alexametrics
26.1 C
Malang
Tuesday, 22 June 2021

Makin Seksi, Malang Selatan Dilirik Pengusaha Hotel

MALANG – Penggarapan proyek lanjutan Jalur Lintas Selatan (JLS) menjadi perhatian investor. Beberapa investor, khususnya pengusaha hotel dan objek wisata, mulai melakukan penjajakan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara mengungkapkan, sudah ada beberapa pengusaha yang menyampaikan minatnya membangun hotel di Malang Selatan (Malsel). Jalur yang kemungkinan dipilih adalah wisata di sepanjang JLS.

”Beberapa (pengusaha) sudah berminat membangun hotel di sana (Malang Selatan). Konsepnya seperti di Bali. Jadi hotelnya di samping pantai,” ujar Made beberapa waktu lalu.

Ketika berkomunikasi dengan investor tersebut, Made menyarankan agar pengusaha mencari lahan terlebih dahulu. Made berpesan, lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan hotel tersebut sebaiknya tanah yang resmi dibeli dari warga atau pihak swasta, bukan tanah sengketa atau kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani.

”Walaupun lokasinya tidak persis di pinggir pantai juga tidak apa-apa kan? Pasti wisatawan tidak akan keberatan,” kata Made mengulangi ucapannya kepada investor.

Menurut Made, ada beberapa keuntungan jika pengusaha membangun hotel tidak persis di tepi pantai. Salah satunya, risiko bangunan rusak akibat diterjang ombak bisa diminimalisasi. ”Tidak perlu pinggir pantai, view-nya langsung ke pantai. Menurut saya lebih bagus dan aman,” katanya.

”Jadi juga punya pembeda dengan Bali,” kata pria yang juga menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala Badan Pendapatan Daerah Bapenda Kabupaten Malang itu.

Meski begitu, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha. Jika mereka tetap membangun hotel di tepi pantai, pihaknya tidak keberatan asalkan semua persyaratannya terpenuhi.

Pejabat eselon II B Pemkab Malang itu optimistis perekonomian warga Malang selatan akan terdongkrak seiring banyaknya investor yang invasi ke Malsel. ”Dengan adanya JLS itu manfaatnya sangat luar biasa. Perekonomian masyarakat juga pasti tergugah,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang Subur Hutagalung mengatakan, hingga saat ini belum ada investor yang secara resmi mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) hotel di pesisir pantai Malang Selatan.

”Sampai saat ini belum pernah ada yang masuk ke kami terkait hal itu,” ucapnya.

Namun, dia mengatakan bahwa hal itu mungkin akan segera bisa dilakukan, mengingat saat ini infrastruktur di Malsel juga terus berkembang. Dia percaya, hal tersebut punya garis lurus dengan kemajuan sarana dan prasarana di Malang Selatan.

”Di sana (Malang Selatan) memang potensinya sangat besar. Ke depan, mungkin tidak hanya sektor pariwisata yang diminati, industri pun juga sangat masuk di sana,” tutup mantan Kabag Hukum Pemkab Malang itu. (fik/c1/dan/rmc)

MALANG – Penggarapan proyek lanjutan Jalur Lintas Selatan (JLS) menjadi perhatian investor. Beberapa investor, khususnya pengusaha hotel dan objek wisata, mulai melakukan penjajakan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Malang Made Arya Wedhantara mengungkapkan, sudah ada beberapa pengusaha yang menyampaikan minatnya membangun hotel di Malang Selatan (Malsel). Jalur yang kemungkinan dipilih adalah wisata di sepanjang JLS.

”Beberapa (pengusaha) sudah berminat membangun hotel di sana (Malang Selatan). Konsepnya seperti di Bali. Jadi hotelnya di samping pantai,” ujar Made beberapa waktu lalu.

Ketika berkomunikasi dengan investor tersebut, Made menyarankan agar pengusaha mencari lahan terlebih dahulu. Made berpesan, lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan hotel tersebut sebaiknya tanah yang resmi dibeli dari warga atau pihak swasta, bukan tanah sengketa atau kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani.

”Walaupun lokasinya tidak persis di pinggir pantai juga tidak apa-apa kan? Pasti wisatawan tidak akan keberatan,” kata Made mengulangi ucapannya kepada investor.

Menurut Made, ada beberapa keuntungan jika pengusaha membangun hotel tidak persis di tepi pantai. Salah satunya, risiko bangunan rusak akibat diterjang ombak bisa diminimalisasi. ”Tidak perlu pinggir pantai, view-nya langsung ke pantai. Menurut saya lebih bagus dan aman,” katanya.

”Jadi juga punya pembeda dengan Bali,” kata pria yang juga menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) kepala Badan Pendapatan Daerah Bapenda Kabupaten Malang itu.

Meski begitu, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha. Jika mereka tetap membangun hotel di tepi pantai, pihaknya tidak keberatan asalkan semua persyaratannya terpenuhi.

Pejabat eselon II B Pemkab Malang itu optimistis perekonomian warga Malang selatan akan terdongkrak seiring banyaknya investor yang invasi ke Malsel. ”Dengan adanya JLS itu manfaatnya sangat luar biasa. Perekonomian masyarakat juga pasti tergugah,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang Subur Hutagalung mengatakan, hingga saat ini belum ada investor yang secara resmi mengajukan izin mendirikan bangunan (IMB) hotel di pesisir pantai Malang Selatan.

”Sampai saat ini belum pernah ada yang masuk ke kami terkait hal itu,” ucapnya.

Namun, dia mengatakan bahwa hal itu mungkin akan segera bisa dilakukan, mengingat saat ini infrastruktur di Malsel juga terus berkembang. Dia percaya, hal tersebut punya garis lurus dengan kemajuan sarana dan prasarana di Malang Selatan.

”Di sana (Malang Selatan) memang potensinya sangat besar. Ke depan, mungkin tidak hanya sektor pariwisata yang diminati, industri pun juga sangat masuk di sana,” tutup mantan Kabag Hukum Pemkab Malang itu. (fik/c1/dan/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru