alexametrics
26.5 C
Malang
Wednesday, 18 May 2022

Legenda Bang Miun, Grup Seni yang Usir Komunis di Kota Batu

KOTA BATU — Dibalik kedamaian Kota Batu, siapa yang menyangka bahwa ada perjuangan barisan pemuda yang rela bertaruh nyawa demi mempertahankan ideologi NKRI. Adalah grup kesenian Sanduk Bang Miun yang menjadi salah satu legenda di Kota Apel tersebut.

Meski kini sudah tidak aktif tapi perlawanan grup kesenian ini kepada PKI terpatri di hati sebagian warga masyarakat Kota Batu. Sehingga di momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober kisah kelompok kesenian tersebut layak dikenang.

Di tahun 1965, nama kelompok Bang Miun ini sudah tenar. Bukan karena kepiawaiannya menari Sanduk, tapi karena gebrakannya melawan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu.

Kekuatan PKI di Kota Batu pada 1965 berada di jantung kota. Mereka memanfaatkan daerah Stamplat (terminal) yang dahulu berada di belakang bangunan yang kini menjadi Batu Plaza. Di tempat itu dibangun monumen berukuran besar dengan lambang palu arit. Tidak terima dengan adanya monument tersebut Bang Miun kemudian menghancurkan monumen tersebut. Cucu dari pendiri kelompok Bang Miun, Bambang Irawan mengatakan, sebenarnya Bang Miun bukan nama orang, tapi sebuah akronim. Atau memiliki arti Barisan Antar Generasi Muda Islam Umat Nahdliyin.

“Awalnya konsen pada pencak silat kemudian berkembang menjadi kesenian Sanduk. Tujuan awal Bang Miun merupakan bagian dari Banser NU untuk mengawal kiai dan NU. Kelompok seni itu didirikan di Kampung Meduran (Sisir) bersama beberapa pendekar pencak silat,” jelas Bambang Jumat (1/10).

Menurut dia, Bang Miun berdiri pada Juli 1965. Salah satu tokoh pendirinya adalah Untung Sutrisno, seorang pemuda yang aktif dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor NU.

Saat itu, lanjut Bambang, PKI sedang gencar-gencarnya mengintimidasi para kiai dan dipimpin seorang bernama Libi. Tujuannya untuk menggalang massa demi kepentingan melancarkan perang urat syaraf kepada kelompok agama. Saat itu Libi mengancam akan menangkap para Kiai kemudian memaksa para kiai untuk merangkak dari rumah masing-masing ke depan Masjid Jami An Nur kemudian meminta mereka menari-nari di depan Masjid.

Ancaman inilah yang membuat semua elemen agama bersiap dan memerangi aksi PKI yang melancarkan perang urat syaraf kepada kelompok agama dalam setiap perayaan. “Setelah peristiwa G30S PKI, bersama ABRI dan pemerintah turut berperan dalam penumpasan anggota PKI,” katanya. Para anggota Bang Miun pada saat itu merupakan petani dan pedagang.

Menurut Bambang sebagai salah satu komitmen yang dilakukan anggota Bang Miun yakni ikut menyiarkan dan mengenalkan NU minimal pada lingkungan sekitar. “Kami tetap memiliki kewaspadaan khususnya paham komunis dan radikal agar tidak ada bahkan tumbuh di lingkungan Meduran dengan kegiatan sosial keagamaan serta peka terhadap situasi Kamtibmas,” ujarnya.

Sementara itu 1 Oktober kemarin, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila digelar secara khidmat di Pendapa Rumah Dinas Wali Kota Batu. Hadir Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso bersama Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan SIK MSi, Komandan Poltekad Brigjend TNI Dr Nugraha Gumilar dan pejabat Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kota Batu lainnya. Mereka mengikuti upacara secara virtual yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dengan tema “Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila”.

Dewanti mengatakan makna yang dapat direfleksikan dari Hari Kesaktian Pancasila yaitu, Indonesia bisa selamat dari rong rongan pengaruh situasi dan kondisi politik yang sangat mengerikan dengan adanya peristiwa Gerakan 30 September. Kemudian dari situasi tersebut, Indonesia dapat bangkit dan setelahnya dapat menjadi bukti kuat dari makna persatuan dari Pancasila. “Mudah-mudahan bangsa Indonesia terus maju dan berjaya,” katanya.

BuDe mengungkapkan dengan adanya peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi refleksi bagi warga Batu untuk terus menjaga kebersamaan dan toleransi. Salah satunya kerukunan umat beragama yang terus dapat eksis seperti di Desa Mojorejo terdapat Kampung Percontohan Sadar Kerukunan Umat Beragama. Situasi itu merupakan cerminan dari sila ketiga dari Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. “Sehingga hal-hal yang bisa menjadi pemecah belah warga itu bisa tersingkirkan,” ujarnya.(nug/lid/rmc)

KOTA BATU — Dibalik kedamaian Kota Batu, siapa yang menyangka bahwa ada perjuangan barisan pemuda yang rela bertaruh nyawa demi mempertahankan ideologi NKRI. Adalah grup kesenian Sanduk Bang Miun yang menjadi salah satu legenda di Kota Apel tersebut.

Meski kini sudah tidak aktif tapi perlawanan grup kesenian ini kepada PKI terpatri di hati sebagian warga masyarakat Kota Batu. Sehingga di momen peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober kisah kelompok kesenian tersebut layak dikenang.

Di tahun 1965, nama kelompok Bang Miun ini sudah tenar. Bukan karena kepiawaiannya menari Sanduk, tapi karena gebrakannya melawan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) saat itu.

Kekuatan PKI di Kota Batu pada 1965 berada di jantung kota. Mereka memanfaatkan daerah Stamplat (terminal) yang dahulu berada di belakang bangunan yang kini menjadi Batu Plaza. Di tempat itu dibangun monumen berukuran besar dengan lambang palu arit. Tidak terima dengan adanya monument tersebut Bang Miun kemudian menghancurkan monumen tersebut. Cucu dari pendiri kelompok Bang Miun, Bambang Irawan mengatakan, sebenarnya Bang Miun bukan nama orang, tapi sebuah akronim. Atau memiliki arti Barisan Antar Generasi Muda Islam Umat Nahdliyin.

“Awalnya konsen pada pencak silat kemudian berkembang menjadi kesenian Sanduk. Tujuan awal Bang Miun merupakan bagian dari Banser NU untuk mengawal kiai dan NU. Kelompok seni itu didirikan di Kampung Meduran (Sisir) bersama beberapa pendekar pencak silat,” jelas Bambang Jumat (1/10).

Menurut dia, Bang Miun berdiri pada Juli 1965. Salah satu tokoh pendirinya adalah Untung Sutrisno, seorang pemuda yang aktif dalam organisasi Gerakan Pemuda Ansor NU.

Saat itu, lanjut Bambang, PKI sedang gencar-gencarnya mengintimidasi para kiai dan dipimpin seorang bernama Libi. Tujuannya untuk menggalang massa demi kepentingan melancarkan perang urat syaraf kepada kelompok agama. Saat itu Libi mengancam akan menangkap para Kiai kemudian memaksa para kiai untuk merangkak dari rumah masing-masing ke depan Masjid Jami An Nur kemudian meminta mereka menari-nari di depan Masjid.

Ancaman inilah yang membuat semua elemen agama bersiap dan memerangi aksi PKI yang melancarkan perang urat syaraf kepada kelompok agama dalam setiap perayaan. “Setelah peristiwa G30S PKI, bersama ABRI dan pemerintah turut berperan dalam penumpasan anggota PKI,” katanya. Para anggota Bang Miun pada saat itu merupakan petani dan pedagang.

Menurut Bambang sebagai salah satu komitmen yang dilakukan anggota Bang Miun yakni ikut menyiarkan dan mengenalkan NU minimal pada lingkungan sekitar. “Kami tetap memiliki kewaspadaan khususnya paham komunis dan radikal agar tidak ada bahkan tumbuh di lingkungan Meduran dengan kegiatan sosial keagamaan serta peka terhadap situasi Kamtibmas,” ujarnya.

Sementara itu 1 Oktober kemarin, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila digelar secara khidmat di Pendapa Rumah Dinas Wali Kota Batu. Hadir Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso bersama Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan SIK MSi, Komandan Poltekad Brigjend TNI Dr Nugraha Gumilar dan pejabat Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kota Batu lainnya. Mereka mengikuti upacara secara virtual yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dengan tema “Indonesia Tangguh Berlandaskan Pancasila”.

Dewanti mengatakan makna yang dapat direfleksikan dari Hari Kesaktian Pancasila yaitu, Indonesia bisa selamat dari rong rongan pengaruh situasi dan kondisi politik yang sangat mengerikan dengan adanya peristiwa Gerakan 30 September. Kemudian dari situasi tersebut, Indonesia dapat bangkit dan setelahnya dapat menjadi bukti kuat dari makna persatuan dari Pancasila. “Mudah-mudahan bangsa Indonesia terus maju dan berjaya,” katanya.

BuDe mengungkapkan dengan adanya peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi refleksi bagi warga Batu untuk terus menjaga kebersamaan dan toleransi. Salah satunya kerukunan umat beragama yang terus dapat eksis seperti di Desa Mojorejo terdapat Kampung Percontohan Sadar Kerukunan Umat Beragama. Situasi itu merupakan cerminan dari sila ketiga dari Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia. “Sehingga hal-hal yang bisa menjadi pemecah belah warga itu bisa tersingkirkan,” ujarnya.(nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/