alexametrics
20.5 C
Malang
Tuesday, 24 May 2022

Anak-Anak Tak Boleh Masuk Wisata, Jadi Berkah Pengelola Petik Apel

KOTA BATU – Sempat mati suri akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel yang, sektor wisata di Kota Batu kembali bangkit. Tidak terkecuali bagi pengelola wisata petik apel. Seperti yang dirasakan pemilik lahan petik apel, Utomo.

Wisata yang terletak di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Beberapa rombongan wisatawan terlihat mengunjungi tempat tersebut, kemarin (3/10/21). Saat ini lahan kebun apel itu dikelola oleh provider bernama Wisata Petik Apel Mandiri.

Pengelola Provider Wisata Petik Apel Mandiri Alinda Dwi Safitri mengatakan, dia bersama enam kru lainnya baru kembali membuka mengelola wisata petik apel pada September lalu. Atau, sejak turunnya level kebijakan PPKM dari Level 4 menjadi Level 3. “Sewaktu PPKM tutup, karena tidak ada pengunjung sama sekali,” katanya.

Menurutnya aturan pembatasan usia untuk masuk ke tempat wisata, menjadi keuntungan baginya. Sebab rata-rata pengunjung yang datang kategori keluarga dengan membawa anak-anak. “Kan ada tuh pembatasan usia 12 tahun ke bawah sama 60 tahun ke atas tidak boleh masuk tempat wisata, mereka akhirnya cari petik apel,” ungkap Alinda.

Meskipun di hari biasa pengunjung yang datang masih sedikit, dibandingkan dengan weekend. “Kalau hari biasa itu paling satu atau dua rombongan saja, tapi kalau weekend ini saja sehari bisa sampai lima rombongan. Alhamdulillah,” katanya. Setiap rombongan berkisar antara 10 sampai 20 orang.

Dia mengungkapkan untuk bisa mendatangkan pengunjung berbagai cara dilakukannya. Seperti dengan promosi dari sosial media, travel, biro perjalanan dan pelaku wisata lainnya di Malang Raya. Saat ini dikatakannya, dari sembilan provider wisata petik apel, baru empat provider yang beroperasi. “Lainnya masih belum, mungkin belum berani takut gambling tapi tetap kami bantu. Misal kalau ada tamu kami ambil,” ujarnya.

Dia menjelaskan, cara kerja provider wisata petik apel yakni berpindah-pindah tempat ke lahan apel yang sudah siap dipanen. Untuk tarif yang dipatok setiap orang yakni Rp 25 ribu. Jenis apel di lahan itu yang bisa dipetik didominasi oleh room beauty. “Jadi pengunjung bisa makan sepuasnya, tetapi kalau membawa pulang setiap kilogram apel-apel yang dibawa harganya Rp 30 ribu,” katanya. Menurutnya patokan harga itu sudah wajar untuk menambah penghasilan para petani.

Selain itu, wanita berusia 23 tahun itu mengaku jika membuka wisata petik apel memiliki risiko. Seperti pohon apel yang rentan rusak ketika tersenggol wisatawan. Selain itu, ada juga pengunjung yang membuang sisa apel yang dimakan sembarangan, hal itu membuat tanah tandus. Padahal, pihaknya telah melakukan edukasi kepada pengunjung terkait cara pemetikan apel.

Salah satu pengunjung, M Fikriansah mengatakan baru pertama kali mengunjungi tempat wisata petik apel. Dia datang bersama teman perempuannya. Sebelumnya pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat itu mengetahui adanya wisata tersebut dari temannya yang pernah berkunjung ke Kota Batu. “Kota Batu alamnya bagus banget, ini saya baru metik juga apelnya manis, enak,” kata pria yang berstatus mahasiswa aktif di Universitas Islam Malang (Unisma) itu. (nug/lid/rmc)

KOTA BATU – Sempat mati suri akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berlevel yang, sektor wisata di Kota Batu kembali bangkit. Tidak terkecuali bagi pengelola wisata petik apel. Seperti yang dirasakan pemilik lahan petik apel, Utomo.

Wisata yang terletak di Dusun Gerdu, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Beberapa rombongan wisatawan terlihat mengunjungi tempat tersebut, kemarin (3/10/21). Saat ini lahan kebun apel itu dikelola oleh provider bernama Wisata Petik Apel Mandiri.

Pengelola Provider Wisata Petik Apel Mandiri Alinda Dwi Safitri mengatakan, dia bersama enam kru lainnya baru kembali membuka mengelola wisata petik apel pada September lalu. Atau, sejak turunnya level kebijakan PPKM dari Level 4 menjadi Level 3. “Sewaktu PPKM tutup, karena tidak ada pengunjung sama sekali,” katanya.

Menurutnya aturan pembatasan usia untuk masuk ke tempat wisata, menjadi keuntungan baginya. Sebab rata-rata pengunjung yang datang kategori keluarga dengan membawa anak-anak. “Kan ada tuh pembatasan usia 12 tahun ke bawah sama 60 tahun ke atas tidak boleh masuk tempat wisata, mereka akhirnya cari petik apel,” ungkap Alinda.

Meskipun di hari biasa pengunjung yang datang masih sedikit, dibandingkan dengan weekend. “Kalau hari biasa itu paling satu atau dua rombongan saja, tapi kalau weekend ini saja sehari bisa sampai lima rombongan. Alhamdulillah,” katanya. Setiap rombongan berkisar antara 10 sampai 20 orang.

Dia mengungkapkan untuk bisa mendatangkan pengunjung berbagai cara dilakukannya. Seperti dengan promosi dari sosial media, travel, biro perjalanan dan pelaku wisata lainnya di Malang Raya. Saat ini dikatakannya, dari sembilan provider wisata petik apel, baru empat provider yang beroperasi. “Lainnya masih belum, mungkin belum berani takut gambling tapi tetap kami bantu. Misal kalau ada tamu kami ambil,” ujarnya.

Dia menjelaskan, cara kerja provider wisata petik apel yakni berpindah-pindah tempat ke lahan apel yang sudah siap dipanen. Untuk tarif yang dipatok setiap orang yakni Rp 25 ribu. Jenis apel di lahan itu yang bisa dipetik didominasi oleh room beauty. “Jadi pengunjung bisa makan sepuasnya, tetapi kalau membawa pulang setiap kilogram apel-apel yang dibawa harganya Rp 30 ribu,” katanya. Menurutnya patokan harga itu sudah wajar untuk menambah penghasilan para petani.

Selain itu, wanita berusia 23 tahun itu mengaku jika membuka wisata petik apel memiliki risiko. Seperti pohon apel yang rentan rusak ketika tersenggol wisatawan. Selain itu, ada juga pengunjung yang membuang sisa apel yang dimakan sembarangan, hal itu membuat tanah tandus. Padahal, pihaknya telah melakukan edukasi kepada pengunjung terkait cara pemetikan apel.

Salah satu pengunjung, M Fikriansah mengatakan baru pertama kali mengunjungi tempat wisata petik apel. Dia datang bersama teman perempuannya. Sebelumnya pria asal Bima, Nusa Tenggara Barat itu mengetahui adanya wisata tersebut dari temannya yang pernah berkunjung ke Kota Batu. “Kota Batu alamnya bagus banget, ini saya baru metik juga apelnya manis, enak,” kata pria yang berstatus mahasiswa aktif di Universitas Islam Malang (Unisma) itu. (nug/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/