alexametrics
26.1 C
Malang
Sunday, 29 May 2022

Lawan Serangan ’Mata Ayam’, Begini Strategi Dispertan Kota Batu

KOTA BATU – Persoalan petani apel di Kota Batu kian pelik. Selain daya jual yang cenderung rendah, kini mereka juga dihadapkan dengan penyakit mata ayam pada buah apel. Dampak dari penyakit mata ayam ini yakni buah apel busuk sebelum dipanen.

Kondisi ini membuat Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Batu harus turun tangan. Rencananya, hari ini (5/2) dispertan sudah mulai melakukan kajian untuk mencari penyebab dan solusi pengendalian mata ayam itu. Ada dua titik yang ditinjau sebagai sampel, yakni lahan pertanian apel di lahan milik Kusdiono, di Desa Bulukerto. Luasnya sekitar 3.000 m2. Kemudian juga di lahan milik Utomo, di Desa Sumbergondo. Juga seluas 3.000 m2.

Kepala Dispertan Kota Batu Sugeng Pramono mengatakan, dalam program di tahun ini pihaknya akan melakukan kegiatan pengendalian busuk buah apel. Kegiatan itu sudah berjalan sejak tahun 2019 lalu. Tetapi, belum semua daerah terjangkau sehingga tahun 2021 ini kegiatan tersebut akan dimaksimalkan. Nantinya kajian yang ada dibagi dalam tiga kategori kondisi baik ringan, sedang, maupun berat. ”Untuk kerusakan ringan akan dilakukan penyemprotan obat pertanian berupa fungisida,” katanya.

Sugeng menjelaskan, rata-rata petani apel yang mengalami masalah penyakit busuk buah itu tidak masuk dalam kelompok tani di desanya. Sehingga saat ini pihaknya juga mulai melakukan pendampingan terhadap mereka. ”Tetapi untuk bantuan saprodi (sarana produksi) hanya bisa diberikan kepada petani yang sudah masuk kelompok tani,” katanya.

Sementara itu, lahan yang masuk dalam kategori rusak sedang dan berat akan dilakukan sanitasi. Sanitasi sendiri yakni membersihkan lahan apel dengan membersihkan apel-apel yang terkena penyakit busuk buah. ”Secara mekanismenya diambil apelnya, terus dibenamkan di lubang, diberi komposer, lalu dikubur supaya bisa dijadikan pupuk,” katanya.

Fokus dispertan sendiri secara garis besar untuk saat ini yakni revitalisasi lahan apel. Dia berharap kepada para petani yang mendapatkan support dispertan baik dengan pendampingan dan bantuan fisik seperti pupuk organik dan obat pertanian dapat memanfaatkannya dengan maksimal. ”Sehingga harapannya dengan lahan apel yang mendapatkan nutrisi baik, otomatis kesehatan tanamannya terjaga dan minim akan kerusakan,” katanya.

Menurut dia, pada musim hujan tidak dipungkiri terdapat lahan apel yang mengalami kerusakan. Namun setelahnya, dia menjamin kondisi tersebut dapat teratasi. ”Paling tidak bulan Maret ketika berganti musim keadaan itu (kerusakan buah) sudah terputus,” katanya.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) mulai tahun 2020 lalu. Khususnya untuk peremajaan lahan apel dengan menyediakan bibit dan kajian di lapangan. ”Kerja sama itu kami juga memiliki tiga titik demplot (demonstration plot/metode penyuluhan) di Desa Sumbergondo, Bulukerto, dan Tulungrejo,” katanya. Revitalisasi pada tahun lalu sudah dilakukan di enam titik lahan apel yang ada di Kota Batu dengan luas masing-masing titik sekitar 7 hektare. Sementara itu, tahun ini ditargetkan di tujuh titik yang berbeda dengan sebelumnya.

Kemudian, lahan apel dengan kondisi yang kurang baik, contoh sampelnya misal apel dengan penyakit mata ayam, akan dikirim ke Balitjestro untuk dilakukan penelitian sehingga dihasilkan rekomendasi yang ada untuk diterapkan, seperti penggunaan obat pertanian yang cocok. Dispertan juga tengah bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang ada di Serpong, Tangerang Selatan. Terutama untuk menghasilkan varietas apel baru yang ada di Kota Batu. ”Karena di sini perlu penyesuaian lahan apel kembali,” katanya.

