alexametrics
22 C
Malang
Saturday, 21 May 2022

Penghujan, Petani Kota Batu Waswas

KOTA BATU – Musim hujan dengan intensitas lebat beberapa waktu lalu terjadi di sejumlah wilayah di Kota Batu, termasuk Kecamatan Bumiaji. Bagi sejumlah petani komoditas sayuran, hal tersebut berpotensi merusak tanaman.

Hal itu diungkapkan oleh Deni Indrawan, salah satu petani di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Pria berusia 43 tahun itu menyebut hujan berpotensi merusak sayur sawi, kubis, cabai, tomat yang siap panen. Normalnya, kata dia, sayuran jenis seperti itu hanya membutuhkan air secukupnya.

Deni yang juga merupakan petani sawi mengatakan, sayur sawi sangat rentan rusak, tak hanya itu, sawi lebih cepat membusuk dalam perjalanan pengiriman. Hal itu karena imbas hujan dan genangan air yang berlebihan. “Biasanya kalau setelah hujan lebat tanaman bisa rusak, daunnya patah, kalau kelebihan air juga bisa busuk,” katanya pada Radar Malang, Rabu (3/11).

Salah satu upayanya untuk mencegah sayurannya busuk dengan menyiram memakai air dan zat kapur bertujuan mengurangi kadar asam atau Ph pada tanah dan tanaman. “Biasanya kalau pagi tetap kita siram pakai air biasa, agar kadar asamnya berkurang,” imbuhnya.

Dia mengatakan, sebagian sayuran yang telah dipanen harus dicuci dengan air bersih. Karena air hujan kerap mengandung zat asam dan dapat mempercepat pembusukan.

Sementara itu petani lainnya, Sugiono mengatakan, tanpa penanganan yang tepat budi daya sayuran rentan gagal dan memengaruhi produksi panen. Selain itu juga ikut memengaruhi harga. Normalnya per ikat sayuran sawi di level petani saat ini dihargai Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Imbas musim hujan, sayuran rentan busuk dan harga bisa turun hingga Rp 1.500 per kilogram.

“Kalau sekarang Rp 2.500 per kilogram, beberapa waktu lalu sempat naik Rp 3.500,” terangnya.

Warga Kelurahan Tulungrejo itu mengaku, sebagian besar produksi sayurnya dikirim ke Kota Sidoarjo. Sisanya didistribusikan ke Pasar Sengkaling dan Pasar Besar Kota Malang. “Sekali panen bisa sampai 500 kilogram, 400 kilogram dikirim ke Sidoarjo, sisanya dijual di Kota Batu dan Malang,” bebernya. (cj5/lid/rmc)

KOTA BATU – Musim hujan dengan intensitas lebat beberapa waktu lalu terjadi di sejumlah wilayah di Kota Batu, termasuk Kecamatan Bumiaji. Bagi sejumlah petani komoditas sayuran, hal tersebut berpotensi merusak tanaman.

Hal itu diungkapkan oleh Deni Indrawan, salah satu petani di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Pria berusia 43 tahun itu menyebut hujan berpotensi merusak sayur sawi, kubis, cabai, tomat yang siap panen. Normalnya, kata dia, sayuran jenis seperti itu hanya membutuhkan air secukupnya.

Deni yang juga merupakan petani sawi mengatakan, sayur sawi sangat rentan rusak, tak hanya itu, sawi lebih cepat membusuk dalam perjalanan pengiriman. Hal itu karena imbas hujan dan genangan air yang berlebihan. “Biasanya kalau setelah hujan lebat tanaman bisa rusak, daunnya patah, kalau kelebihan air juga bisa busuk,” katanya pada Radar Malang, Rabu (3/11).

Salah satu upayanya untuk mencegah sayurannya busuk dengan menyiram memakai air dan zat kapur bertujuan mengurangi kadar asam atau Ph pada tanah dan tanaman. “Biasanya kalau pagi tetap kita siram pakai air biasa, agar kadar asamnya berkurang,” imbuhnya.

Dia mengatakan, sebagian sayuran yang telah dipanen harus dicuci dengan air bersih. Karena air hujan kerap mengandung zat asam dan dapat mempercepat pembusukan.

Sementara itu petani lainnya, Sugiono mengatakan, tanpa penanganan yang tepat budi daya sayuran rentan gagal dan memengaruhi produksi panen. Selain itu juga ikut memengaruhi harga. Normalnya per ikat sayuran sawi di level petani saat ini dihargai Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Imbas musim hujan, sayuran rentan busuk dan harga bisa turun hingga Rp 1.500 per kilogram.

“Kalau sekarang Rp 2.500 per kilogram, beberapa waktu lalu sempat naik Rp 3.500,” terangnya.

Warga Kelurahan Tulungrejo itu mengaku, sebagian besar produksi sayurnya dikirim ke Kota Sidoarjo. Sisanya didistribusikan ke Pasar Sengkaling dan Pasar Besar Kota Malang. “Sekali panen bisa sampai 500 kilogram, 400 kilogram dikirim ke Sidoarjo, sisanya dijual di Kota Batu dan Malang,” bebernya. (cj5/lid/rmc)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/