alexametrics
24.2 C
Malang
Saturday, 28 May 2022

Cuan Petani Sawi Kota Batu Menguap, Ini Penyebabnya

KOTA BATU – Di musim hujan seperti sekarang ini, petani sawi di Kota Batu harus berkerjaran dengan waktu. Terutama untuk tanaman yang sudah siap panen. Karena jika salah perhitungan, cuan (keuntungan atau laba) bakal menguap.

Curah hujan tinggi memunculkan sejumlah masalah bagi petani. Jika kurang bisa mensiasati kondisi alam, hasil panen yang didapat bakal anjlok. Itu karena banyak sawi yang akhirnya lebih dulu busuk sebelum sempat dipanen. Seperti yang dialami Suharim, salah seorang petani sawi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Hasil panennya merosot hingga 50 persen.

”Di lahan seluas satu hektare, normalnya sekali panen bisa dapat 10 ton, tapi sekarang cuma setengahnya atau hanya dapat lima ton saja karena banyak yang busuk,” terang Suharim.
Kondisi musim hujan seperti sekarang ini membuatnya cukup kewalahan. Dari biasanya hanya melakukan penyemprotan obat sekali dalam sepekan, kini dilakukan 3 hari sekali. Itu karena zat yang terkandung dalam cairan sudah hilang terlebih dahulu karena diguyur hujan.

Praktis biaya yang dikeluarkan ikut menyedot potensi cuan (keuntungan atau laba) yang akan didapat. ”Cuma bisa untuk ganti modal saja. Istilahnya hanya gali lubang tutup lubang,” paparnya.

Saat ini harga sawi di pasaran sekitar hanya berkisar Rp 2 ribu per kilogram. Wilayah pemasarannya meliputi Magetan, Kediri, dan Tulungagung. ”Semoga harga pupuk dan obat stabil. Karena kalau harga naik seperti ini biaya yang dikeluarkan dengan pemasukan sangat tidak sepadan,” ujar ayah dua anak ini.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

KOTA BATU – Di musim hujan seperti sekarang ini, petani sawi di Kota Batu harus berkerjaran dengan waktu. Terutama untuk tanaman yang sudah siap panen. Karena jika salah perhitungan, cuan (keuntungan atau laba) bakal menguap.

Curah hujan tinggi memunculkan sejumlah masalah bagi petani. Jika kurang bisa mensiasati kondisi alam, hasil panen yang didapat bakal anjlok. Itu karena banyak sawi yang akhirnya lebih dulu busuk sebelum sempat dipanen. Seperti yang dialami Suharim, salah seorang petani sawi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Hasil panennya merosot hingga 50 persen.

”Di lahan seluas satu hektare, normalnya sekali panen bisa dapat 10 ton, tapi sekarang cuma setengahnya atau hanya dapat lima ton saja karena banyak yang busuk,” terang Suharim.
Kondisi musim hujan seperti sekarang ini membuatnya cukup kewalahan. Dari biasanya hanya melakukan penyemprotan obat sekali dalam sepekan, kini dilakukan 3 hari sekali. Itu karena zat yang terkandung dalam cairan sudah hilang terlebih dahulu karena diguyur hujan.

Praktis biaya yang dikeluarkan ikut menyedot potensi cuan (keuntungan atau laba) yang akan didapat. ”Cuma bisa untuk ganti modal saja. Istilahnya hanya gali lubang tutup lubang,” paparnya.

Saat ini harga sawi di pasaran sekitar hanya berkisar Rp 2 ribu per kilogram. Wilayah pemasarannya meliputi Magetan, Kediri, dan Tulungagung. ”Semoga harga pupuk dan obat stabil. Karena kalau harga naik seperti ini biaya yang dikeluarkan dengan pemasukan sangat tidak sepadan,” ujar ayah dua anak ini.

Pewarta: Wildan Agta Affirdausy

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/