alexametrics
21.6 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Delapan Rumah Korban Banjir Batu Boyongan

KOTA BATU– Setelah menunggu hampir dua bulan pascabanjir bandang, warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji yang kehilangan rumah agak sedikit tenang. Sebab mereka segera punya rumah baru. Warga yang rumahnya hancur sudah bisa segera boyongan ke lokasi yang lebih aman. Mereka direlokasi ke tempat yang jauh dari ancaman banjir susulan. Enam rumah dibangun lagi tetap di Desa Bulukerto, sedang ada dua rumah yang pindah ke desa lain. Yakni ke Desa Sidomulyo dan Gunungsari.

Dari pantauan koran ini di Dukuh Sambong, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji kemarin, terlihat ada pembangunan rumah milik Ali Rohmad. Sebelumnya, rumah Ali Rohmad hanyut terbawa arus banjir pada 4 November 2021 lalu. Posisi rumah Ali Rohmad yang sedang dibangun itu, pindah sekitar 10 meter dari rumah lama. Menjauhi bibir sungai. Kemarin, pekerja sudah mulai pengecoran atap. Proses pembangunan memasuki sekitar 50 persen.

Kondisi pembangunan yang sama terlihat di depan rumah Ali Rohmad. Para pekerja tampak sedang meratakan rumah salah satu korban. Dinding rumah yang retak akibat terjangan banjir sedang diratakan. Di situ, akan dibangun rumah baru.

Sementara itu,  tak sampai 20 meter dari rumah Ali, juga melihat adanya proses pelebaran Sungai Sambong. Proses pembangunan itu memperlihatkan adanya antrian 4 truk muatan pasir. Mereka  sedang menunggu giliran untuk loading material menuju area pelebaran.

Tim Pelaksana Sistem Komando Penanganan Bencana Banjir Bandang Kota Batu Punjul Santoso mengungkapkan, perkembangan dua bulan pascabencana ini sudah ada delapan rumah yang direlokasi. “Nanti juga akan kami berikan sejumlah uang untuk korban yang direlokasi itu sebagai ganti. Karena dalam pembangunan ini mereka menggunakan uang pribadi terlebih dahulu,” ucap Punjul saat ditemui di MTsN Kota Batu, Senin kemarin (3/1).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Agung Sedayu menambahkan, 8 warga yang rumahnya direlokasi telah mendapat bantuan biaya masing-masing Rp 10 juta. “Jadi totalnya ada Rp 80 juta yang telah dibagikan ke 8 warga pada 30 Desember 2021. Sumber pendanaan ini didapatkan dari Batu Peduli Bencana,” tuturnya.

Pernyataan mengenai bantuan material dan biaya tukang tersebut telah dibenarkan oleh salah satu korban bencana yang rumahnya hanyut di Dukuh Sambong RT 4 RW 6, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Ali Rohmad. “Bantuan yang saya terima sejak awal berupa material. Untuk uang kebanyakan dari bantuan atau donasi,” ucap pria paruh baya itu.

Ali juga menjelaskan jika setelah kejadian itu seluruh harta bendanya hilang. “Untuk membayar tukang ini saya pakai uang dari bantuan donasi dan setelah ditotal yakni Rp 11 juta selama 50 hari ini,” tandasnya.

Ali juga mengungkap jika tak seluruh material dari BPBD mampu mengcover pembangunan rumahnya kembali. “Kalau seperti paku dan pipa itu saya masih mengeluarkan uang sendiri,” katanya. Saat ini Ali tetap membangun rumah di dekat bantaran Sungai Sambong. Dia pun tak memiliki kekhawatiran apapun. “Jarak dari sungai juga lumayan jauh. Tapi saya percaya dengan Allah. Jadi saya yakin saja membangun di sini lagi,” ungkapnya.