Sugeng juga siap membantu pemasaran produk apel asal Kota Batu yang mulai jarang diminati. Pihaknya akan mengajak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu untuk bekerja sama supaya apel Kota Batu dapat terus eksis. ”Nanti hotel dan restoran kami minta untuk membantu membeli buah asal Kota Batu untuk misal dijadikan salah satu menu yang ada,” katanya. Dalam waktu dekat pihaknya juga akan mengundang Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk melihat kondisi lahan apel di Kota Batu sehingga harapannya ada support dari pemerintah pusat.

Saat diwawancarai kemarin (4/2), Sugeng juga menghadirkan beberapa petani apel di kantornya. Salah satunya Utomo yang tergabung dalam Kelompok Tani Maju Bersama, Desa Tulungrejo. Dia mengapresiasi Dispertan Kota Batu yang terus melakukan pendampingan kepadanya. Meski saat ini di lahan apel miliknya hanya 10 persen yang mengalami penyakit busuk buah, tetapi tetap bisa menguntungkan. ”Saya punya lahan tiga tempat ada sekitar total 3.900 meter persegi, alhamdulillah bisa saya kendalikan sendiri,” katanya.

Saat ditanya bagaimana cara mengatasi penyakit busuk buah? Dia menjawab perlu adanya penataan tanah kembali. Tidak dipungkiri penggunaan obat pertanian yang berbahan dari kimia dari dulu berdampak pada sekarang ini. ”Pemulihannya dengan menggunakan pupuk organik,” katanya.

Selain itu, cara lainnya, Utomo menggunakan obat pertanian andalannya. Yakni menggunakan obat insektisida Azteca dan fungisida Antila. Di lahan miliknya terdapat berbagai macam tanaman apel, seperti jenis manalagi, room beauty, dan anna. Dia juga membuka wisata petik apel. (rmc/nug/c1/abm)

KOTA BATU – Persoalan petani apel di Kota Batu kian pelik. Selain daya jual yang cenderung rendah, kini mereka juga dihadapkan dengan penyakit mata ayam pada buah apel. Dampak dari penyakit mata ayam ini yakni buah apel busuk sebelum dipanen.

Kondisi ini membuat Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Batu harus turun tangan. Rencananya, hari ini (5/2) dispertan sudah mulai melakukan kajian untuk mencari penyebab dan solusi pengendalian mata ayam itu. Ada dua titik yang ditinjau sebagai sampel, yakni lahan pertanian apel di lahan milik Kusdiono, di Desa Bulukerto. Luasnya sekitar 3.000 m2. Kemudian juga di lahan milik Utomo, di Desa Sumbergondo. Juga seluas 3.000 m2.

Kepala Dispertan Kota Batu Sugeng Pramono mengatakan, dalam program di tahun ini pihaknya akan melakukan kegiatan pengendalian busuk buah apel. Kegiatan itu sudah berjalan sejak tahun 2019 lalu. Tetapi, belum semua daerah terjangkau sehingga tahun 2021 ini kegiatan tersebut akan dimaksimalkan. Nantinya kajian yang ada dibagi dalam tiga kategori kondisi baik ringan, sedang, maupun berat. ”Untuk kerusakan ringan akan dilakukan penyemprotan obat pertanian berupa fungisida,” katanya.

Sugeng menjelaskan, rata-rata petani apel yang mengalami masalah penyakit busuk buah itu tidak masuk dalam kelompok tani di desanya. Sehingga saat ini pihaknya juga mulai melakukan pendampingan terhadap mereka. ”Tetapi untuk bantuan saprodi (sarana produksi) hanya bisa diberikan kepada petani yang sudah masuk kelompok tani,” katanya.

Sementara itu, lahan yang masuk dalam kategori rusak sedang dan berat akan dilakukan sanitasi. Sanitasi sendiri yakni membersihkan lahan apel dengan membersihkan apel-apel yang terkena penyakit busuk buah. ”Secara mekanismenya diambil apelnya, terus dibenamkan di lubang, diberi komposer, lalu dikubur supaya bisa dijadikan pupuk,” katanya.

