alexametrics
26.5 C
Malang
Friday, 27 May 2022

Okupansi Hotel Masih 30 Persen, Hotel di Batu Mulai Jor-Joran Promo Lebaran

KOTA BATU – Meski belum merasakan kenaikan angka hunian atau okupansi, para pengelola hotel di Kota Batu mulai bisa tersenyum lebar di awal-awal bulan Ramadan tahun ini. Sebab tidak ada aturan yang ketat seperti dua tahun sebelumnya.

Ketua Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi menjelaskan bila tingkat okupansi di hotel rata-rata masih berkisar di angka 30 sampai 50 persen (selengkapnya baca grafis). ”Ada banyak cara yang dilakukan pengelola hotel di bulan Ramadan. Salah satunya dengan menyediakan paketpaket buka puasa yang rata-rata sistemnya all you can eat,” papar Sujud

Upaya tersebut menurutnya cukup membantu pemasukan hotel. Paling tidak, tetap ada pemasukan meskipun sedikit. Sebab di bulan Ramadan banyak beban hotel yang harus ditanggung. Seperti gaji pegawai, biaya perawatan hotel, hingga tunjangan hari raya (THR). ”Meskipun kunjungan saat ini turun drastis, kami memanfaatkan itu untuk upaya pembenahan. Jadi pembenahan itu sebagai upaya hotel-hotel dalam menyambut Lebaran,” kata Sujud. Ditambahkan dia, umumnya okupansi hotel memang meningkat jadi 80 sampai 90 persen saat Lebaran. Di momen itulah para pengelola hotel bisa panen.

Sebab dua tahun sebelumnya, mereka tak bisa merasakan momen manis tersebut. Alasannya karena pemerintah meminta semua hotel tutup saat Idul Fitri. Merebaknya Covid-19 jadi alasan utamanya. Senada dengan Sujud, Sales Manager dan Public Relation The Singhasari Resort Dondik Susanto mengakui bila di minggu pertama dan kedua umumnya terjadi penurunan okupansi. ”Sebelum Ramadan okupansi sekitar 60 persen. Lalu saat Ramadan kunjungan perseorangan memang turun drastis. Tapi kami masih tertolong adanya kegiatan meeting instansi-instansi pemerintahan,” kata Dondik.

Berdasarkan pengalamannya, peningkatan okupansi hotel bakal terlihat di minggu keempat bulan Ramadan. Sebab tren yang terjadi adalah pengunjung lebih gemar memesan hotel saat mudik. ”Sebenarnya sudah ada beberapa yang booking untuk Lebaran. Tapi masih belum banyak, mungkin di angka 10 sampai 20 orang saja,” jelasnya. Dalam menarik pengujung saat bulan Ramadan, pihaknya turut menyiapkan paket berbuka puasa. Daya tarik lain yang disiapkan pihaknya yakni tak membatasi jam pengujung untuk datang. Sehingga bagi siapa pun yang memesan, boleh datang mulai pukul 18.00 hingga 20.00. (fif/rb5/adn/fin/by)

 

KOTA BATU – Meski belum merasakan kenaikan angka hunian atau okupansi, para pengelola hotel di Kota Batu mulai bisa tersenyum lebar di awal-awal bulan Ramadan tahun ini. Sebab tidak ada aturan yang ketat seperti dua tahun sebelumnya.

Ketua Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi menjelaskan bila tingkat okupansi di hotel rata-rata masih berkisar di angka 30 sampai 50 persen (selengkapnya baca grafis). ”Ada banyak cara yang dilakukan pengelola hotel di bulan Ramadan. Salah satunya dengan menyediakan paketpaket buka puasa yang rata-rata sistemnya all you can eat,” papar Sujud

Upaya tersebut menurutnya cukup membantu pemasukan hotel. Paling tidak, tetap ada pemasukan meskipun sedikit. Sebab di bulan Ramadan banyak beban hotel yang harus ditanggung. Seperti gaji pegawai, biaya perawatan hotel, hingga tunjangan hari raya (THR). ”Meskipun kunjungan saat ini turun drastis, kami memanfaatkan itu untuk upaya pembenahan. Jadi pembenahan itu sebagai upaya hotel-hotel dalam menyambut Lebaran,” kata Sujud. Ditambahkan dia, umumnya okupansi hotel memang meningkat jadi 80 sampai 90 persen saat Lebaran. Di momen itulah para pengelola hotel bisa panen.

Sebab dua tahun sebelumnya, mereka tak bisa merasakan momen manis tersebut. Alasannya karena pemerintah meminta semua hotel tutup saat Idul Fitri. Merebaknya Covid-19 jadi alasan utamanya. Senada dengan Sujud, Sales Manager dan Public Relation The Singhasari Resort Dondik Susanto mengakui bila di minggu pertama dan kedua umumnya terjadi penurunan okupansi. ”Sebelum Ramadan okupansi sekitar 60 persen. Lalu saat Ramadan kunjungan perseorangan memang turun drastis. Tapi kami masih tertolong adanya kegiatan meeting instansi-instansi pemerintahan,” kata Dondik.

Berdasarkan pengalamannya, peningkatan okupansi hotel bakal terlihat di minggu keempat bulan Ramadan. Sebab tren yang terjadi adalah pengunjung lebih gemar memesan hotel saat mudik. ”Sebenarnya sudah ada beberapa yang booking untuk Lebaran. Tapi masih belum banyak, mungkin di angka 10 sampai 20 orang saja,” jelasnya. Dalam menarik pengujung saat bulan Ramadan, pihaknya turut menyiapkan paket berbuka puasa. Daya tarik lain yang disiapkan pihaknya yakni tak membatasi jam pengujung untuk datang. Sehingga bagi siapa pun yang memesan, boleh datang mulai pukul 18.00 hingga 20.00. (fif/rb5/adn/fin/by)

 

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/