Sebelum DILEBARKAN: Kondisi Sungai Sambong di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji difoto beberapa hari setelah banjir
bandang yang melanda Kota Batu pada 4 November 2021. Saat itu, lebar sungai tidak lebih dari dua meter. (suharto/radar malang)

Sejalan dengan hal itu, Kepala Desa Bulukerto Suwintoro menjelaskan jika selama dua bulan pascabanjir, seluruh warga yang terdampak sudah mendapatkan hak bantuannya. “Kalau bantuan berupa uang saya takut menerima. Jadi langsung saya ajak ke korban banjir. Tetapi secara keseluruhan warga saya sudah mendapatkan relokasi beserta bantuan lainnya,” jelasnya.

Namun saat ini warganya masih tersisa 1 yang belum membangun rumah untuk relokasi. “Atas nama Dodik. Itu kira-kira 9 Januari 2022 baru mau membangun rumah,” ucapnya.

Terlambatnya pembangunan relokasi rumah itu disebabkan oleh susahnya mencari lahan relokasi. Di sisi lain, dalam proses pembangunan rumah, warga percaya dengan adanya hari baik. “Kalau Dodik dan seluruh warga itu sudah percaya dan pasrah untuk kita carikan relokasi yang aman. Tapi ya ketersediaan tanahnya itu yang sulit,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu. Satu orang yang rumahnya belum direlokasi dan belum melakukan pembangunan yakni atas nama Dodik. Akan tetapi, atas nama Dodik telah mendapatkan kebutuhan material dari Pos Material BPBD. “Rencananya pembangunan rumah atas nama Dodik ini akan dibantu sepenuhnya oleh Paguyuban Saras,” tegasnya.

Genap dua bulan pasca bencana banjir di Kota Batu ini, Agung berharap progres rumah terdampak ini cepat selesai. “Saat ini progress pembangunan rumah terdampak telah mencapai 80%. Bukti fisiknya dapat dilihat, banyak warga yang telah menyelesaikan pembangunan sampai tahap cor,” jelasnya

Staff Rehabilitasi Rekonstruksi Pasca Bencana BPBD Kota Batu Agus Triwanto mengungkapkan berdasarkan data awal, ada 56 rumah yang terdampak. ”Akan tetapi hanya 36 rumah yang berkonsultasi keperluan bahan material, sebagian melakukan pembangunan mandiri,” ucapnya.

Agus menuturkan sebanyak 36 rumah terdampak ini terbagi menjadi 3 kategori yakni kerusakan ringan, sedang, dan berat. Sebanyak 36 rumah ini tersebar di 3 RW yakni RW 2, 3, dan 4 Desa Bulukerto dan Desa Sidomulyo. Dari 36 rumah ini, 9 rumah direlokasi. Akan tetapi, progress ter-update baru 8 rumah yang telah direlokasi.

Kendala yang dihadapi Pemkot Batu saat ini kekurangan pekerja yang menggarap pembangunan rumah baru. Sebab saat akhir tahun, banyak pekerja yang menggarap proyek lain. Di sisi lain, curah hujan yang tinggi juga cukup mempengaruhi percepatan pembangunan. Agus pun juga menuturkan ada warga yang belum melakukan pembangunan hanya karena menunggu hari baik.

“Kami bersyukur telah dibantu oleh relawan dari Ngantang saat hari Sabtu lalu sebanyak 40 hingga 70 orang yang tersebar di beberapa titik,” jelasnya. Relawan ini memiliki spesifikasi pengerjaan masing-masing. Ada yang menggali pondasi, memperkirakan material, merangkai besi, dan sebagainya.

Selain itu, staf Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Putut Widiatmoko juga menuturkan dari progress pembangunan 36 rumah ini, diperkirakan masih banyak rumah lainnya yang belum melakukan pembangunan. “Alasannya BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) mengeluarkan peringatan untuk para warga yang lokasi rumahnya berada di dekat bibir sungai belum diperbolehkan melakukan pengerjaan pembangunan,” jelasnya. “Sesuai kesepakatan aturannya rumah harus menjauhi 7 meter dari bibir sungai,” tutupnya. (ifa/fifi/abm)

 

KOTA BATU– Setelah menunggu hampir dua bulan pascabanjir bandang, warga Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji yang kehilangan rumah agak sedikit tenang. Sebab mereka segera punya rumah baru. Warga yang rumahnya hancur sudah bisa segera boyongan ke lokasi yang lebih aman. Mereka direlokasi ke tempat yang jauh dari ancaman banjir susulan. Enam rumah dibangun lagi tetap di Desa Bulukerto, sedang ada dua rumah yang pindah ke desa lain. Yakni ke Desa Sidomulyo dan Gunungsari.

Dari pantauan koran ini di Dukuh Sambong, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji kemarin, terlihat ada pembangunan rumah milik Ali Rohmad. Sebelumnya, rumah Ali Rohmad hanyut terbawa arus banjir pada 4 November 2021 lalu. Posisi rumah Ali Rohmad yang sedang dibangun itu, pindah sekitar 10 meter dari rumah lama. Menjauhi bibir sungai. Kemarin, pekerja sudah mulai pengecoran atap. Proses pembangunan memasuki sekitar 50 persen.

Kondisi pembangunan yang sama terlihat di depan rumah Ali Rohmad. Para pekerja tampak sedang meratakan rumah salah satu korban. Dinding rumah yang retak akibat terjangan banjir sedang diratakan. Di situ, akan dibangun rumah baru.

Sementara itu,  tak sampai 20 meter dari rumah Ali, juga melihat adanya proses pelebaran Sungai Sambong. Proses pembangunan itu memperlihatkan adanya antrian 4 truk muatan pasir. Mereka  sedang menunggu giliran untuk loading material menuju area pelebaran.

Tim Pelaksana Sistem Komando Penanganan Bencana Banjir Bandang Kota Batu Punjul Santoso mengungkapkan, perkembangan dua bulan pascabencana ini sudah ada delapan rumah yang direlokasi. “Nanti juga akan kami berikan sejumlah uang untuk korban yang direlokasi itu sebagai ganti. Karena dalam pembangunan ini mereka menggunakan uang pribadi terlebih dahulu,” ucap Punjul saat ditemui di MTsN Kota Batu, Senin kemarin (3/1).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Agung Sedayu menambahkan, 8 warga yang rumahnya direlokasi telah mendapat bantuan biaya masing-masing Rp 10 juta. “Jadi totalnya ada Rp 80 juta yang telah dibagikan ke 8 warga pada 30 Desember 2021. Sumber pendanaan ini didapatkan dari Batu Peduli Bencana,” tuturnya.

Pernyataan mengenai bantuan material dan biaya tukang tersebut telah dibenarkan oleh salah satu korban bencana yang rumahnya hanyut di Dukuh Sambong RT 4 RW 6, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Ali Rohmad. “Bantuan yang saya terima sejak awal berupa material. Untuk uang kebanyakan dari bantuan atau donasi,” ucap pria paruh baya itu.

Ali juga menjelaskan jika setelah kejadian itu seluruh harta bendanya hilang. “Untuk membayar tukang ini saya pakai uang dari bantuan donasi dan setelah ditotal yakni Rp 11 juta selama 50 hari ini,” tandasnya.

Ali juga mengungkap jika tak seluruh material dari BPBD mampu mengcover pembangunan rumahnya kembali. “Kalau seperti paku dan pipa itu saya masih mengeluarkan uang sendiri,” katanya. Saat ini Ali tetap membangun rumah di dekat bantaran Sungai Sambong. Dia pun tak memiliki kekhawatiran apapun. “Jarak dari sungai juga lumayan jauh. Tapi saya percaya dengan Allah. Jadi saya yakin saja membangun di sini lagi,” ungkapnya.

