alexametrics
32C
Malang
Friday, 23 April 2021

Aspeporin Jamin Penjualan Porang Petani Kabupaten Malang

MALANG – Tanaman Porang saat ini sudah menjadi tren di kalangan petani Kabupaten Malang. Pasalnya tanaman ini mempunyai nilai jual yang tinggi dibanding umbi-umbian yang lain. Namun ada permasalahan yang dihadapi petani porang, yakni sulitnya mendapat bibit dan penjualan hasil panen.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Asuhan Pemberdayaan Porang Indonesi (Aspeporin) Kabupaten Malang Suyut mengatakan, dengan terbentuknya asosiasi ini, pihaknya berkomitmen untuk membantu penjualan hasil panen porang seluruh petani di Kabupaten Malang. “Kami sudah bekerja sama dengan seluruh pabrik pengelola tepung glukomanan. Sehingga untuk penjualan porang para petani tidak perlu khawatir,” ucapnya kepada Jawa pos Radar Kanjuruhan ketika gelaran sedekah bumi dan sosialisasi paska panen Porang, kemarin (5/4).

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, pabrik pengelola porang di Jawa Timur baru ada di tiga tempat. Yakni di Pasuruan, Kediri, dan Madiun.

Diketahui, di Kabupaten Malang ini banyak petani yang mulai berpindah untuk menanam komoditas porang. Apalagi usia tanamanya kurang dari setahun. Panen raya, dimungkinkan akan berlangsung mulai bulan Juni mendatang. Sehingga dia menyiapkan langkah agar saat musim panen nanti, petani tidak kebingungan menjual komoditas tersebut. “Kami akan memfasilitasi para petani, dan tidak perlu kawatir, kami akan sesuaikan langsung dengan harga pabrik yang berpihak kepada petani,” imbuhnya.

Secara hukum, asosiasi yang baru punya kantor sekretariat di Desa Segaran Kecamatan Gedangan itu memang sudah berbadan hukum. Dan diakui oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Aspeporin. Sehingga pihaknya menegaskan, agar petani tak ragu untuk ikut berkontribusi dalam “wadah” para petani tumbuhan yang beratnya bisa sampai 7 – 8 kilo perbuahnya itu. “Kami tahu di Kabupaten Malang itu banyak komunitas petani porang. Sehingga kami berharap, semua perkumpulan itu bisa disatukan menjadi satu jalan. Sehingga penjualanya juga lebih mudah,” pungkas Suyut.

Pihaknya berharap ada dukungan dari dinas dan instansi terkait di pemerintahan dalam kelancaran penjualan porang ini. Karena menurutnya, tanaman yang bisa menghasilkan kisaran 80 ton per hektare itu juga merupakan salah satu bentuk pelaksanaan upaya ketahanan pangan nasional.

Dalam acara sosialisasi tersebut, hadir juga perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang. Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP, Slamet Budi Samsul mengatakan, Porang bisa dijual belikan dalam tiga bentuk. Yang pertama yakni sesuai bentuk buah asli, kemudian berbentuk chip atau gaplek, selanjutnya berupa tepung porang atau glukomanan. “Umbi basah Rp 8 ribu perkilo, chip atau gaplek sekitar Rp 50 ribu perkilo, dan tepung Rp 200 ribu per kilo,” ucapnya.

Dengan adanya Aspeporin, dia berharap, kendala petani porang untuk menjual hasil panen yang dirasa sulit selama ini bisa terselesaikan. “Sehingga para petani bisa mempunyai wadah untuk menyalurkan hasil panennya,” pungkas Slamet. (rmc/fik/mas)

MALANG – Tanaman Porang saat ini sudah menjadi tren di kalangan petani Kabupaten Malang. Pasalnya tanaman ini mempunyai nilai jual yang tinggi dibanding umbi-umbian yang lain. Namun ada permasalahan yang dihadapi petani porang, yakni sulitnya mendapat bibit dan penjualan hasil panen.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Asuhan Pemberdayaan Porang Indonesi (Aspeporin) Kabupaten Malang Suyut mengatakan, dengan terbentuknya asosiasi ini, pihaknya berkomitmen untuk membantu penjualan hasil panen porang seluruh petani di Kabupaten Malang. “Kami sudah bekerja sama dengan seluruh pabrik pengelola tepung glukomanan. Sehingga untuk penjualan porang para petani tidak perlu khawatir,” ucapnya kepada Jawa pos Radar Kanjuruhan ketika gelaran sedekah bumi dan sosialisasi paska panen Porang, kemarin (5/4).

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, pabrik pengelola porang di Jawa Timur baru ada di tiga tempat. Yakni di Pasuruan, Kediri, dan Madiun.

Diketahui, di Kabupaten Malang ini banyak petani yang mulai berpindah untuk menanam komoditas porang. Apalagi usia tanamanya kurang dari setahun. Panen raya, dimungkinkan akan berlangsung mulai bulan Juni mendatang. Sehingga dia menyiapkan langkah agar saat musim panen nanti, petani tidak kebingungan menjual komoditas tersebut. “Kami akan memfasilitasi para petani, dan tidak perlu kawatir, kami akan sesuaikan langsung dengan harga pabrik yang berpihak kepada petani,” imbuhnya.

Secara hukum, asosiasi yang baru punya kantor sekretariat di Desa Segaran Kecamatan Gedangan itu memang sudah berbadan hukum. Dan diakui oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) Aspeporin. Sehingga pihaknya menegaskan, agar petani tak ragu untuk ikut berkontribusi dalam “wadah” para petani tumbuhan yang beratnya bisa sampai 7 – 8 kilo perbuahnya itu. “Kami tahu di Kabupaten Malang itu banyak komunitas petani porang. Sehingga kami berharap, semua perkumpulan itu bisa disatukan menjadi satu jalan. Sehingga penjualanya juga lebih mudah,” pungkas Suyut.

Pihaknya berharap ada dukungan dari dinas dan instansi terkait di pemerintahan dalam kelancaran penjualan porang ini. Karena menurutnya, tanaman yang bisa menghasilkan kisaran 80 ton per hektare itu juga merupakan salah satu bentuk pelaksanaan upaya ketahanan pangan nasional.

Dalam acara sosialisasi tersebut, hadir juga perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang. Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP, Slamet Budi Samsul mengatakan, Porang bisa dijual belikan dalam tiga bentuk. Yang pertama yakni sesuai bentuk buah asli, kemudian berbentuk chip atau gaplek, selanjutnya berupa tepung porang atau glukomanan. “Umbi basah Rp 8 ribu perkilo, chip atau gaplek sekitar Rp 50 ribu perkilo, dan tepung Rp 200 ribu per kilo,” ucapnya.

Dengan adanya Aspeporin, dia berharap, kendala petani porang untuk menjual hasil panen yang dirasa sulit selama ini bisa terselesaikan. “Sehingga para petani bisa mempunyai wadah untuk menyalurkan hasil panennya,” pungkas Slamet. (rmc/fik/mas)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru