alexametrics
24.1 C
Malang
Tuesday, 15 June 2021

Temuan BMKG, Parahnya Dampak Gempa Malang Karena Dua Hal Ini

MALANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeber hasil survey dan evaluasi di lapangan pascagempa di Malang selatan. Banyaknya bangunan yang rusak akibat gempa bumi bermagnitudo 6,1 dipicu oleh dua hal yang saling berkaitan. Selain banyak struktur bangunan tak didesain tahan gempa, kondisi batuan atau tanah tempat berdirinya bangunan juga ikut mempengaruhi.

”Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom di bagian sudutnya,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya di Malang, Rabu (14/4).

Menurut dia, selain kondisi rumah, kerusakan akibat gempa juga dipengaruhi kondisi batuan atau tanah setempat. ”Kerusakan parah banyak terjadi di endapan alluvium dan endapan lahar gunung api,” tambah. Selain itu, lanjut dia, kondisi topografi setempat berupa lereng atau lembah yang tersusun tanah atau batuan dengan klasifikasi kerapatan tanah (densitas) sedang juga berpengaruh terhadap kerusakan.

Jarak terhadap pusat gempa, kata dia, juga mempengaruhi kerusakan akibat gempa. ”Ini temuan hasil survei makroseismik dan mikroseismik BMKG di Malang, Blitar, dan Lumajang. Salah satu titiknya yaitu di Desa Sumber Tangkil dan Desa Jogomulyan Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang yang merupakan wilayah terparah terdampak gempa,” tutur Dwikorita.

Dwikorita menegaskan, sebenarnya gempa tidak membunuh atau melukai. Justru, bangunan yang melukai bahkan membunuh manusia. Sehingga rumah atau bangunan perlu dipersiapkan dan direncanakan agar kuat dan tahan gempa. ”Potensi bahaya gempa bumi di Indonesia sangat besar, jadi harus diantisipasi dengan menerapkan building code dengan ketat dalam membangun struktur bangunan. Bangunan tahan gempa bumi wajib diberlakukan di daerah rawan gempa,” tambahnya.

Sumber: Jawapos

MALANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membeber hasil survey dan evaluasi di lapangan pascagempa di Malang selatan. Banyaknya bangunan yang rusak akibat gempa bumi bermagnitudo 6,1 dipicu oleh dua hal yang saling berkaitan. Selain banyak struktur bangunan tak didesain tahan gempa, kondisi batuan atau tanah tempat berdirinya bangunan juga ikut mempengaruhi.

”Dari hasil survei dan evaluasi di lapangan banyak ditemukan struktur bangunan yang tidak memenuhi persyaratan tahan gempa. Mayoritas bangunan tidak menggunakan struktur kolom di bagian sudutnya,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangannya di Malang, Rabu (14/4).

Menurut dia, selain kondisi rumah, kerusakan akibat gempa juga dipengaruhi kondisi batuan atau tanah setempat. ”Kerusakan parah banyak terjadi di endapan alluvium dan endapan lahar gunung api,” tambah. Selain itu, lanjut dia, kondisi topografi setempat berupa lereng atau lembah yang tersusun tanah atau batuan dengan klasifikasi kerapatan tanah (densitas) sedang juga berpengaruh terhadap kerusakan.

Jarak terhadap pusat gempa, kata dia, juga mempengaruhi kerusakan akibat gempa. ”Ini temuan hasil survei makroseismik dan mikroseismik BMKG di Malang, Blitar, dan Lumajang. Salah satu titiknya yaitu di Desa Sumber Tangkil dan Desa Jogomulyan Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang yang merupakan wilayah terparah terdampak gempa,” tutur Dwikorita.

Dwikorita menegaskan, sebenarnya gempa tidak membunuh atau melukai. Justru, bangunan yang melukai bahkan membunuh manusia. Sehingga rumah atau bangunan perlu dipersiapkan dan direncanakan agar kuat dan tahan gempa. ”Potensi bahaya gempa bumi di Indonesia sangat besar, jadi harus diantisipasi dengan menerapkan building code dengan ketat dalam membangun struktur bangunan. Bangunan tahan gempa bumi wajib diberlakukan di daerah rawan gempa,” tambahnya.

Sumber: Jawapos

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru