alexametrics
25.1 C
Malang
Tuesday, 11 May 2021

Polisi Ungkap Fakta di Balik Tewasnya Perempuan di Kebun Tebu

KEPANJEN – Polisi menetapkan dua tersangka atas kematian Dewi Lestari, 25. Perempuan yang ditemukan tak bernyawa di kebun tebu kawasan Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen. Kedua orang yang ditetapkan sebagai tersangka, kemarin (30/4) tersebut adalah teman korban.

”Kasus ini masih terus kami dalami. Kemungkinan ada penambahan tersangka,” ujar Kapolres Malang AKBP Hendri Umar kemarin. Kedua tersangka itu adalah Cahyo Putro, 20 dan Abdul Aziz, 25. Keduanya merupakan warga Kepanjen sekaligus teman korban.

”Jika mengacu pada Pasal 531 KUHP, penambahan tersangka bisa tiga sampai empat orang. Karena ada orang lain yang mengetahui dan juga tidak ada tindakan,” tambah Hendri.

Sebelum jasad Dewi ditemukan pada Jumat lalu (23/4), empat hari sebelumnya korban bersama Cahyo dan Aziz. Pada Senin (19/4) sekitar pukul 23.00, mereka bertiga berangkat ke Stadion Kanjuruhan untuk pesta minuman keras (miras). Sebelum menenggak ”banyu setan” jenis arak itu, Dewi sudah sempoyongan karena telah meminum 15 saset obat batuk.

Ketika hendak pulang sekitar pukul 00.15, mereka sempat berhenti di depan pintu masuk Stadion Kanjuruhan untuk melanjutkan minumnya. Kala itu, masih ada sisa 1,5 liter arak yang dicampur minuman bersoda itu. ”Kemudian pada pukul 01.00 dini hari, korban berkata hendak mengambil uang dan langsung pergi mengendarai motor Cahyo,” imbuh Hendri.

Merasa khawatir, kedua tersangka bersama anak korban berusaha menyusul. Namun, tak jauh dari situ mereka melihat Dewi terperosok ke dalam sawah tepi jalan. Setelah itu, mereka langsung membawa korban ke rumah Syahrul di Desa Kedungpedaringan, Kepanjen.

”Sekitar pukul 10.00 pagi korban meninggal dunia. Tersangka Cahyo langsung mengabarkan hal itu kepada kedua temanya,” tutur Hendri.

Hendri menegaskan, sekalipun sudah ada dua orang yang jadi tersangka, namun kematian Dewi dia pastikan bukan akibat pembunuhan. ”Kasus ini sedikit unik. Meski bukan murni pembunuhan, tapi dari penyelidikan, ada tindakan-tindakan yang dilakukan tersangka terhadap korban yang telah memenuhi unsur pelanggaran pidana,” kata dia.

Pelanggaran tersebut tertuang dalam Pasal 359 KUHP dan Pasal 181 KUHP. Dua pasal tersebut dikenakan kepada kedua tersangka lantaran melakukan penelantaran terhadap korban, baik saat korban masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

”Untuk Pasal 359 KUHP, sebelum korban minum miras di Stadion Kanjuruhan, korban kondisinya sudah lemah karena sudah minum 15 saset obat batuk. Kemudian pelaku membiarkan korban minum miras hingga mabuk. Setelah itu, dalam kondisi mabuk, pelaku juga membiarkan korban mengendarai motornya sendirian sehingga korban terjatuh, yang selanjutnya hanya membawa korban ke rumah rekannya tanpa memberikan pertolongan medis. Padahal saat itu korban sudah dalam kondisi lemah,” terangnya.

Ketika korban diketahui sudah meninggal pada Selasa (20/4), mereka malah menyembunyikan jenazah korban. Bukannya berupaya untuk memberi kabar kepada kerabat korban ataupun lapor kepada pihak berwajib.

”Saat korban meninggal dunia, pelaku tidak segera memberi kabar dan malah membiarkan saja. Bahkan, setelah sekitar dua hari, tepatnya pada Kamis, 22 April 2021 malam, ada upaya dari pelaku yang terkesan akan menyembunyikan jasad korban. Awalnya akan dikubur di lahan tebu yang berjarak hanya sekitar 100 meter itu. Namun di tengah perjalanan, ada warga yang menyorot dengan senter. Pelaku kaget dan berlari meninggalkan korban begitu saja,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang pelaku, Cahyo Putro, mengaku membawa Dewi ke rumah Syahrul karena panik. Dia beralasan tidak bisa berpikir jernih karena masih dalam pengaruh alkohol.

”Karena juga dalam keadaan pengaruh miras. Biasanya juga kami kumpul-kumpul di sana (rumah Syahrul),” ucapnya.

Versi Cahyo, dia tak melakukan pelecehan seksual terhadap korban ketika korban lemas tak berdaya saat di rumah Syahrul. Bahkan, dia mengaku menunggui Dewi hingga akhirnya dia mengembuskan napas terakhirnya.

”Saya juga sempat bacakan Surah Yasin sebelum dia meninggal,” imbuhnya.

Sementara Abdul Aziz, setelah membawa Dewi ke rumah Syahrul, dia langsung pulang ke rumah orang tuanya. ”Karena saya harus bekerja di bengkel. Jadi saya langsung pulang,” terangnya.

Kini hanya penyesalan yang bisa mereka berdua rasakan. Atas perbuatannya, mereka diancam pasal berlapis dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. (fik/c1/dan)

KEPANJEN – Polisi menetapkan dua tersangka atas kematian Dewi Lestari, 25. Perempuan yang ditemukan tak bernyawa di kebun tebu kawasan Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen. Kedua orang yang ditetapkan sebagai tersangka, kemarin (30/4) tersebut adalah teman korban.

”Kasus ini masih terus kami dalami. Kemungkinan ada penambahan tersangka,” ujar Kapolres Malang AKBP Hendri Umar kemarin. Kedua tersangka itu adalah Cahyo Putro, 20 dan Abdul Aziz, 25. Keduanya merupakan warga Kepanjen sekaligus teman korban.

”Jika mengacu pada Pasal 531 KUHP, penambahan tersangka bisa tiga sampai empat orang. Karena ada orang lain yang mengetahui dan juga tidak ada tindakan,” tambah Hendri.

Sebelum jasad Dewi ditemukan pada Jumat lalu (23/4), empat hari sebelumnya korban bersama Cahyo dan Aziz. Pada Senin (19/4) sekitar pukul 23.00, mereka bertiga berangkat ke Stadion Kanjuruhan untuk pesta minuman keras (miras). Sebelum menenggak ”banyu setan” jenis arak itu, Dewi sudah sempoyongan karena telah meminum 15 saset obat batuk.

Ketika hendak pulang sekitar pukul 00.15, mereka sempat berhenti di depan pintu masuk Stadion Kanjuruhan untuk melanjutkan minumnya. Kala itu, masih ada sisa 1,5 liter arak yang dicampur minuman bersoda itu. ”Kemudian pada pukul 01.00 dini hari, korban berkata hendak mengambil uang dan langsung pergi mengendarai motor Cahyo,” imbuh Hendri.

Merasa khawatir, kedua tersangka bersama anak korban berusaha menyusul. Namun, tak jauh dari situ mereka melihat Dewi terperosok ke dalam sawah tepi jalan. Setelah itu, mereka langsung membawa korban ke rumah Syahrul di Desa Kedungpedaringan, Kepanjen.

”Sekitar pukul 10.00 pagi korban meninggal dunia. Tersangka Cahyo langsung mengabarkan hal itu kepada kedua temanya,” tutur Hendri.

Hendri menegaskan, sekalipun sudah ada dua orang yang jadi tersangka, namun kematian Dewi dia pastikan bukan akibat pembunuhan. ”Kasus ini sedikit unik. Meski bukan murni pembunuhan, tapi dari penyelidikan, ada tindakan-tindakan yang dilakukan tersangka terhadap korban yang telah memenuhi unsur pelanggaran pidana,” kata dia.

Pelanggaran tersebut tertuang dalam Pasal 359 KUHP dan Pasal 181 KUHP. Dua pasal tersebut dikenakan kepada kedua tersangka lantaran melakukan penelantaran terhadap korban, baik saat korban masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

”Untuk Pasal 359 KUHP, sebelum korban minum miras di Stadion Kanjuruhan, korban kondisinya sudah lemah karena sudah minum 15 saset obat batuk. Kemudian pelaku membiarkan korban minum miras hingga mabuk. Setelah itu, dalam kondisi mabuk, pelaku juga membiarkan korban mengendarai motornya sendirian sehingga korban terjatuh, yang selanjutnya hanya membawa korban ke rumah rekannya tanpa memberikan pertolongan medis. Padahal saat itu korban sudah dalam kondisi lemah,” terangnya.

Ketika korban diketahui sudah meninggal pada Selasa (20/4), mereka malah menyembunyikan jenazah korban. Bukannya berupaya untuk memberi kabar kepada kerabat korban ataupun lapor kepada pihak berwajib.

”Saat korban meninggal dunia, pelaku tidak segera memberi kabar dan malah membiarkan saja. Bahkan, setelah sekitar dua hari, tepatnya pada Kamis, 22 April 2021 malam, ada upaya dari pelaku yang terkesan akan menyembunyikan jasad korban. Awalnya akan dikubur di lahan tebu yang berjarak hanya sekitar 100 meter itu. Namun di tengah perjalanan, ada warga yang menyorot dengan senter. Pelaku kaget dan berlari meninggalkan korban begitu saja,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang pelaku, Cahyo Putro, mengaku membawa Dewi ke rumah Syahrul karena panik. Dia beralasan tidak bisa berpikir jernih karena masih dalam pengaruh alkohol.

”Karena juga dalam keadaan pengaruh miras. Biasanya juga kami kumpul-kumpul di sana (rumah Syahrul),” ucapnya.

Versi Cahyo, dia tak melakukan pelecehan seksual terhadap korban ketika korban lemas tak berdaya saat di rumah Syahrul. Bahkan, dia mengaku menunggui Dewi hingga akhirnya dia mengembuskan napas terakhirnya.

”Saya juga sempat bacakan Surah Yasin sebelum dia meninggal,” imbuhnya.

Sementara Abdul Aziz, setelah membawa Dewi ke rumah Syahrul, dia langsung pulang ke rumah orang tuanya. ”Karena saya harus bekerja di bengkel. Jadi saya langsung pulang,” terangnya.

Kini hanya penyesalan yang bisa mereka berdua rasakan. Atas perbuatannya, mereka diancam pasal berlapis dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara. (fik/c1/dan)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru