alexametrics
28.5 C
Malang
Thursday, 30 June 2022

BPBD: La Nina Berimbas pada Petani

KOTA BATU – Curah hujan tinggi yang terjadi akhir – akhir ini berimbas ke sektor pertanian. Hal tersebut dikarenakan fenomena la nina yang sedang terjadi di Indonesia. Curah hujan naik menjadi 20-40 persen. Hal itu seperti diungkapkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Agung Sedayu, kemarin (31/10).

“La nina kebalikan dari el nino. Kalau el nino suhu permukaan Samudra Pasifik lebih panas sehingga menyebabkan kekeringan lebih panjang. Sedangkan la nina suhu permukaan air Samudra Pasifik jadi minus 5 derajat celcius yang berdampak curah hujan lebih tinggi,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa tak menutup kemungkinan akan terjadi bencana ditengah pandemi Covid-19. Maka dari itu, Agung menghimbau setiap daerah harus bisa mengantisipasi dan menyiapkan diri dalam penanganan bencana. Diantaranya seperti meningkatkan koordinasi setiap desa, peningkatan pos pemantauan bencana, dan melakukan simulasi guna kesiapan.

Pria bertubuh gempal ini juga menjelaskan tentang tiga poin utama yang telah diberikan presiden untuk menghadapi la nina. “Sesuai arahan kita harus mengambil langkah antisipasi, hitung dampak produksi pertanian, perikanan dan perhubungan yang terakhir mensosialisasikan,” terangnya.

Sementara itu, BPBD sudah berusaha maksimal dan siap akan penanggulangan la nina itu. Namun, imbas dari curah hujan tinggi yang dibawa, memberi efek kurang baik dalam sektor pertanian. Contohnya seperti yang diungkapkan seorang petani kembang kol, Andi Muslimin saat ditemui di lahan pertaniannya, Temas, Kecamatan Batu.

“Kalau terlalu sering hujan seperti ini, tanaman mudah busuk. Karena terlalu banyak kandungan air yang masuk ke tanaman,” jelasnya.

Menurut dia, penggunaan pupuk tidak bisa maksimal terserap karena selalu hanyut terbawa hujan. Selain itu hujan juga menyebabkan daun menjadi tipis dan mudah rontok.

Cara penanggulangan yang dipilih Andi yaitu dengan sering–sering menggunakan pupuk dengan kandungan kalsium tinggi. Pembuatan gundukan di setiap dua meter lahannya juga menjadi jalan keluar.

“Adanya hujan sebenarnya juga membantu. Tapi, jika terlalu sering pasti tanaman jadi rusak. Semoga cuaca bisa stabil dan tidak membawa dampak buruk ke petani,” harapnya.

Andi mengaku, dalam sekali panen lahan pertaniannya bisa menghasilkan 4 ton sayur kol. Saat ini harga kol Rp 4.000 per satu kilogram.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Curah hujan tinggi yang terjadi akhir – akhir ini berimbas ke sektor pertanian. Hal tersebut dikarenakan fenomena la nina yang sedang terjadi di Indonesia. Curah hujan naik menjadi 20-40 persen. Hal itu seperti diungkapkan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Agung Sedayu, kemarin (31/10).

“La nina kebalikan dari el nino. Kalau el nino suhu permukaan Samudra Pasifik lebih panas sehingga menyebabkan kekeringan lebih panjang. Sedangkan la nina suhu permukaan air Samudra Pasifik jadi minus 5 derajat celcius yang berdampak curah hujan lebih tinggi,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa tak menutup kemungkinan akan terjadi bencana ditengah pandemi Covid-19. Maka dari itu, Agung menghimbau setiap daerah harus bisa mengantisipasi dan menyiapkan diri dalam penanganan bencana. Diantaranya seperti meningkatkan koordinasi setiap desa, peningkatan pos pemantauan bencana, dan melakukan simulasi guna kesiapan.

Pria bertubuh gempal ini juga menjelaskan tentang tiga poin utama yang telah diberikan presiden untuk menghadapi la nina. “Sesuai arahan kita harus mengambil langkah antisipasi, hitung dampak produksi pertanian, perikanan dan perhubungan yang terakhir mensosialisasikan,” terangnya.

Sementara itu, BPBD sudah berusaha maksimal dan siap akan penanggulangan la nina itu. Namun, imbas dari curah hujan tinggi yang dibawa, memberi efek kurang baik dalam sektor pertanian. Contohnya seperti yang diungkapkan seorang petani kembang kol, Andi Muslimin saat ditemui di lahan pertaniannya, Temas, Kecamatan Batu.

“Kalau terlalu sering hujan seperti ini, tanaman mudah busuk. Karena terlalu banyak kandungan air yang masuk ke tanaman,” jelasnya.

Menurut dia, penggunaan pupuk tidak bisa maksimal terserap karena selalu hanyut terbawa hujan. Selain itu hujan juga menyebabkan daun menjadi tipis dan mudah rontok.

Cara penanggulangan yang dipilih Andi yaitu dengan sering–sering menggunakan pupuk dengan kandungan kalsium tinggi. Pembuatan gundukan di setiap dua meter lahannya juga menjadi jalan keluar.

“Adanya hujan sebenarnya juga membantu. Tapi, jika terlalu sering pasti tanaman jadi rusak. Semoga cuaca bisa stabil dan tidak membawa dampak buruk ke petani,” harapnya.

Andi mengaku, dalam sekali panen lahan pertaniannya bisa menghasilkan 4 ton sayur kol. Saat ini harga kol Rp 4.000 per satu kilogram.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/