Sebelum DILEBARKAN: Kondisi Sungai Sambong di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji difoto beberapa hari setelah banjir
bandang yang melanda Kota Batu pada 4 November 2021. Saat itu, lebar sungai tidak lebih dari dua meter. (suharto/radar malang)

Sejalan dengan hal itu, Kepala Desa Bulukerto Suwintoro menjelaskan jika selama dua bulan pascabanjir, seluruh warga yang terdampak sudah mendapatkan hak bantuannya. “Kalau bantuan berupa uang saya takut menerima. Jadi langsung saya ajak ke korban banjir. Tetapi secara keseluruhan warga saya sudah mendapatkan relokasi beserta bantuan lainnya,” jelasnya.

Namun saat ini warganya masih tersisa 1 yang belum membangun rumah untuk relokasi. “Atas nama Dodik. Itu kira-kira 9 Januari 2022 baru mau membangun rumah,” ucapnya.

Terlambatnya pembangunan relokasi rumah itu disebabkan oleh susahnya mencari lahan relokasi. Di sisi lain, dalam proses pembangunan rumah, warga percaya dengan adanya hari baik. “Kalau Dodik dan seluruh warga itu sudah percaya dan pasrah untuk kita carikan relokasi yang aman. Tapi ya ketersediaan tanahnya itu yang sulit,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu. Satu orang yang rumahnya belum direlokasi dan belum melakukan pembangunan yakni atas nama Dodik. Akan tetapi, atas nama Dodik telah mendapatkan kebutuhan material dari Pos Material BPBD. “Rencananya pembangunan rumah atas nama Dodik ini akan dibantu sepenuhnya oleh Paguyuban Saras,” tegasnya.

Genap dua bulan pasca bencana banjir di Kota Batu ini, Agung berharap progres rumah terdampak ini cepat selesai. “Saat ini progress pembangunan rumah terdampak telah mencapai 80%. Bukti fisiknya dapat dilihat, banyak warga yang telah menyelesaikan pembangunan sampai tahap cor,” jelasnya

Staff Rehabilitasi Rekonstruksi Pasca Bencana BPBD Kota Batu Agus Triwanto mengungkapkan berdasarkan data awal, ada 56 rumah yang terdampak. ”Akan tetapi hanya 36 rumah yang berkonsultasi keperluan bahan material, sebagian melakukan pembangunan mandiri,” ucapnya.

Agus menuturkan sebanyak 36 rumah terdampak ini terbagi menjadi 3 kategori yakni kerusakan ringan, sedang, dan berat. Sebanyak 36 rumah ini tersebar di 3 RW yakni RW 2, 3, dan 4 Desa Bulukerto dan Desa Sidomulyo. Dari 36 rumah ini, 9 rumah direlokasi. Akan tetapi, progress ter-update baru 8 rumah yang telah direlokasi.

Kendala yang dihadapi Pemkot Batu saat ini kekurangan pekerja yang menggarap pembangunan rumah baru. Sebab saat akhir tahun, banyak pekerja yang menggarap proyek lain. Di sisi lain, curah hujan yang tinggi juga cukup mempengaruhi percepatan pembangunan. Agus pun juga menuturkan ada warga yang belum melakukan pembangunan hanya karena menunggu hari baik.

“Kami bersyukur telah dibantu oleh relawan dari Ngantang saat hari Sabtu lalu sebanyak 40 hingga 70 orang yang tersebar di beberapa titik,” jelasnya. Relawan ini memiliki spesifikasi pengerjaan masing-masing. Ada yang menggali pondasi, memperkirakan material, merangkai besi, dan sebagainya.

Selain itu, staf Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Putut Widiatmoko juga menuturkan dari progress pembangunan 36 rumah ini, diperkirakan masih banyak rumah lainnya yang belum melakukan pembangunan. “Alasannya BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) mengeluarkan peringatan untuk para warga yang lokasi rumahnya berada di dekat bibir sungai belum diperbolehkan melakukan pengerjaan pembangunan,” jelasnya. “Sesuai kesepakatan aturannya rumah harus menjauhi 7 meter dari bibir sungai,” tutupnya. (ifa/fifi/abm)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/