menduga bahwa sepasang Dwarapala itu mengarah kepada bangunan suci atau keraton. Tapi itu masih memerlukan pembuktian,” kata Lutfi.

Secara terpisah, Pamong Budaya Ahli Madya BPCB Jawa Timur Andi M Said menyebut bila pengangkatan arca pada tahun 1982 dilakukan di sisi selatan karena terpendam setengah badan. Dia juga menyebut bila ekskavasi itu ditujukan untuk mendapat data baru terkait arca di sana. ”Iya, tujuannya untuk mengetahui posisi Dwarapala. Karena Dwarapala itu kalau tidak saling berhadapan menghadap ke depan. Dengan makna menjaga orang yang masuk,” jelas Andi.

Yang menjadi tantangan adalah keberadaan jalan, sehingga susah bagi BPCB untuk menggali bagian tengah dan hanya bisa melihat bagian ujungnya saja. ”Jadi, kelihatannya ada dua gapura di utara dan selatan. Nah, itu yang kita gali. Sekarang sudah ketemu fondasinya yang di selatan. Sementara di utara ada juga tapi strukturnya hancur,” terangnya.

Rencananya ekskavasi akan dilakukan hingga kedalaman satu meter. Hal tersebut dilakukan untuk melihat bagian pedestal dan permukaan tanah pada era Tumapel yang kini sudah tertimbun. ”Namun, kami belum bisa memastikan apa Arca Dwarapala itu apakah satu paket dengan Candi Singasari, tapi arca ini ada pada era Tumapel dengan Singasari sebagai ibu kota,” tuturnya. Andi menyebut bila ekskavasi tersebut bisa saja ada proses lanjutannya. Sebab, ada banyak data yang perlu dicari. (mel/by)

KABUPATEN – Sejak Senin lalu (27/6), petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur memberi perhatian khusus terhadap Candi Singosari. Arca Dwarapala pada situs yang berlokasi di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari itu kembali digali atau diekskavasi.

Arkeolog yang juga dosen sejarah di Universitas Negeri Malang (UM) Drs Lutfi Ismail MA menyebut bila proses itu dilakukan untuk memperoleh data pasti terkait posisi arca yang sebenarnya.

Sebab, selama ini posisi aslinya masih menjadi misteri. ”Sementara itu, arah hadapnya juga tidak menentu. Jadi sekarang kami lakukan ekskavasi agar bisa mengetahui secara persis keberadaan sepasang Dwarapala itu mengawal candi,” ujar Lutfi, kemarin (28/6). Dia mengatakan bila proses ekskavasi itu akan berlangsung hingga 5 Juli nanti.

Sampai hari kedua proses ekskavasi, pihaknya sudah memperoleh temuan sementara di sisi utara. Di sana ada struktur batu sebanyak dua lapis, yang terkonfirmasi dari foto lama milik Dinas Purbakala Hindia Belanda. Ekskavasi itu disebut-sebut menjadi yang pertama dilakukan pada Arca Dwarapala di Desa Candirenggo. Namun, menurut informasi yang diterima koran ini, pada tahun 1982 arca tersebut pernah diangkat dari yang sebelumnya terbenam setengah badan. ”Itu diangkat lalu diberi landasan beton cor,” jawab Lutfi.

Dengan ekskavasi yang dilakukan itu, dia berharap bisa menjadi rekomendasi untuk tindakan selanjutnya. Tindakan yang dimaksud terkait dugaan-dugaan yang boleh jadi mengarah kepada arah hadap yang asli dari sepasang Arca Dwarapala tersebut. ”Karena ini akan berpengaruh besar terhadap narasi yang akan dibuat terkait dengan penafsiran yang baru,” terang Dosen Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM itu. Untuk diketahui, arca di sana memang sepasang. Ketinggiannya 3,7 meter, tebalnya 1,98 meter dan lebarnya 2,25 meter.

Lutfi menyebut bila sampai saat ini ada dua penafsiran terkait Arca Dwarapala di sana. Pertama, penafsiran yang menghubungkan Arca Dwarapala dengan kompleks Candi Singosari di sebelah utara. ”Karena menurut buku The Antiquities of Singhasari dari Jessy Bloom dikatakan bahwa dulu di wilayah Candirenggo dan sekitarnya terdapat tujuh candi, yang sekarang tinggal satu,” kata dia.

Tafsiran kedua, menunjukkan bahwa Arca Dwarapala tidak mengiringi candi. Melainkan sesuatu lain di sebelah barat yang belum diketahui secara pasti. Berdasarkan laporan masyarakat, di sebelah barat tersebut juga banyak ditemukan unsur bata di sekitar Sumber Air Ken Dedes dan mata air di Kampung Kadipaten. ”Selain itu, ada beberapa sarjana yang menduga bahwa sepasang Dwarapala itu mengarah kepada bangunan suci atau keraton. Tapi itu masih memerlukan pembuktian,” kata Lutfi.

Secara terpisah, Pamong Budaya Ahli Madya BPCB Jawa Timur Andi M Said menyebut bila pengangkatan arca pada tahun 1982 dilakukan di sisi selatan karena terpendam setengah badan. Dia juga menyebut bila ekskavasi itu ditujukan untuk mendapat data baru terkait arca di sana. ”Iya, tujuannya untuk mengetahui posisi Dwarapala. Karena Dwarapala itu kalau tidak saling berhadapan menghadap ke depan. Dengan makna menjaga orang yang masuk,” jelas Andi.

Yang menjadi tantangan adalah keberadaan jalan, sehingga susah bagi BPCB untuk menggali bagian tengah dan hanya bisa melihat bagian ujungnya saja. ”Jadi, kelihatannya ada dua gapura di utara dan selatan. Nah, itu yang kita gali. Sekarang sudah ketemu fondasinya yang di selatan. Sementara di utara ada juga tapi strukturnya hancur,” terangnya.

Rencananya ekskavasi akan dilakukan hingga kedalaman satu meter. Hal tersebut dilakukan untuk melihat bagian pedestal dan permukaan tanah pada era Tumapel yang kini sudah tertimbun. ”Namun, kami belum bisa memastikan apa Arca Dwarapala itu apakah satu paket dengan Candi Singasari, tapi arca ini ada pada era Tumapel dengan Singasari sebagai ibu kota,” tuturnya. Andi menyebut bila ekskavasi tersebut bisa saja ada proses lanjutannya. Sebab, ada banyak data yang perlu dicari. (mel/by)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/