alexametrics
20.8 C
Malang
Sunday, 22 May 2022

2 Pekan, Satpol PP Kota Batu Tindak 370 Orang yang Berkerumun

KOTA BATU – Penurunan laporan kasus Covid-19 secara nasional maupun di daerah membuat sebagian warga mulai abai dengan protokol kesehatan. Tidak terkecuali di Kota Batu. Meski sudah turun level, Satpol PP Kota Batu tetap mengimbau agar masyarakat tetap taat dengan prokes saat beraktifitas di lingkungan publik.

Kepala Satpol PP Kota Batu M Nur Adhim mengatakan, pihaknya terus melakukan patroli di sejumlah titik wilayah rawan kerumunan. Seperti sekitar alun-alun, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Diponegoro, Jalan Sultan Agung dan lainnya. Pasalnya, di wilayah tersebut sering kali didapati sejumlah PKL (pedagang kaki lima). “Memang sektor ekonomi sudah mulai longgar, tetapi kondisi pandemi masih tetap, masyarakat harus berhati-hati,” katanya.

Sementara itu, saat ini Kota Batu berada di Level 3 PPKM versi Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) dan Level 1 versi hasil assement kementerian kesehatan. Sejak 13 September hingga akhir bulan atau sekitar dua pekan, setidaknya ada 370 orang terpaksa dibubarkan karena berkerumun.

“Kami masih terus melakukan patroli siang dan malam. Memang kami tidak terlalu menekan seperti PKL atau warung makan. Namun kerumunannya kami bubarkan kalau melanggar aturan yang ada,” katanya.

Sesuai dari Inmendagri Nomor 42 Tahun 2021 untuk PKL, warung makan dan sejenisnya diizinkan buka dengan syarat hingga pukul 21.00 WIB. Selain itu maksimal pengunjung 50 persen dari kapasitas yang ada. “Memang sudah agak kendor, tidak ada penutupan dan tidak ada sidang tipiring kepada pelaku usaha tapi bukan berarti memperbolehkan melanggar,” ujarnya.

Terpisah, kondisi warung-warung yang ada di rest area Jalibar (Jalan Lingkar Barat) Desa Oro-Oro Ombo terlihat ramai dikunjungi oleh wisatawan. Situasi tersebut juga menguntungkan para pedagang yang berjualan. Salah satunya pemilik Warung Mas Deni Ida yang mengaku penghasilan yang diterimanya mulai kembali normal.

Pasalnya pada awal PPKM Level 4 di awal Juli lalu dikatakan, hampir tidak ada pengunjung yang datang. Sehingga warungnya sepi pembeli. “Sebelumnya lebih parah, kadang sehari gak dapat apa-apa,” katanya. Sedangkan kondisi saat ini jika hari biasa dari Senin sampai Jumat sehari-hari dia bisa mendapatkan keuntungan hanya Rp 100 ribu. Namun ketika weekend atau akhir pekan pada Sabtu dan Minggu, dalam sehari Ida bisa mendapatkan penghasilan Rp 300 ribu.

“Ya saya jualan minuman kopi, teh, juga ada mi instan dan lainnya,” katanya. Jumlah penghasilan sebesar itu menurutnya belum stabil. Nasib serupa kata dia, juga dialami 29 pedagang warung lainnya di rest area Jalibar. Wanita yang sudah berjualan sejak tahun 2010 lalu di area sekitar sana berharap kondisi pandemi Covid-19 segera berakhir. Dan untuk perekonomian di Kota Batu kembali pulih.

Lalu adanya kebijakan PPKM Level 3 membuat berkah bagi pedagang jajanan sekolah. Pasalnya, dalam kebijakan tersebut untuk pelajar sekolah telah diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka. Salah satu pedagang yang bisa kembali berjualan adalah Ihsan.

Pria berusia 28 tahun itu mengaku sudah berjualan kue leker sejak tahun 2009 lalu. Dia mengatakan selama bertahun-tahun berjualan di masa pandemi Covid-19 merupakan kondisi yang terparah. “Setiap hari terus keliling, tapi hasilnya sedikit, nggak kayak dulu-dulu,” kata pria yang seringkali berjualan di depan SMP Muhammadiyah 8 itu.

Dia mengungkapkan, saat pelajar sekolah melaksanakan pembelajaran daring maka berpengaruh terhadap penghasilan sehari-harinya. Meski begitu, Ihsan tetap merasa bersyukur karena masih ada pembeli. “Berdampak sekali, tapi saat ini belum stabil soalnya yang masuk muridnya masih sedikit,” kata Ihsan.

Biasanya dalam sehari sebelum pandemi Covid-19, dia bisa mendapatkan omzet senilai Rp 250 ribu. Tetapi kondisi yang ada saat ini, menurutnya mendapatkan uang sebesar Rp 150 ribu sudah dia syukuri. Ihsan hanya berharap virus asal Tiongkok itu segera berakhir dan bisa berjualan normal kembali. (nug/lid/rmc)

KOTA BATU – Penurunan laporan kasus Covid-19 secara nasional maupun di daerah membuat sebagian warga mulai abai dengan protokol kesehatan. Tidak terkecuali di Kota Batu. Meski sudah turun level, Satpol PP Kota Batu tetap mengimbau agar masyarakat tetap taat dengan prokes saat beraktifitas di lingkungan publik.

Kepala Satpol PP Kota Batu M Nur Adhim mengatakan, pihaknya terus melakukan patroli di sejumlah titik wilayah rawan kerumunan. Seperti sekitar alun-alun, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Diponegoro, Jalan Sultan Agung dan lainnya. Pasalnya, di wilayah tersebut sering kali didapati sejumlah PKL (pedagang kaki lima). “Memang sektor ekonomi sudah mulai longgar, tetapi kondisi pandemi masih tetap, masyarakat harus berhati-hati,” katanya.

Sementara itu, saat ini Kota Batu berada di Level 3 PPKM versi Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) dan Level 1 versi hasil assement kementerian kesehatan. Sejak 13 September hingga akhir bulan atau sekitar dua pekan, setidaknya ada 370 orang terpaksa dibubarkan karena berkerumun.

“Kami masih terus melakukan patroli siang dan malam. Memang kami tidak terlalu menekan seperti PKL atau warung makan. Namun kerumunannya kami bubarkan kalau melanggar aturan yang ada,” katanya.

Sesuai dari Inmendagri Nomor 42 Tahun 2021 untuk PKL, warung makan dan sejenisnya diizinkan buka dengan syarat hingga pukul 21.00 WIB. Selain itu maksimal pengunjung 50 persen dari kapasitas yang ada. “Memang sudah agak kendor, tidak ada penutupan dan tidak ada sidang tipiring kepada pelaku usaha tapi bukan berarti memperbolehkan melanggar,” ujarnya.

Terpisah, kondisi warung-warung yang ada di rest area Jalibar (Jalan Lingkar Barat) Desa Oro-Oro Ombo terlihat ramai dikunjungi oleh wisatawan. Situasi tersebut juga menguntungkan para pedagang yang berjualan. Salah satunya pemilik Warung Mas Deni Ida yang mengaku penghasilan yang diterimanya mulai kembali normal.

Pasalnya pada awal PPKM Level 4 di awal Juli lalu dikatakan, hampir tidak ada pengunjung yang datang. Sehingga warungnya sepi pembeli. “Sebelumnya lebih parah, kadang sehari gak dapat apa-apa,” katanya. Sedangkan kondisi saat ini jika hari biasa dari Senin sampai Jumat sehari-hari dia bisa mendapatkan keuntungan hanya Rp 100 ribu. Namun ketika weekend atau akhir pekan pada Sabtu dan Minggu, dalam sehari Ida bisa mendapatkan penghasilan Rp 300 ribu.

“Ya saya jualan minuman kopi, teh, juga ada mi instan dan lainnya,” katanya. Jumlah penghasilan sebesar itu menurutnya belum stabil. Nasib serupa kata dia, juga dialami 29 pedagang warung lainnya di rest area Jalibar. Wanita yang sudah berjualan sejak tahun 2010 lalu di area sekitar sana berharap kondisi pandemi Covid-19 segera berakhir. Dan untuk perekonomian di Kota Batu kembali pulih.

Lalu adanya kebijakan PPKM Level 3 membuat berkah bagi pedagang jajanan sekolah. Pasalnya, dalam kebijakan tersebut untuk pelajar sekolah telah diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka. Salah satu pedagang yang bisa kembali berjualan adalah Ihsan.

Pria berusia 28 tahun itu mengaku sudah berjualan kue leker sejak tahun 2009 lalu. Dia mengatakan selama bertahun-tahun berjualan di masa pandemi Covid-19 merupakan kondisi yang terparah. “Setiap hari terus keliling, tapi hasilnya sedikit, nggak kayak dulu-dulu,” kata pria yang seringkali berjualan di depan SMP Muhammadiyah 8 itu.

Dia mengungkapkan, saat pelajar sekolah melaksanakan pembelajaran daring maka berpengaruh terhadap penghasilan sehari-harinya. Meski begitu, Ihsan tetap merasa bersyukur karena masih ada pembeli. “Berdampak sekali, tapi saat ini belum stabil soalnya yang masuk muridnya masih sedikit,” kata Ihsan.

Biasanya dalam sehari sebelum pandemi Covid-19, dia bisa mendapatkan omzet senilai Rp 250 ribu. Tetapi kondisi yang ada saat ini, menurutnya mendapatkan uang sebesar Rp 150 ribu sudah dia syukuri. Ihsan hanya berharap virus asal Tiongkok itu segera berakhir dan bisa berjualan normal kembali. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/