Fokus dispertan sendiri secara garis besar untuk saat ini yakni revitalisasi lahan apel. Dia berharap kepada para petani yang mendapatkan support dispertan baik dengan pendampingan dan bantuan fisik seperti pupuk organik dan obat pertanian dapat memanfaatkannya dengan maksimal. ”Sehingga harapannya dengan lahan apel yang mendapatkan nutrisi baik, otomatis kesehatan tanamannya terjaga dan minim akan kerusakan,” katanya.

Menurut dia, pada musim hujan tidak dipungkiri terdapat lahan apel yang mengalami kerusakan. Namun setelahnya, dia menjamin kondisi tersebut dapat teratasi. ”Paling tidak bulan Maret ketika berganti musim keadaan itu (kerusakan buah) sudah terputus,” katanya.

Pihaknya juga bekerja sama dengan Balai Penelitian Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) mulai tahun 2020 lalu. Khususnya untuk peremajaan lahan apel dengan menyediakan bibit dan kajian di lapangan. ”Kerja sama itu kami juga memiliki tiga titik demplot (demonstration plot/metode penyuluhan) di Desa Sumbergondo, Bulukerto, dan Tulungrejo,” katanya. Revitalisasi pada tahun lalu sudah dilakukan di enam titik lahan apel yang ada di Kota Batu dengan luas masing-masing titik sekitar 7 hektare. Sementara itu, tahun ini ditargetkan di tujuh titik yang berbeda dengan sebelumnya.

Kemudian, lahan apel dengan kondisi yang kurang baik, contoh sampelnya misal apel dengan penyakit mata ayam, akan dikirim ke Balitjestro untuk dilakukan penelitian sehingga dihasilkan rekomendasi yang ada untuk diterapkan, seperti penggunaan obat pertanian yang cocok. Dispertan juga tengah bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang ada di Serpong, Tangerang Selatan. Terutama untuk menghasilkan varietas apel baru yang ada di Kota Batu. ”Karena di sini perlu penyesuaian lahan apel kembali,” katanya.

Sugeng juga siap membantu pemasaran produk apel asal Kota Batu yang mulai jarang diminati. Pihaknya akan mengajak Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu untuk bekerja sama supaya apel Kota Batu dapat terus eksis. ”Nanti hotel dan restoran kami minta untuk membantu membeli buah asal Kota Batu untuk misal dijadikan salah satu menu yang ada,” katanya. Dalam waktu dekat pihaknya juga akan mengundang Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk melihat kondisi lahan apel di Kota Batu sehingga harapannya ada support dari pemerintah pusat.

Saat diwawancarai kemarin (4/2), Sugeng juga menghadirkan beberapa petani apel di kantornya. Salah satunya Utomo yang tergabung dalam Kelompok Tani Maju Bersama, Desa Tulungrejo. Dia mengapresiasi Dispertan Kota Batu yang terus melakukan pendampingan kepadanya. Meski saat ini di lahan apel miliknya hanya 10 persen yang mengalami penyakit busuk buah, tetapi tetap bisa menguntungkan. ”Saya punya lahan tiga tempat ada sekitar total 3.900 meter persegi, alhamdulillah bisa saya kendalikan sendiri,” katanya.

Saat ditanya bagaimana cara mengatasi penyakit busuk buah? Dia menjawab perlu adanya penataan tanah kembali. Tidak dipungkiri penggunaan obat pertanian yang berbahan dari kimia dari dulu berdampak pada sekarang ini. ”Pemulihannya dengan menggunakan pupuk organik,” katanya.

Selain itu, cara lainnya, Utomo menggunakan obat pertanian andalannya. Yakni menggunakan obat insektisida Azteca dan fungisida Antila. Di lahan miliknya terdapat berbagai macam tanaman apel, seperti jenis manalagi, room beauty, dan anna. Dia juga membuka wisata petik apel. (rmc/nug/c1/abm)

Wajib Dibaca

Artikel Terbaru

/